Lempengan Batu Mesir Kuno Bergambar Kaisar Romawi Sebagai Firaun Ditemukan di Luxor

Sumber ilustrasi: Wikimedia Commons
14 April 2026 08.05 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [14.04.2026] Penemuan arkeologi terbaru di Kompleks Kuil Karnak mengungkap sebuah monumen berbentuk lempengan batu atau yang disebut stela berusia sekitar 2.000 tahun yang menggambarkan kaisar Romawi Tiberius dalam wujud firaun. Artefak ini ditemukan selama proses restorasi di kawasan Luxor, yang pada masa kuno dikenal sebagai Thebes.

Stela berbentuk persegi panjang ini berukuran sekitar 60 x 40 sentimeter dan berasal dari masa pemerintahan Tiberius antara tahun 14 hingga 37 Masehi. Penemuan tersebut menunjukkan bagaimana kekuasaan Romawi di Mesir tidak hanya berlangsung secara administratif, tetapi juga beradaptasi dengan sistem kepercayaan lokal. Pada periode itu, Mesir telah menjadi bagian dari Kekaisaran Romawi selama 44 tahun sejak penaklukan oleh Augustus.

Relief pada stela memperlihatkan Tiberius berdiri di hadapan tiga dewa utama yang disembah di Luxor, yaitu Amun, Mut, dan Khonsu. Representasi ini memperlihatkan integrasi simbolis antara kekuasaan Romawi dan tradisi religius Mesir.

Dalam kepercayaan Mesir kuno, penguasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga ma’at, yaitu prinsip keteraturan kosmik yang menjadi dasar keseimbangan dunia. Menurut Abdelghaffar Wagdy, yang menjabat sebagai direktur umum Purbakala Luxor sekaligus salah satu pimpinan Pusat Arkeologi Mesir-Prancis, peran ini mengharuskan penguasa ditampilkan dalam bentuk yang dikenali oleh para dewa, yaitu sebagai firaun yang menjalankan ritual tradisional.

Penggambaran pada stela menunjukkan Tiberius memberikan persembahan kepada para dewa, yang menandakan pemenuhan kewajiban terhadap tatanan ilahi setempat. Triad Amun, Mut, dan Khonsu juga merepresentasikan struktur keluarga ilahi (ayah, ibu, dan anak) yang mencerminkan konsep kekuasaan kerajaan, sehingga memperkuat legitimasi simbolis kaisar di Mesir.

Adaptasi visual ini merupakan bagian dari strategi politik dan religius yang lebih luas. Kaisar Romawi sering digambarkan dalam gaya Mesir dalam konteks keagamaan, namun tetap mempertahankan identitas Romawi dalam media resmi seperti koin dan patung yang menunjukkan adanya pendekatan dual dalam representasi kekuasaan.

Integrasi Mesir ke dalam Kekaisaran Romawi berkaitan erat dengan konflik antara Mark Antony, Cleopatra VII, dan Augustus. Setelah kemenangan Augustus dalam Pertempuran Actium, Mesir resmi menjadi provinsi Romawi. Pada masa berikutnya, Tiberius memerintah wilayah tersebut melalui perwakilan tanpa pernah datang langsung, sebuah praktik yang umum dilakukan oleh kaisar Romawi.

Selain sebagai objek religius, stela ini juga memiliki fungsi administratif dan arsitektural. Terdapat lima baris hieroglif yang menjelaskan renovasi dinding kuil Kuil Amun-Ra. Analisis menunjukkan bahwa stela kemungkinan awalnya dipasang sebagai penanda tetap pada dinding gerbang untuk memperingati pekerjaan restorasi tersebut.

Penemuan stela di Luxor menunjukkan bagaimana kekuasaan Romawi mengadopsi simbolisme religius Mesir untuk memperkuat legitimasi politik, dengan menggambarkan Tiberius sebagai firaun yang menjalankan fungsi kosmik dan ritual, sekaligus mencerminkan integrasi budaya yang kompleks antara sistem kekaisaran Romawi dan tradisi lokal Mesir.

Diolah dari artikel:
“Ancient Egyptian stone monument depicting a Roman emperor as a pharaoh discovered in Luxor” oleh Margherita Bassi. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.livescience.com/archaeology/ancient-egyptians/ancient-egyptian-stone-monument-depicting-a-roman-emperor-as-a-pharaoh-discovered-in-luxor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *