Sumber ilustrasi: Freepik
9 September 2025 08.50 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [09.09.2025] Kebiasaan membaca di toilet bukanlah hal baru, namun kehadiran smartphone telah memperpanjang waktu yang dihabiskan seseorang di kloset secara signifikan. Meskipun tampak sepele, kebiasaan ini berpotensi menimbulkan masalah kesehatan serius. Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa penggunaan ponsel saat buang air besar dapat meningkatkan risiko wasir hingga 46 persen. Kondisi ini disebabkan oleh tekanan berlebih pada pembuluh darah di area rektum yang terjadi selama duduk dalam waktu lama.
Wasir adalah pembengkakan pembuluh darah di bagian bawah rektum yang umumnya dipicu oleh mengejan atau duduk terlalu lama saat buang air besar. Di Amerika Serikat saja, sekitar 4 juta kunjungan ke dokter dan ruang gawat darurat setiap tahunnya berkaitan dengan kondisi ini. Meskipun begitu, data nasional terbaru mengenai prevalensi wasir belum tersedia sejak survei terakhir dilakukan pada tahun 1989.
Penelitian yang dipimpin oleh Trisha Satya Pasricha, seorang gastroenterolog dari Beth Israel Deaconess Medical Center di Boston, melibatkan 125 partisipan yang tengah menjalani prosedur kolonoskopi. Dari seluruh responden, lebih dari 40 persen terdeteksi memiliki wasir. Yang menarik, sebanyak 93 persen dari mereka mengaku menggunakan ponsel di toilet setidaknya sekali dalam seminggu.
Dalam kelompok pengguna ponsel tersebut, sekitar setengahnya menghabiskan waktu dengan membaca berita, 44 persen membuka media sosial, dan 30 persen lainnya menggunakan waktu tersebut untuk berkirim pesan atau email. Beberapa responden juga melaporkan bahwa mereka berada di toilet selama lebih dari enam menit, dan mayoritas meyakini bahwa durasi tersebut meningkat akibat penggunaan smartphone.
Hasil ini memperlihatkan bahwa ponsel tidak hanya memengaruhi waktu tidur atau interaksi sosial di meja makan, tetapi juga kebiasaan di kamar mandi. Menurut Alex Beattie, seorang ilmuwan digital dari Victoria University of Wellington yang tidak terlibat dalam studi, ponsel telah menyusup hingga ke ruang paling pribadi dan mulai berdampak pada aspek kesehatan yang sebelumnya jarang disadari.
Meskipun penelitian ini masih bersifat observasional dan belum dapat menyimpulkan hubungan sebab-akibat, temuan ini memperkuat dugaan bahwa durasi buang air besar yang berkepanjangan dapat menjadi faktor risiko wasir. Sebelumnya, sejumlah studi telah mengaitkan aktivitas duduk lama di toilet dengan pelebaran pembuluh darah di area anus dan rektum, yang pada akhirnya memicu pembengkakan.
Wasir terbentuk dari jaringan pembuluh darah, otot polos, dan jaringan ikat yang berada di rektum bawah. Normalnya, struktur ini membantu proses buang air besar, namun saat membengkak atau berdarah, kondisinya berubah menjadi masalah medis. Para ahli menduga bahwa mengejan terlalu keras, frekuensi buang air tinggi, dan durasi duduk yang lama merupakan faktor utama penyebabnya.
Dalam studi lain terhadap 100 pasien penderita wasir, ditemukan bahwa mereka menghabiskan lebih banyak waktu membaca di toilet dibandingkan dengan kelompok kontrol yang tidak mengalami wasir. Oleh karenanya beberapa dokter menyarankan agar waktu buang air besar tidak lebih dari 10 menit, bahkan ada yang merekomendasikan durasi maksimal hanya tiga menit.
Penggunaan koran atau buku di toilet memang telah lama ada, tetapi ponsel menghadirkan tingkat gangguan yang jauh lebih tinggi. Dengan kemampuan menarik perhatian melalui notifikasi, media sosial, dan akses tanpa batas ke informasi, ponsel cenderung memperpanjang waktu buang air secara signifikan. Hal ini menimbulkan potensi tekanan berlebih pada pembuluh darah rektum tanpa disadari.
Pasricha menekankan bahwa meskipun hubungan langsung antara penggunaan ponsel di toilet dan wasir belum dapat dipastikan secara ilmiah, menghindari smartphone saat buang air besar merupakan langkah yang aman dan masuk akal. Menurutnya, menyelesaikan buang air secepat mungkin seharusnya menjadi prioritas, bukan aktivitas scroll yang mengalihkan perhatian.
Temuan dari penelitian ini mengindikasikan bahwa penggunaan ponsel di toilet dapat menjadi faktor risiko signifikan terhadap wasir, khususnya karena memperpanjang waktu duduk yang menyebabkan tekanan berlebih pada pembuluh darah di rektum. Meskipun masih bersifat observasional, data yang diperoleh cukup kuat untuk menimbulkan kewaspadaan terhadap kebiasaan toilet scrolling yang semakin umum terjadi.
Sampai ada penelitian lanjutan dengan metode eksperimental, anjuran terbaik saat ini adalah membatasi waktu di toilet dan meninggalkan ponsel di luar kamar mandi. Menjaga waktu buang air tetap singkat dan fokus dapat membantu mengurangi risiko gangguan kesehatan yang selama ini mungkin tidak disadari.
Diolah dari artikel:
“Using Your Phone on The Toilet May Dramatically Increase Your Risk of Hemorrhoids” oleh Carly Cassella.