Ancaman Laut yang Semakin Hangat pada Hiu dan Tuna

Sumber ilustrasi: Unsplash
19 April 2026 16.35 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [19.04.2026] Dengan semakin meningkatnya suhu bumi oleh karena perubahan iklim, laut kita pun juga mengalami penaikan suhu. Keadaan ini dipandang para ilmuwan dapat memengaruhi tingkat distribusi dan perilaku hewan-hewan laut. Banyak spesies ikan diketahui bergantung pada suhu lingkungan untuk mengatur fungsi tubuh, terutama pada kelompok berdarah dingin. Akan tetapi sebagian kecil ikan seperti hiu dan tuna memiliki kemampuan mempertahankan suhu tubuh lebih tinggi dari lingkungannya, yang memberi keunggulan dalam kecepatan dan kemampuan berburu. Namun demikian, kemampuan ini juga menuntut kebutuhan energi yang lebih besar dan berpotensi menimbulkan tekanan tambahan ketika kondisi lingkungan berubah.

Dalam penelitian terbaru yang dipublikasikan di Science, tim ilmuwan yang dipimpin oleh Trinity College Dublin bekerja sama dengan University of Pretoria menemukan bahwa ikan berdarah hangat seperti tuna dan beberapa spesies hiu, termasuk hiu putih besar, memiliki laju metabolisme jauh lebih tinggi dibandingkan ikan berdarah dingin dengan ukuran serupa. Penelitian menunjukkan bahwa kelompok ikan yang dikenal sebagai mesotermik ini menggunakan energi sekitar 3,8 kali lebih besar, yang berarti kebutuhan makan juga meningkat secara signifikan.

Kelompok mesotermik merupakan bagian kecil dari seluruh spesies ikan, dengan proporsi kurang dari 0,1 persen. Kemampuan mempertahankan panas tubuh berkembang secara independen pada beberapa spesies, memberikan keuntungan berupa kecepatan tinggi, mobilitas jarak jauh, dan efisiensi dalam berburu. Untuk memahami konsekuensi dari adaptasi ini, para peneliti menggunakan teknologi biologging berupa sensor kecil yang merekam suhu tubuh dan suhu air secara langsung. Data tersebut kemudian dikombinasikan dengan hasil pengukuran laboratorium untuk menghasilkan estimasi yang lebih akurat terkait produksi dan pelepasan panas.

Analisis menunjukkan bahwa peningkatan suhu tubuh sebesar 10 derajat Celsius dapat menggandakan laju metabolisme ikan. Kondisi ini membuat predator laut tersebut harus mengonsumsi makanan dalam jumlah lebih besar untuk mempertahankan aktivitasnya. Di tengah berkurangnya ketersediaan makanan akibat tekanan lingkungan dan aktivitas manusia, kebutuhan energi yang tinggi menjadi faktor risiko tambahan.

Selain kebutuhan energi, ukuran tubuh juga memainkan peran penting dalam risiko panas berlebih. Tubuh yang lebih besar cenderung menghasilkan panas lebih cepat dibandingkan kemampuannya untuk melepaskan panas tersebut. Fenomena ini dipengaruhi oleh prinsip fisika dasar, di mana massa yang lebih besar menyimpan panas lebih efektif. Pada ikan mesotermik, efek ini semakin diperkuat oleh metabolisme tinggi yang dimiliki.

Sebagai akibatnya ikan berukuran besar menjadi semakin rentan terhadap kondisi panas berlebih seiring pertumbuhannya. Peneliti kemudian mengidentifikasi ambang batas suhu tertentu, yang disebut sebagai batas keseimbangan panas, di mana ikan tidak lagi mampu menjaga suhu tubuh stabil tanpa melakukan penyesuaian perilaku atau fisiologi. Sebagai contoh, hiu dengan berat sekitar satu ton diperkirakan mulai mengalami kesulitan mempertahankan keseimbangan panas pada suhu air di atas 17 derajat Celsius.

Ketika melewati batas tersebut, ikan harus mengurangi aktivitas, mengubah sirkulasi darah, atau berpindah ke perairan yang lebih dalam dan lebih dingin. Strategi ini membawa konsekuensi, terutama dalam hal mencari dan menangkap mangsa. Predator yang mengandalkan kecepatan dan kekuatan akan kehilangan keunggulan jika harus beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang kurang ideal.

Temuan ini juga menjelaskan pola distribusi ikan besar yang cenderung berada di perairan dingin, lintang tinggi, atau kedalaman laut tertentu. Banyak spesies melakukan migrasi musiman untuk tetap berada dalam rentang suhu yang sesuai. Dengan meningkatnya suhu global, wilayah habitat yang cocok diperkirakan akan semakin menyempit, terutama pada musim panas.

Penelitian juga menyoroti bahwa tekanan terhadap spesies ini tidak hanya berasal dari suhu, tetapi juga dari faktor lain seperti penangkapan berlebihan dan berkurangnya populasi mangsa. Kombinasi antara kebutuhan energi tinggi dan keterbatasan sumber daya menciptakan kondisi yang semakin sulit bagi predator laut tersebut.

Bukti dari catatan fosil menunjukkan bahwa spesies laut berdarah hangat di masa lalu mengalami dampak besar selama perubahan iklim. Kondisi saat ini yang ditandai dengan perubahan suhu yang lebih cepat meningkatkan kekhawatiran terhadap masa depan spesies modern. Para peneliti menilai bahwa memahami keterbatasan fisiologis ini menjadi kunci dalam memprediksi perubahan ekosistem laut di masa mendatang.

Penelitian ini mengungkap bahwa ikan mesotermik seperti hiu dan tuna menghadapi tekanan ganda berupa peningkatan suhu laut dan kebutuhan energi tinggi, yang meningkatkan risiko panas berlebih serta mempersempit habitat yang sesuai, sehingga memperbesar tantangan kelangsungan hidup di tengah perubahan iklim dan penurunan ketersediaan makanan.

Diolah dari artikel:
“Sharks and tuna are overheating and running out of options” oleh Trinity College Dublin. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/04/260417224459.htm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *