Sumber ilustrasi: Wikimedia Commons
08 Juni 2026 15.10 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [08.06.2026] Apakah anda pernah menjelajahi suatu gua? Gua merupakan salah satu lingkungan alam yang paling misterius di Bumi. Selain dikenal sebagai ruang bawah tanah yang gelap dan sulit dijangkau, sejumlah gua juga memegang berbagai rekor dunia, mulai dari sistem gua terpanjang hingga gua bawah air terbesar. Akan tetapi pertanyaan mengenai gua terdalam di planet ini ternyata tidak memiliki jawaban yang sepenuhnya pasti. Menurut laporan Live Science, terdapat dua gua yang secara bergantian menduduki posisi teratas sebagai gua terdalam di dunia, yakni Veryovkina dan Krubera-Voronya, yang terletak di Abkhazia, sebuah republik otonom di Republik Georgia.
Kedua gua tersebut memiliki kedalaman lebih dari 2.000 meter dan berada di Pegunungan Gagra yang terpencil. Para ilmuwan dan penjelajah secara berkala memperbarui hasil pengukuran kedalaman kedua gua tersebut sehingga posisi pemegang rekor dapat berubah dari waktu ke waktu.
Berdasarkan daftar gua terdalam dunia yang dikelola oleh ahli geologi Paul Burger dari National Park Service, Veryovkina saat ini tercatat memiliki kedalaman sekitar 2.212 meter, sedangkan Krubera-Voronya mencapai sekitar 2.199 meter. Paul Burger menjelaskan bahwa kedua gua sering dilaporkan dengan margin kesalahan vertikal sebesar puluhan kaki, sehingga perbedaan interpretasi data dapat menyebabkan perubahan posisi antara peringkat pertama dan kedua.
Kedua gua tersebut berada di Arabika Massif, suatu wilayah karst yang terbentuk akibat erosi gletser di kawasan Kaukasus. Lanskap karst sendiri terbentuk dari batuan yang mudah larut seperti marmer, gipsum, dan batu kapur. Dalam kasus Arabika Massif, batuan kapur yang menyusun wilayah tersebut berasal dari periode Jura Akhir hingga Kapur Awal, sekitar 163,5 juta hingga 100,5 juta tahun lalu.
Ahli mikrobiologi dan geologi dari University of Alabama, Hazel Barton, menjelaskan bahwa batu kapur tersebut terbentuk dalam lapisan-lapisan yang kemudian mengalami tekanan tektonik hingga berubah menjadi dinding batu yang hampir tegak lurus. Struktur tersebut memungkinkan air untuk terus mengalir ke bawah melalui retakan-retakan batuan hingga mencapai muka air tanah.
Hazel Barton menggambarkan susunan lapisan batuan tersebut seperti sandwich BLT yang diposisikan secara vertikal. Menurut Hazel Barton, air secara alami akan mencari jalur termudah menuju bagian bawah. Setelah mencapai muka air tanah, air akan bersirkulasi sebagai air tanah melalui sungai dan aliran bawah tanah.
Hazel Barton juga menjelaskan bahwa pembentukan pegunungan berperan penting dalam menghasilkan banyak gua dengan kedalaman ekstrem di kawasan tersebut. Lapisan batu kapur yang hampir vertikal menciptakan jalur lurus bagi air menuju bagian dalam Bumi. Keberadaan dataran tinggi yang luas juga membantu mengumpulkan air dalam jumlah besar sehingga mempercepat proses pembentukan gua.
Lingkungan di dalam gua-gua tersebut sangat keras. Kondisi yang gelap, lembap, dan dingin mendominasi sepanjang tahun. Ana Sofia Reboleira, ahli ekologi bawah tanah dari University of Lisbon di Portugal, menjelaskan bahwa suhu di dalam gua-gua di wilayah tersebut umumnya hanya berkisar antara 2 hingga 3 derajat Celsius.
Kondisi ekstrem tersebut memaksa organisme yang hidup di dalamnya untuk beradaptasi. Semakin dalam suatu gua, semakin sedikit nutrisi yang tersedia. Ana Sofia Reboleira menjelaskan bahwa hewan-hewan penghuni gua memperlambat metabolisme mereka sehingga mampu bertahan lebih lama tanpa makanan dan memiliki umur yang lebih panjang.
Adaptasi fisik juga menjadi ciri khas kehidupan bawah tanah. Banyak hewan penghuni kedalaman gua tidak memiliki pigmen dan mata. Sebagai gantinya, organisme tersebut memiliki antena, rambut, atau anggota tubuh yang lebih panjang untuk membantu mendeteksi getaran udara dan bergerak di dalam kegelapan.
Salah satu penghuni kedalaman gua yang paling menarik adalah sejenis serangga tanpa sayap yang dikenal sebagai springtail. Ana Sofia Reboleira bersama rekan-rekannya menemukan spesies tersebut dalam ekspedisi tahun 2010 di gua Krubera pada kedalaman sekitar 1.980 meter di bawah permukaan.
Spesies tersebut diberi nama Plutomurus ortobalaganensis. Hewan berkaki enam tersebut memakan jamur dan bahan organik yang membusuk. Enam belas tahun setelah penemuannya, spesies tersebut masih memegang rekor sebagai hewan darat terdalam yang pernah ditemukan.
Selain hewan, mikroorganisme bawah tanah juga menunjukkan kemampuan adaptasi yang luar biasa. Hazel Barton menjelaskan bahwa mikroba yang hidup pada kedalaman ekstrem memanfaatkan proses yang disebut kemolitoototrofi. Melalui mekanisme tersebut, mikroorganisme memperoleh energi dengan mengoksidasi batuan di sekitarnya dan mengubahnya menjadi sumber makanan.
Penelitian terhadap lingkungan bawah tanah memberikan kesempatan bagi para ilmuwan untuk memahami proses yang berlangsung jauh di bawah permukaan Bumi. Ana Sofia Reboleira berpendapat bahwa gua merupakan jendela menuju dimensi luas dunia bawah yang masih belum banyak diketahui manusia.
Peran gua ternyata tidak terbatas pada keberadaan organisme unik saja. Sistem bawah tanah tersebut berkontribusi terhadap pemurnian air melalui penyaringan alami pada berbagai lapisan batuan. Gua juga memiliki peranan penting dalam siklus nutrisi dan siklus karbon global.
Menurut Ana Sofia Reboleira, batuan di dalam gua dapat menyimpan karbon, sementara organisme yang hidup di dalamnya mampu mengubah karbon dioksida menjadi materi organik. Proses-proses tersebut menjadikan ekosistem bawah tanah sebagai bagian penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan planet ini.
Para ilmuwan memandang bahwa pemahaman terhadap dunia bawah tanah dapat memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai bagaimana sistem Bumi bekerja. Penelitian terhadap gua-gua terdalam juga membuka peluang untuk mempelajari evolusi kehidupan, proses geologi, hingga mekanisme mikroba yang mampu bertahan dalam kondisi yang sangat ekstrem.
Veryovkina dan Krubera-Voronya menunjukkan bahwa gua terdalam di dunia masih menjadi subjek penelitian yang terus berkembang. Kedua gua tersebut menyimpan lingkungan yang sangat ekstrem sekaligus menjadi habitat bagi organisme yang telah beradaptasi secara unik selama jutaan tahun. Penelitian terhadap dunia bawah tanah tidak hanya membantu memahami struktur geologi Bumi, tetapi juga mengungkap pentingnya ekosistem gua dalam menjaga siklus air, nutrisi, dan karbon yang menopang kehidupan di planet ini.
Diolah dari artikel:
“What’s the deepest cave in the world?” oleh Sara Hashemi. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.livescience.com/planet-earth/whats-the-deepest-cave-in-the-world