Sumber ilustrasi: Pixabay
20 Juli 2026 12.15 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [20.07.2026] Rasa gatal dapat dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari gigitan serangga, reaksi alergi, hingga peradangan kulit kronis seperti eksim. Tidak semua rasa gatal berasal dari paparan zat kimia. Banyak orang juga pernah merasakan sensasi gatal yang muncul hanya karena sentuhan ringan pada bulu-bulu halus di permukaan kulit. Mekanisme biologis di balik fenomena tersebut masih menjadi misteri selama bertahun-tahun.
Dalam penelitian terbaru dari University of Michigan berhasil mengungkap jalur biologis yang sebelumnya belum pernah diketahui. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Neuron menunjukkan bahwa bulu-bulu halus pada tubuh memiliki hubungan dengan kelompok sel saraf khusus yang secara spesifik bertugas mengirimkan sinyal gatal mekanis menuju sistem saraf. Temuan ini membuka peluang baru dalam pengembangan terapi untuk mengatasi gatal kronis yang selama ini sulit diobati.
Bo Duan, profesor madya di Department of Molecular, Cellular, and Developmental Biology University of Michigan sekaligus pemimpin penelitian, menjelaskan bahwa gatal merupakan salah satu gejala utama pada sebagian besar pasien yang mengalami peradangan kulit kronis. Menurut Duan, tim peneliti berhasil menemukan jalur biologis yang diyakini memiliki peran penting dalam memunculkan sensasi gatal, baik yang bersifat akut maupun kronis.
Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan mengidentifikasi jenis rambut baru pada tikus yang disebut rambut mirip vellus (vellus-like hairs). Rambut ini memiliki karakteristik yang sangat mirip dengan rambut vellus pada manusia, yaitu bulu halus pendek berwarna terang yang menutupi sebagian besar permukaan tubuh atau yang sering disebut sebagai peach fuzz. Rambut tersebut ternyata terhubung dengan sekelompok neuron sensorik yang sangat peka terhadap sentuhan.
Untuk memahami fungsi neuron tersebut, para peneliti menggunakan tikus yang mengalami peradangan kulit kronis sebagai model penyakit yang menyerupai eksim pada manusia. Tikus yang masih memiliki neuron khusus tersebut tetap menggaruk ketika mengalami rasa gatal. Sebaliknya, tikus yang neuronnya dihilangkan atau dinonaktifkan menunjukkan penurunan perilaku menggaruk yang sangat drastis.
Temuan ini menjelaskan mengapa terapi yang tersedia saat ini sering kali efektif mengatasi gatal akibat iritan kimia seperti gigitan nyamuk atau tanaman poison ivy, tetapi jauh kurang berhasil meredakan gatal kronis akibat peradangan kulit. Bo Duan menilai jalur gatal mekanis yang baru ditemukan tersebut dapat menjadi sasaran terapi baru pada masa mendatang. Tim peneliti juga tengah menjalankan sejumlah proyek lanjutan untuk mengeksplorasi kemungkinan tersebut.
Meskipun penelitian dilakukan pada tikus, sejumlah bukti menunjukkan bahwa manusia kemungkinan memiliki sistem biologis yang serupa. Para peneliti menemukan bahwa manusia memiliki gen yang diperlukan untuk membentuk neuron sensorik khusus tersebut. Selain itu, protein yang berfungsi membawa sinyal gatal dari rambut menuju sumsum tulang belakang pada tikus ternyata juga mampu menghasilkan respons serupa ketika diaplikasikan pada neuron manusia yang dikultur di laboratorium.
Menurut Bo Duan, hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa manusia kemungkinan memiliki mekanisme yang sama dalam menghantarkan gatal mekanis. Penelitian tersebut juga memperlihatkan bahwa tubuh memiliki sistem sensorik khusus yang memang didedikasikan untuk menghasilkan jenis sensasi tersebut.
Fenomena ini sebenarnya dapat dirasakan dengan sangat sederhana. Bo Duan menjelaskan bahwa jika ujung tisu digulung menjadi sangat tipis lalu disapukan secara perlahan pada bulu-bulu halus di sekitar bibir, seseorang dapat tiba-tiba merasakan sensasi gatal. Sensasi tersebut muncul ketika yang tersentuh adalah rambut vellus, bukan rambut terminal yang lebih tebal.
Menurut Duan, manusia maupun hewan telah lama diketahui mengalami jenis gatal seperti ini, tetapi mekanisme molekuler dan seluler yang menghubungkan bulu halus dengan munculnya rasa gatal belum pernah dipahami sebelumnya.
Penelitian terbaru berhasil mengidentifikasi jalur sensorik yang menghubungkan rambut-rambut khusus tersebut dengan sistem saraf. Jika digabungkan dengan penelitian sebelumnya dari laboratorium yang sama, temuan ini memberikan gambaran yang jauh lebih lengkap mengenai bagaimana sinyal gatal mekanis dibangkitkan dan diteruskan menuju otak.
Menariknya, rambut mirip vellus pada tikus sebenarnya telah dideskripsikan oleh para ilmuwan lebih dari satu abad yang lalu. Rambut tersebut banyak ditemukan di belakang telinga, bawah bibir, serta pangkal kaki. Meskipun telah lama diketahui keberadaannya, rambut tersebut hampir tidak pernah menjadi fokus penelitian dalam bidang neurobiologi sensorik.
Karena belum tersedia metode baku untuk mempelajari gatal mekanis pada tikus, tim peneliti mengembangkan pendekatan baru. Mereka menggunakan lingkaran kecil dari benang untuk menyentuh rambut-rambut tersebut secara perlahan sehingga memunculkan respons menggaruk. Setelah neuron penyebab respons tersebut berhasil diidentifikasi, neuron-neuron itu dimodifikasi secara genetik agar dapat diaktifkan menggunakan cahaya biru. Penyinaran cahaya biru saja ternyata sudah cukup memicu perilaku menggaruk, sehingga memperkuat bukti bahwa neuron tersebut memang menjadi pemicu utama sensasi gatal mekanis.
Para peneliti juga berusaha menjawab pertanyaan lain, yakni mengapa manusia tidak terus-menerus merasa gatal meskipun hampir seluruh tubuh ditutupi rambut vellus. Berdasarkan penelitian sebelumnya dari laboratorium Bo Duan, sumsum tulang belakang memiliki sirkuit penghambat atau gating circuits yang secara normal menekan sinyal gatal mekanis. Jalur tersebut hanya akan membiarkan sinyal diteruskan menuju otak dalam kondisi tertentu sehingga tubuh tidak terus-menerus merasakan gatal.
Duan menduga rambut-rambut halus tersebut berevolusi sebagai sistem peringatan dini yang membantu mamalia mendeteksi ketika serangga atau parasit menyentuh bagian tubuh yang sensitif, terutama di sekitar mulut dan telinga. Dengan memahami cara kerja sistem sensorik tersembunyi ini, para peneliti berharap dapat mengembangkan pengobatan yang lebih efektif bagi pasien yang mengalami gatal kronis akibat penyakit kulit inflamasi dan belum memperoleh manfaat optimal dari terapi yang tersedia saat ini.
Temuan terbaru menunjukkan bahwa sensasi gatal akibat sentuhan ringan pada bulu halus ternyata dikendalikan oleh jalur saraf khusus yang sebelumnya belum pernah diketahui. Penelitian menjelaskan asal-usul gatal mekanis yang telah lama menjadi misteri dan juga membuka peluang untuk mengembangkan terapi baru bagi penderita gatal kronis dengan menargetkan neuron sensorik yang secara khusus bertanggung jawab dalam menghantarkan sensasi tersebut.
Diolah dari artikel:
“Scientists discover why peach fuzz can suddenly make you itch” oleh University of Michigan. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/07/260712011740.htm