Sumber ilustrasi: Wikimedia Commons
20 Juli 2026 11.55 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [20.07.2026] Senjata merupakan salah satu teknologi paling penting dalam sejarah evolusi manusia. Dalam dunia modern ini, istilah senjata identik dengan senjata api, pisau, hingga rudal modern. Namun jauh sebelum teknologi tersebut muncul, manusia purba telah mengembangkan berbagai alat untuk berburu maupun mempertahankan diri. Pertanyaannya, kapan manusia pertama kali mulai membuat senjata?
Menjawab pertanyaan tersebut ternyata tidaklah mudah. Dalam arkeologi, tidak semua benda tajam atau keras otomatis dianggap sebagai senjata. Para peneliti harus memastikan konteks penggunaannya melalui bukti-bukti seperti sisa hewan buruan, bekas keausan pada permukaan benda, material pembuatnya, hingga lokasi penemuannya. Berdasarkan bukti yang tersedia saat ini, terdapat tiga temuan utama yang dianggap sebagai kandidat senjata tertua di dunia, yakni tombak Clacton, tombak Schöningen, dan mata tombak Kathu Pan 1.
Ben Fitzhugh, profesor antropologi dari University of Washington, menjelaskan bahwa senjata pada dasarnya merupakan benda yang digunakan untuk melakukan kekerasan terhadap makhluk hidup lain. Definisi tersebut mencakup senjata yang dipakai dalam konflik antarmanusia purba maupun untuk berburu hewan.
Rolf Warming, direktur pendiri Society for Combat Archaeology sekaligus kandidat doktor arkeologi di Stockholm University, menambahkan bahwa konteks dan tujuan penggunaan menjadi faktor utama dalam menentukan apakah suatu benda benar-benar merupakan senjata. Para arkeolog akan mencari berbagai petunjuk pendukung, mulai dari tulang hewan dengan bekas penyembelihan, alat pembuat senjata, hingga residu dan pola keausan yang menunjukkan bagaimana benda tersebut pernah digunakan.
Salah satu kandidat terkuat adalah tombak Clacton yang diperkirakan berusia lebih dari 400.000 tahun. Ujung tombak sepanjang sekitar 37 sentimeter ini ditemukan pada tahun 1911 di Clacton-on-Sea, Essex, Inggris. Tombak tersebut dibuat dari kayu yew yang diruncingkan menggunakan alat batu, sementara bagian batang utamanya tidak pernah ditemukan karena diduga patah ketika digunakan atau sengaja dipatahkan sebagai bagian dari suatu ritual.
Saat ini tombak Clacton dipamerkan di Natural History Museum London sebagai fragmen tombak kayu tertua yang masih terawetkan di dunia. Para arkeolog memperkirakan pembuatnya adalah Homo heidelbergensis atau Neanderthal, dua spesies hominin yang hidup sebelum kemunculan Homo sapiens sekitar 300.000 tahun lalu.
Bentuk, ukuran, serta jenis kayu yang digunakan menunjukkan bahwa tombak Clacton merupakan senjata tikam (thrusting spear). Temuan tersebut juga mengindikasikan bahwa manusia purba saat itu telah menerapkan strategi berburu secara berkelompok, sesuatu yang membutuhkan koordinasi dan kerja sama yang cukup kompleks.
Kandidat kedua berasal dari situs Schöningen di Jerman. Sejak tahun 1992, para arkeolog berhasil menemukan sekitar 20 hingga 25 senjata kayu berupa tombak utuh, fragmen tombak, serta tongkat lempar yang sebagian besar dibuat dari kayu cemara dan pinus. Berdasarkan berbagai penelitian, usia senjata-senjata tersebut diperkirakan berkisar antara 200.000 hingga 300.000 tahun.
Pada awalnya, senjata Schöningen dianggap sebagai hasil karya Homo heidelbergensis. Namun, penelitian terbaru pada tahun 2025 menunjukkan kemungkinan bahwa beberapa di antaranya justru dibuat oleh Neanderthal. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa teknologi pembuatan senjata mungkin diwariskan atau berkembang lintas spesies manusia purba.
Tombak Schöningen memiliki panjang rata-rata lebih dari dua meter dan diperkirakan digunakan baik sebagai tombak tikam maupun tombak lempar untuk berburu mamalia besar seperti kuda. Sementara itu, tongkat lempar yang panjangnya sekitar 65 sentimeter diyakini berfungsi sebagai senjata proyektil.
Ben Fitzhugh menjelaskan bahwa senjata-senjata Schöningen ditemukan bersama sisa-sisa kuda yang telah disembelih. Ujung tombaknya dibuat tajam, diperkeras, bahkan dihitamkan menggunakan api. Menurut Fitzhugh, seluruh proses pembuatannya menunjukkan tingkat kecanggihan teknis yang sangat tinggi untuk ukuran manusia purba.
Rolf Warming menilai bahwa senjata Schöningen memperlihatkan pemahaman mendalam manusia purba mengenai karakteristik material kayu serta kemampuan memilih teknik berburu yang berbeda sesuai dengan jarak terhadap sasaran.
Kandidat ketiga adalah mata tombak batu dari situs Kathu Pan 1 di Afrika Selatan yang diperkirakan berusia sekitar 500.000 tahun. Mata tombak ini memperlihatkan bekas keausan pada bagian tepi serta bentuk pangkal yang sesuai dengan karakteristik tombak bertangkai (hafted spear), yaitu mata tombak batu yang dipasang pada gagang kayu.
Usia temuan tersebut jauh lebih tua dibandingkan Neanderthal maupun Homo sapiens. Karena ditemukan di wilayah yang pernah dihuni Homo heidelbergensis, para peneliti menduga spesies tersebut merupakan pembuatnya. Mata tombak ini diperkirakan digunakan sebagai senjata penyergapan ketika berburu.
Namun demikian, sebagian ilmuwan masih memperdebatkan interpretasi tersebut. Tidak ditemukannya batang kayu yang terpasang pada mata tombak membuat sebagian peneliti menganggap bukti tersebut masih bersifat tidak langsung sehingga belum dapat dipastikan sepenuhnya sebagai senjata.
Menurut Warming, kemungkinan besar terdapat senjata yang jauh lebih tua daripada ketiga temuan tersebut. Manusia purba diduga menggunakan berbagai bahan organik seperti kayu, serat tumbuhan, urat hewan, maupun perekat alami untuk membuat senjata. Sayangnya, bahan-bahan tersebut mudah membusuk sehingga hampir tidak pernah bertahan selama ratusan ribu tahun di dalam tanah.
Mempelajari senjata-senjata purba tidak hanya memberikan informasi mengenai aktivitas berburu. Warming menjelaskan bahwa senjata juga menjadi bukti bagaimana manusia purba mampu menggabungkan berbagai material, menggunakan imajinasi, berbagi pengetahuan, serta bekerja sama dalam kelompok untuk meningkatkan peluang bertahan hidup.
Berdasarkan seluruh bukti arkeologi yang tersedia saat ini, tombak Clacton masih dianggap sebagai kandidat paling kuat untuk menyandang gelar senjata tertua yang diketahui di dunia. Meskipun berbagai temuan lain menunjukkan teknologi berburu manusia purba telah berkembang sangat kompleks sejak ratusan ribu tahun lalu, kemungkinan masih terdapat senjata yang lebih tua yang belum ditemukan atau telah hancur karena terbuat dari bahan organik yang tidak mampu bertahan hingga masa kini.
Diolah dari artikel:
“What’s the oldest weapon in the world?” oleh Isabel Gil. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.livescience.com/archaeology/whats-the-oldest-weapon-in-the-world