Spons “Ajaib” Sumber Mikroplastik?

Sumber ilustrasi: Pixabay
19 April 2026 16.10 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [19.04.2026] Mikroplastik belakangan ini menjadi topi pembicaraan hangat di komunitas ilmuwan dikarenakan kekhawatiran besar akan dampak mikroplastik terhadap lingkungan secara luas. Partikel plastik berukuran sangat kecil ini diketahui berasal dari berbagai sumber, mulai dari pakaian sintetis hingga produk rumah tangga. Mikroplastik dapat masuk ke sistem perairan, tertelan oleh organisme, dan berpotensi bergerak dalam rantai makanan hingga mencapai manusia. Pada kenyataannya tidak semua sumber mikroplastik mudah dikenali dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam sebuah studi terbaru dari American Chemical Society, perhatian kini tertuju pada spons pembersih berbahan melamin yang sering digunakan di rumah. Penelitian yang dipublikasikan dalam ACS Environmental Science & Technology menunjukkan bahwa spons ini dapat melepaskan lebih dari satu triliun serat mikroplastik setiap bulan secara global. Temuan ini menempatkan produk rumah tangga sederhana sebagai salah satu kontributor signifikan terhadap polusi mikroplastik.

Spons melamin dikenal oleh karena kemampuannya menghilangkan noda tanpa bahan kimia tambahan. Material ini tersusun dari polimer poli(melamin-formaldehida) yang membentuk struktur seperti jaring dengan sifat abrasif tinggi. Struktur tersebut bekerja menyerupai amplas halus yang mampu mengikis kotoran dari berbagai permukaan. Akan tetapi proses pengikisan tersebut juga menyebabkan material spons ikut terdegradasi selama penggunaan.

Seiring waktu, bagian kecil dari spons akan terlepas dan terurai menjadi serat mikroplastik. Partikel ini kemudian dapat terbawa air saat proses pembilasan dan masuk ke sistem air limbah. Dalam beberapa kasus, instalasi pengolahan air tidak mampu sepenuhnya menyaring partikel tersebut, sehingga mikroplastik dapat mencapai sungai, danau, hingga laut. Dampak lanjutan mencakup potensi tertelannya mikroplastik oleh organisme air yang kemudian berlanjut dalam rantai makanan.

Penelitian ini dilakukan dengan menguji beberapa merek spons melalui simulasi penggunaan nyata. Para peneliti menggosok spons pada permukaan kasar untuk meniru proses pembersihan sehari-hari. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kepadatan material menjadi faktor penting dalam menentukan ketahanan spons. Spons dengan struktur lebih padat cenderung lebih tahan lama dan menghasilkan lebih sedikit serat mikroplastik dibandingkan versi yang lebih ringan.

Analisis lebih lanjut memperkirakan bahwa satu spons dapat melepaskan sekitar 6,5 juta serat mikroplastik untuk setiap gram material yang hilang. Dengan asumsi bahwa spons kehilangan sekitar 10 persen massanya selama penggunaan, jumlah serat yang dilepaskan menjadi sangat signifikan ketika dikalikan dengan skala penggunaan global. Perhitungan berbasis data penjualan menunjukkan angka sekitar 1,55 triliun serat mikroplastik per bulan, meskipun angka sebenarnya diperkirakan lebih tinggi.

Temuan ini mendorong pertimbangan terhadap desain produk yang lebih ramah lingkungan. Peningkatan kepadatan dan daya tahan spons dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi laju pelepasan mikroplastik. Selain itu, penggunaan alternatif berbahan alami serta peningkatan teknologi filtrasi air juga dapat membantu menekan jumlah partikel yang masuk ke lingkungan.

Penelitian ini juga memperluas pemahaman tentang sumber mikroplastik yang sebelumnya kurang diperhatikan. Produk rumah tangga yang tampak sederhana ternyata dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap masalah lingkungan global. Dengan meningkatnya kesadaran terhadap isu ini, langkah mitigasi dapat mulai diterapkan baik dari sisi produsen maupun konsumen.

Temuan terbaru menunjukkan bahwa spons melamin, yang selama ini dikenal sebagai alat pembersih efektif, dapat menjadi sumber besar mikroplastik melalui proses degradasi selama penggunaan. Pelepasan serat dalam jumlah besar berpotensi mencemari lingkungan perairan dan masuk ke rantai makanan, sehingga mendorong perlunya inovasi material, perubahan perilaku konsumsi, serta peningkatan sistem pengolahan limbah untuk mengurangi dampaknya.

Diolah dari artikel:
“Common cleaning sponge found to release trillions of microplastic fibers” oleh American Chemical Society. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/04/260417085404.htm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *