Sumber ilustrasi: Magnific
17 Juli 2026 15.10 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [17.07.2026] Manusia kerap dianggap sebagai “super-predator” karena kemampuan berburu, menangkap ikan, dan memasang perangkap dalam skala yang jauh melampaui predator lain di alam. Aktivitas tersebut diketahui mampu mengubah perilaku berbagai spesies hewan, bahkan memengaruhi keseimbangan ekosistem dalam wilayah yang sangat luas. Dalam sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa persepsi satwa liar terhadap manusia ternyata jauh lebih kompleks daripada yang selama ini diperkirakan.
Studi yang dipimpin oleh Centre for Ecological Sciences di Indian Institute of Science (IISc) dan dipublikasikan dalam Ecology Letters menemukan bahwa satwa liar tidak selalu menganggap semua bentuk kehadiran manusia sebagai ancaman yang sama. Hewan menunjukkan respons yang sangat kuat ketika manusia membawa ancaman mematikan, seperti berburu atau menangkap ikan. Sebaliknya, kehadiran manusia yang tidak bersifat mematikan, misalnya wisatawan atau peneliti, sering kali memunculkan respons yang lebih lemah bahkan bervariasi antarspesies.
Penelitian tersebut menggunakan pendekatan meta-analisis dengan mengumpulkan hasil penelitian selama sekitar tiga dekade. Para peneliti membandingkan perubahan perilaku satwa liar dari berbagai spesies dan ekosistem, terutama dalam aktivitas mencari makan, tingkat kewaspadaan, serta pola pergerakan. Analisis ini dilakukan untuk mengetahui apakah manusia benar-benar selalu dipersepsikan sebagai predator paling berbahaya oleh satwa liar.
Penulis utama penelitian, Shawn D’Souza, menjelaskan bahwa hasil analisis menunjukkan jawaban yang tidak sesederhana anggapan umum. Menurut D’Souza, manusia yang berburu atau menangkap ikan memang dipersepsikan sebagai ancaman serius sehingga hewan menjadi lebih waspada dan mengurangi waktu untuk mencari makan. Namun, respons terhadap manusia yang tidak menimbulkan ancaman langsung jauh lebih beragam dan tidak selalu menunjukkan rasa takut yang tinggi.
Salah satu temuan yang cukup mengejutkan adalah bahwa keberadaan infrastruktur manusia, seperti jalan raya dan permukiman, pada beberapa kondisi justru membuat hewan menjadi lebih santai. Para peneliti menemukan bahwa lokasi-lokasi tersebut terkadang berfungsi sebagai tempat perlindungan karena predator alami cenderung menghindari area yang banyak dihuni manusia.
D’Souza menjelaskan bahwa bagi sebagian spesies mangsa, kedekatan dengan aktivitas manusia justru dapat mengurangi risiko diserang predator. Kondisi tersebut menciptakan apa yang disebut sebagai perceived refuge atau tempat yang dipersepsikan lebih aman, meskipun sebenarnya masih memiliki risiko lain.
Rekan penulis penelitian, Maria Thaker, menambahkan bahwa vegetasi terbuka yang sering terdapat di sepanjang jalan juga berperan dalam membentuk perilaku tersebut. Area terbuka menyediakan lokasi yang menarik bagi hewan herbivora untuk mencari makan. Akan tetapi, keuntungan tersebut harus dibayar dengan meningkatnya risiko tertabrak kendaraan.
Penelitian juga menyoroti bahwa perilaku mencari makan, tingkat kewaspadaan, dan pola pergerakan merupakan indikator penting dalam memahami bagaimana satwa menilai suatu ancaman. Setiap waktu yang digunakan hewan untuk mengamati lingkungan merupakan waktu yang tidak dapat digunakan untuk memperoleh makanan. Perubahan pola pergerakan juga memengaruhi penggunaan energi serta kemampuan mencapai sumber makanan, tempat berlindung, maupun lokasi berkembang biak.
Para peneliti menjelaskan bahwa perubahan perilaku tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi peluang bertahan hidup dan keberhasilan reproduksi. Karena alasan tersebut, rasa takut terhadap manusia tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga dapat memengaruhi dinamika populasi satwa dalam jangka panjang.
Temuan penelitian ini secara umum mendukung risk allocation hypothesis, yaitu teori yang menyatakan bahwa hewan menyesuaikan perilakunya berdasarkan tingkat bahaya dan seberapa sering ancaman tersebut muncul. Jika ancaman bersifat berat dan terus-menerus, satwa akan mempertahankan kewaspadaan tinggi. Sebaliknya, apabila ancaman lebih ringan atau dapat diprediksi, hewan cenderung kembali menjalankan aktivitas normal.
Perubahan perilaku tersebut juga memiliki dampak yang lebih luas terhadap ekosistem. Perubahan pola mencari makan, perpindahan lokasi, dan tingkat kewaspadaan dapat memengaruhi pola penggembalaan, hubungan antara predator dan mangsa, hingga stabilitas ekologi secara keseluruhan.
Rekan penulis lainnya, Kartik Shanker, menjelaskan bahwa temuan tersebut dapat memberikan implikasi bagi pengelolaan konflik antara manusia dan satwa liar. Menurut Shanker, dalam kondisi tertentu, tindakan pengurangan populasi (culling) secara terbatas mungkin dapat mencegah satwa memasuki kawasan yang didominasi manusia dengan lebih efektif dibandingkan beberapa metode lain yang selama ini diterapkan.
Meskipun demikian, para peneliti menegaskan bahwa masih diperlukan penelitian lanjutan untuk memahami bagaimana setiap spesies akan merespons ancaman manusia pada berbagai kondisi lingkungan. D’Souza menilai bahwa penelitian di masa depan perlu mengembangkan model prediksi yang mempertimbangkan karakteristik spesies, pengalaman sebelumnya terhadap manusia, keberadaan predator alami, serta struktur bentang alam.
D’Souza juga menambahkan bahwa penelitian jangka panjang dan eksperimen lapangan akan menjadi kunci untuk mengetahui apakah satwa hanya sedang menyesuaikan diri terhadap aktivitas manusia atau justru mengalami perubahan evolusioner yang lebih mendalam akibat tekanan tersebut.
Temuan terbaru menunjukkan bahwa manusia memang dipersepsikan sebagai ancaman besar ketika membawa risiko kematian secara langsung, tetapi tidak semua bentuk kehadiran manusia memicu respons yang sama dari satwa liar. Penelitian ini memperlihatkan bahwa perilaku hewan dipengaruhi oleh tingkat risiko yang mereka rasakan, sehingga pemahaman terhadap interaksi manusia dan satwa perlu mempertimbangkan konteks ekologis yang lebih luas. Hasil tersebut diharapkan dapat membantu mengembangkan strategi konservasi dan pengelolaan konflik manusia-satwa liar yang lebih efektif.
Diolah dari artikel:
“Are humans really the ultimate super-predator?” oleh Indian Institute of Science (IISc). (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/07/260714225540.htm