Terdapat Gen yang Membantu Memperbaiki Otak?

Sumber ilustrasi: Pixabay
17 April 2026 14.45 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [17.04.2026] Otak manusia merupakan salah satu topik penting terkait dengan kesehatan jangka panjang manusia. Banyak ilmuwan masih mencari cara untuk semakin mengembangkan cara untuk memperbaiki kerusakan pada otak manusia, Kerusakan pada sistem saraf, khususnya pada lapisan pelindung serabut saraf yang disebut mielin, dapat menyebabkan gangguan serius seperti multiple sclerosis dan cerebral palsy. Mereka kemudian melihat ke adaptasi genetik yang ada di dunia hewan. Hewan-hewan seperti yak dan antelop Tibet, yang keduanya hidup di daerah yang redah oksigen yang dipandang para ilmuwan sebagai suatu cara pandang baru untuk memperbaiki otak.

Dalam penelitian terbaru dituliskan bahwa adaptasi genetik pada hewan-hewan ini dapat memperbaiki kerusakan pada insulasi saraf dalam kondisi-kondisi seperti lupuh celebral dan multiple sclerosis atau MS. Penelitian yang dipublikasikan di Cell Press journal Neuron ini mengidentifikasi suatu jalur biologi natural yang dapat membantu perbaikkan sistem saraf dan kemukinan dapat diambil dari molekul yang sudah ada dalam tubuh manusia.

Penulis studi Liang Zhang dari Songjiang Hospital yang terafliasi pada Shanghai Jiao Tong University School of Medicine mengatakan bahwa evolusi merupakan suatu bentuk hadiah dari alam yang memungkinan adanya diversitas gen yang dapat membantuk organisme bertahan hidup dalam lingkungan apapun. Masih banyak yang dapat kita pelajari dan pahami terkair dengan adaptasi genetik disekitar kita, dirinya menambahkan.

Fokus utama penelitian ini adalah selubung mielin, lapisan pelindung yang menyelimuti serabut saraf di otak dan sumsum tulang belakang. Struktur ini berfungsi memastikan sinyal listrik dapat berjalan dengan cepat dan efisien. Kerusakan pada mielin dapat terjadi akibat kekurangan oksigen pada masa perkembangan awal atau akibat penyakit autoimun seperti multiple sclerosis. Selain itu, penurunan aliran darah ke otak seiring bertambahnya usia juga dapat memperburuk kondisi mielin.

Penelitian sebelumnya telah mengidentifikasi adanya mutasi pada gen Retsat pada hewan yang hidup di Dataran Tinggi Tibet. Mutasi ini diduga berperan dalam menjaga fungsi otak tetap optimal di lingkungan dengan kadar oksigen rendah. Untuk menguji peran tersebut, para peneliti melakukan eksperimen pada tikus yang dipaparkan kondisi rendah oksigen yang menyerupai lingkungan dataran tinggi.

Hasilnya menunjukkan bahwa tikus yang membawa mutasi gen tersebut memiliki kemampuan belajar, memori, dan interaksi sosial yang lebih baik dibandingkan kelompok tanpa mutasi. Selain itu, struktur otak menunjukkan tingkat mielin yang lebih tinggi, menandakan perlindungan yang lebih baik terhadap serabut saraf.

Penelitian kemudian dilanjutkan untuk melihat apakah mutasi ini juga mampu memperbaiki kerusakan mielin yang sudah terjadi. Pada model tikus dengan kondisi menyerupai multiple sclerosis, proses pemulihan mielin berlangsung lebih cepat dan lebih lengkap pada individu dengan mutasi tersebut. Area yang rusak juga menunjukkan peningkatan jumlah oligodendrosit matang, yaitu sel yang bertanggung jawab dalam produksi mielin.

Analisis lebih lanjut mengungkap bahwa mutasi gen ini meningkatkan produksi ATDR, yaitu metabolit turunan vitamin A. Senyawa ini berperan dalam mendukung pertumbuhan dan pematangan oligodendrosit, sehingga membantu proses pembentukan kembali mielin. Aktivitas enzim yang mengubah vitamin A menjadi bentuk aktif juga ditemukan meningkat pada kondisi ini.

Ketika ATDR diberikan pada tikus dengan kondisi mirip multiple sclerosis, terjadi penurunan tingkat keparahan penyakit serta perbaikan fungsi motorik. Temuan ini menunjukkan bahwa molekul yang secara alami sudah ada dalam tubuh dapat dimanfaatkan untuk mendukung perbaikan saraf.

Pendekatan ini berbeda dari terapi yang ada saat ini, yang umumnya menargetkan sistem imun. Penelitian ini membuka kemungkinan strategi baru yang lebih berfokus pada regenerasi jaringan saraf dengan memanfaatkan mekanisme biologis alami.

Penemuan mutasi gen dari hewan dataran tinggi menunjukkan adanya mekanisme alami yang dapat melindungi dan memperbaiki selubung mielin pada sistem saraf. Bukti dari eksperimen pada model hewan memperlihatkan potensi besar dalam mempercepat regenerasi saraf dan mengurangi dampak penyakit seperti multiple sclerosis. Pendekatan berbasis molekul alami ini memberikan arah baru dalam pengembangan terapi yang mengendalikan gejala serta juga memperbaiki kerusakan pada sistem saraf.

Diolah dari artikel:
“Scientists discover gene that helps the brain repair itself” oleh Cell Press. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/04/260415043630.htm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *