Sumber ilustrasi: Unsplash
10 September 2025 12.05 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Christopher Depner, peneliti tidur dari Universitas Utah yang tidak terlibat dalam studi ini, menanggapi bahwa hasil tersebut menunjukkan adanya kemungkinan hubungan antara tidur tambahan dan penurunan kecemasan. Dirinya juga menekankan bahwa tanpa studi eksperimental, kesimpulan sebab-akibat belum bisa dipastikan.
Menurut Depner, studi eksperimental yang secara langsung mengatur jadwal tidur peserta dan kemudian mengukur efeknya terhadap kesehatan mental akan memberikan kejelasan lebih mengenai pengaruh tidur terhadap kecemasan maupun depresi.
Penelitian ini juga menimbulkan pertanyaan tambahan: mengapa tidur lebih dari dua jam justru meningkatkan kecemasan? Salah satu hipotesis yang diajukan adalah konsep “jet lag sosial”, yang merupakan suatu kondisi di mana jam biologis tubuh tidak selaras dengan jadwal tidur aktual akibat perbedaan besar antara waktu tidur hari kerja dan akhir pekan.
Jet lag sosial dapat menyebabkan kantuk berlebih, kebingungan mental, dan gangguan fokus. Walaupun tidak diuji secara langsung dalam studi ini, peneliti menduga kondisi ini menjadi salah satu pemicu naiknya tingkat kecemasan pada mereka yang tidur terlalu lama saat akhir pekan.
Menariknya, tidak ditemukan hubungan kuat antara tidur balasan dan gejala depresi. Peneliti menduga hal ini karena depresi umumnya muncul di usia remaja akhir, sementara kecemasan cenderung berkembang lebih awal, seperti pada kelompok usia yang menjadi fokus dalam studi ini.

Langkah selanjutnya dalam penelitian ini adalah memperluas cakupan usia partisipan ke remaja yang lebih tua untuk melihat apakah pengaruh terhadap depresi mulai muncul. Dengan begitu, hubungan antara tidur akhir pekan dan keseluruhan kesehatan mental bisa dipahami secara lebih menyeluruh.
Peneliti juga menyampaikan bahwa remaja tidak perlu khawatir jika merasa perlu tidur lebih lama saat akhir pekan. Tambahan tidur dapat membantu meredakan kecemasan, asalkan tidak melebihi batas yang sehat.
Penelitian terbaru yang mengamati pola tidur dan kesehatan mental remaja menunjukkan bahwa tidur tambahan di akhir pekan, jika dilakukan secara moderat (kurang dari dua jam), berkaitan dengan tingkat kecemasan yang lebih rendah. Sebaliknya, tidur yang terlalu lama justru berpotensi meningkatkan kecemasan, kemungkinan besar karena gangguan ritme biologis yang dikenal sebagai jet lag sosial. Studi ini mengisi kekosongan penting dalam penelitian sebelumnya yang lebih banyak menyoroti hubungan antara tidur dan depresi, bukan kecemasan.
Meskipun penelitian ini bersifat observasional dan belum dapat menyimpulkan hubungan sebab-akibat, temuan ini memberikan petunjuk penting mengenai perlunya keseimbangan dalam kebiasaan tidur remaja. Tidur tambahan bisa menjadi strategi sederhana untuk mendukung kesehatan mental, asal tidak berlebihan. Studi lanjutan dengan pendekatan eksperimental sangat diperlukan untuk memperjelas sejauh mana tidur memengaruhi kecemasan dan aspek kesehatan mental lainnya.
Diolah dari artikel:
“Sleeping in — but not too much — may ease anxiety” oleh Alison Pearce Stevens.
Link: https://www.snexplores.org/article/weekend-sleeping-in-teens-anxiety