Sumber ilustrasi: Pixabay
15 April 2026 13.05 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [15.04.2026] Terapi kanker modern memiliki kecenderungan berfokus pada meningkatkan kemampuan kekebalan tubuh untuk mengenali sel kanker dan kemudian menghancurkannya. Salah satu komponen utama dari sistem ini adalah sel T yang memiliki peran mendeteksi dan menyerang sel-sel yang berbahaya bagi tubuh.
Berbagai cara dan pendekatan tengah dikembangkan guna meningkatkan efektifitas dari sel T tersebut. Kini para ilmuwan menemukan cara agar efektifitas dari sel T ini meningkat. Dengan memblok protein yang dikenal sebagai protein Ant2, para ilmuwan dapat mengubah bagaimana sel-sel T ini diproduksi dan menggunakan energi mereka. Transformasi ini membuat sel T lebih aktif, kebal, dan lebih sesuai untuk menghancurkan sel-sel tumor di tubuh manusia. Hasil penelitian ini membuka suatu bengobatan baru yang dimana berfokus pada meningkatkan sistem kekebalan tubuh secara keseluruhan yang dipandang lebih akurat dalam terapi penghilangan kanker.
Dalam studi yang dipimpin oleh mahasiswa PhD, Omri Yosef dan Prof. Michael Berger dari Fakultas Kedokteran Hebrew University yang bekerja sama dengan Prof. Magdalena Huber dari Philipps University of Marburg dan Prof. Eyal Gottlieb dari University of Texas MD Anderson Cancer Center. Tim internasional ini menunjukkan dalam studi mereka bahwa mengatur bagaimana sel imun menerima energi dapat meningkatkan kemampuannya untuk menghancurkan sel kanker. Ide utama mereka adalah ketika sel T, yang memiliki peran kunci dalam sistem pertahanan imun dipaksa untuk mengubah cara mereka mengkonversi energi, dan dengan demikian memiliki kemampuan lebih dalam mendeteksi dan mengeliminasi sel kanker
Prof. Berger mengatakan bahwa dengan menghentikan Ant2, mereka berhasil merubah bagaimana sel T diproduksi dan menggunakan energinya. Cara yang serupa dengan pemprograman ulang ini membuat mereka lebih baik dalam mendeteksi sel kanker yang kemudian juga mereka bunuh. Secara sederhana, dengan mematikan protein Ant2 ini, sel T mengalami transformasi yang membuat mereka lebih efektif sebagai sel pertahanan terhadap kanker.
Studi yang di publikasikan di Nature Communications ini berfokus pada mitokondria, atau yang dikenal sebagai “pusat pengaturan” dari sel-sel, secara khusus pada distrupsi akan salah satu bagian yang merupakan sumber saluran energi sel T. Dengan mendistrupsi bagian ini, para peneliti dapat secara efektif mengatur ulang mesin internal sel T dan meningkatkan kemampuan mereka dari segi ketahanan, bertambah lebih cepat dan juga dapat mengidentifikasi secara akurat sel kanker di tubuh.
Akan tetapi salah satu temuan terpenting studi ini adalah: modifikasi metabolik ini tidak hanya dapat dicapai melalui rekayasa genetic, namun juga dapat dilakukan melalui obat, yang membuka pintu untuk bentuk terapi kanker baru dan memperluas imunoterapi kanker. Meski masih banyak studi dan uji coba yang perlu dilakukan untuk dapat secara tepat menghasilkan obat ini, hasil yang didapat pada akhirnya membuka potensi bahwa tubuh manusia secara umum dapat ditingkatkan agar dapat melawan sel kanker secara mandiri tanpa bantuan dari luar tubuh.
Studi ini menunjukkan bahwa Metabolime dan imun tubuh sangatlah terkoneksi dan mempelajari bagaimana mengkontrol sumber energi dari sel imun dapat memberikan suatu opsi terapi yang jauh lebih natural dan lebih efektif dikarena keduanya merupakan kerja dari tubuh manusia itu sendiri.
Pemblokiran protein Ant2 terbukti mampu mengubah sistem metabolisme sel T sehingga meningkatkan aktivitas, daya tahan, serta efektivitasnya dalam menyerang sel kanker, sekaligus membuka peluang pengembangan terapi imun berbasis pengaturan energi sel yang berpotensi lebih presisi dan dapat diterapkan melalui pendekatan farmakologis di masa depan.
Diolah dari artikel:
“Blocking a single protein supercharges the immune system against cancer” pleh Hebrew University of Jerusalem. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/04/260414090114.htm