Sumber ilustrasi: Unsplash
24 Mei 2026 09.30 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [24.05.2026] Hutan hujan tropis yang lebat selama ini dianggap sebagai salah satu lingkungan paling sulit bagi manusia purba untuk bertahan hidup. Selama beberapa dekade, para ilmuwan meyakini bahwa nenek moyang manusia lebih banyak menghuni padang rumput terbuka dan wilayah pesisir, serta menghindari hutan tropis Afrika hingga periode yang jauh lebih baru. Pandangan tersebut kini mulai dipertanyakan setelah munculnya bukti baru dari Afrika Barat yang menunjukkan gambaran berbeda mengenai kemampuan adaptasi manusia awal.
Penelitian terbaru menemukan bahwa manusia telah hidup di hutan hujan tropis basah sekitar 150.000 tahun lalu. Temuan ini mendorong mundur bukti tertua keberadaan manusia di hutan hujan lebih dari dua kali lipat dari perkiraan sebelumnya. Selain itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa Homo sapiens awal memiliki kemampuan adaptasi yang jauh lebih luas daripada yang selama ini diasumsikan.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nature ini juga memperkuat pandangan bahwa evolusi manusia tidak terjadi dalam satu jenis lingkungan saja. Populasi manusia purba tampaknya berkembang di berbagai ekosistem, mulai dari gurun, wilayah pesisir, hingga hutan tropis yang padat.
Kisah penemuan ini berawal pada dekade 1980-an ketika Profesor Yodé Guédé dari Université Félix Houphouët-Boigny terlibat dalam penelitian di situs arkeologi Bété I di Pantai Gading. Penggalian pada saat itu menemukan lapisan alat batu yang terkubur jauh di bawah tanah di wilayah yang kini merupakan hutan hujan.
Namun pada masa itu, para peneliti belum dapat menentukan usia pasti artefak tersebut maupun kondisi lingkungan saat manusia purba hidup di lokasi tersebut. Situasi berubah ketika tim internasional kembali ke lokasi yang sama dengan menggunakan teknologi modern yang sebelumnya tidak tersedia.
Dr. James Blinkhorn dari University of Liverpool dan Max Planck Institute of Geoanthropology menjelaskan bahwa dengan bantuan Profesor Guédé, tim berhasil menemukan kembali lokasi penggalian asli dan menelitinya ulang menggunakan metode mutakhir. Blinkhorn menyampaikan bahwa pendekatan baru ini memungkinkan analisis yang jauh lebih akurat dibandingkan penelitian sebelumnya.
Penelitian ulang tersebut menjadi sangat penting karena aktivitas pertambangan setelahnya telah menghancurkan situs tersebut, sehingga data yang berhasil dikumpulkan kini menjadi satu-satunya sumber informasi yang tersisa.
Untuk menentukan usia situs, para ilmuwan menggunakan beberapa teknik penanggalan, termasuk Optically Stimulated Luminescence dan Electron-Spin Resonance. Kedua metode tersebut menunjukkan bahwa manusia telah menghuni lokasi tersebut sekitar 150.000 tahun lalu.
Selain itu, para peneliti menganalisis serbuk sari, fitolit, serta jejak kimia dalam sedimen. Hasil analisis menunjukkan bahwa wilayah tersebut pada masa itu merupakan hutan yang lebat. Kandungan serbuk sari dan lilin tumbuhan menunjukkan karakteristik khas hutan hujan Afrika Barat yang lembap, sementara rendahnya jumlah serbuk sari rumput mengindikasikan tidak adanya lingkungan terbuka di sekitarnya.
Dr. Eslem Ben Arous sebagai penulis utama penelitian menjelaskan bahwa sebelum studi ini, bukti tertua keberadaan manusia di hutan hujan Afrika hanya berasal dari sekitar 18.000 tahun lalu. Secara global, bukti tertua sebelumnya berasal dari Asia Tenggara dengan usia sekitar 70.000 tahun. Ben Arous menyampaikan bahwa temuan baru ini mendorong mundur batas waktu tersebut lebih dari dua kali lipat.
Temuan ini memperkuat gagasan bahwa manusia awal merupakan generalis ekologis yang mampu bertahan di berbagai habitat. Fleksibilitas ini diduga menjadi salah satu faktor utama keberhasilan Homo sapiens menyebar ke seluruh dunia, sementara spesies manusia lain mengalami kepunahan.
Diskusi lanjutan dari penelitian ini juga menyoroti tantangan dalam arkeologi hutan hujan. Lingkungan yang panas dan lembap membuat fosil sulit bertahan, sementara vegetasi yang rapat menyulitkan proses penggalian. Kondisi tersebut membuat banyak ilmuwan menduga bahwa masih ada situs-situs yang lebih tua yang belum ditemukan di Afrika.
Selain itu, penelitian ini membuka pertanyaan baru mengenai seberapa lama manusia telah memengaruhi ekosistem tropis. Para peneliti kini mulai mengeksplorasi kemungkinan bahwa manusia purba telah membentuk lingkungan hutan melalui aktivitas berburu, penggunaan api, dan pengelolaan tanaman jauh lebih awal dari yang diperkirakan.
Profesor Eleanor Scerri sebagai penulis senior menyampaikan bahwa bukti yang ada menunjukkan bahwa keberagaman ekologi merupakan inti dari sejarah spesies manusia. Scerri menekankan bahwa sejarah tersebut mencerminkan pembagian populasi yang kompleks, di mana kelompok manusia hidup di berbagai wilayah dan tipe habitat yang berbeda.
Para ilmuwan juga melihat temuan di Pantai Gading sebagai awal dari eksplorasi yang lebih luas. Sejumlah situs lain di wilayah tersebut masih belum banyak diteliti, membuka kemungkinan ditemukannya bukti yang lebih tua mengenai kehidupan manusia di hutan hujan.
Temuan arkeologis di Pantai Gading menunjukkan bahwa manusia telah mampu beradaptasi dengan lingkungan hutan hujan tropis sejak sekitar 150.000 tahun lalu, jauh lebih awal dari perkiraan sebelumnya. Bukti ini mengubah pemahaman tentang evolusi manusia yang selama ini dianggap terbatas pada lingkungan tertentu, serta menegaskan bahwa Homo sapiens memiliki kemampuan adaptasi yang luas terhadap berbagai kondisi ekologis. Penelitian ini juga membuka peluang baru untuk mengeksplorasi peran manusia dalam membentuk ekosistem tropis sejak masa prasejarah.
Diolah dari artikel:
“Lost for 150,000 years: Rainforest discovery upends human history” oleh Max Planck Institute of Geoanthropology. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/05/260519003311.htm