Sumber ilustrasi: Unsplash
18 April 2026 16.45 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [18.04.2026] Selama ini penuaan sistem darah dan kekebalan tubuh diketahui terjadi secara bertahap seiring bertambahnya usia. Penurunan ini terutama berkaitan dengan melemahnya hematopoietic stem cells (HSC), yaitu sel punca yang bertugas menghasilkan seluruh jenis sel darah. Dalam kondisi sehat, HSC mampu memperbarui diri dan menjaga keseimbangan produksi sel, tetapi fungsi tersebut menurun akibat akumulasi kerusakan sel, perubahan aktivitas gen, peradangan kronis tingkat rendah, serta perubahan lingkungan di sumsum tulang.
Penelitian terbaru dari The University of Tokyo dan St Jude Children’s Research Hospital mengungkap bahwa proses penuaan tersebut tidak hanya dipengaruhi faktor-faktor umum, tetapi juga oleh sebuah protein yang selama ini dikenal berhubungan dengan kematian sel. Protein ini adalah MLKL, yang merupakan bagian dari jalur sinyal RIPK3-MLKL yang biasanya dikaitkan dengan necroptosis, yaitu bentuk kematian sel terprogram.
Tim peneliti yang dipimpin Masayuki Yamashita menemukan bahwa MLKL tidak hanya bekerja dalam konteks kematian sel, namun juga memengaruhi fungsi sel punca darah dalam kondisi stres. Pengamatan pada tikus percobaan menunjukkan bahwa perubahan fungsi sel punca tetap terjadi meskipun tidak ada peningkatan kematian sel, yang mengarah pada dugaan bahwa MLKL memiliki peran lain di luar fungsi utamanya.
Untuk menguji dugaan tersebut, penelitian dilakukan menggunakan berbagai model tikus, termasuk tikus tanpa MLKL dan tanpa RIPK3. Sel punca darah kemudian diuji melalui transplantasi sumsum tulang untuk menilai kemampuan regenerasi sistem darah. Analisis tambahan dilakukan dengan berbagai teknik seperti sekuensing RNA, pengujian metabolisme, pencitraan resolusi tinggi, serta pengamatan mitokondria secara detail.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa saat MLKL aktif di bawah kondisi stres, protein ini berpindah ke mitokondria dan mengganggu fungsinya. Gangguan tersebut menurunkan kemampuan mitokondria dalam menghasilkan energi, mengubah struktur internalnya, serta menurunkan potensi membran. Dampak lanjutan dari proses ini adalah menurunnya kemampuan regenerasi sel punca, berkurangnya produksi sel imun tertentu, serta pergeseran keseimbangan produksi sel darah.
Menariknya, ketika MLKL dinonaktifkan, sel punca menunjukkan kondisi yang lebih stabil. Sel tetap mampu memperbarui diri, menghasilkan sel darah yang lebih seimbang, serta mempertahankan fungsi mitokondria yang lebih baik. Perbaikan ini terjadi tanpa perubahan besar pada aktivitas gen, yang menunjukkan bahwa mekanisme kerja MLKL lebih berpengaruh pada proses di luar inti sel, terutama pada tingkat organel seperti mitokondria.
Penelitian ini juga menemukan bahwa aktivasi MLKL tidak menyebabkan peningkatan kematian sel, tetapi justru memicu penurunan fungsi sel secara bertahap melalui kerusakan energi. Temuan tersebut mengubah pemahaman sebelumnya tentang protein yang terkait dengan kematian sel, karena ternyata protein ini dapat mempercepat penuaan tanpa membunuh sel secara langsung.
Kesimpulannya menunjukkan bahwa protein MLKL yang selama ini dikenal sebagai bagian dari mekanisme kematian sel ternyata memiliki peran penting dalam mempercepat penuaan sel punca darah melalui gangguan pada mitokondria. Aktivasi protein ini di bawah kondisi stres menurunkan produksi energi sel, melemahkan fungsi regenerasi, dan mengganggu keseimbangan sistem kekebalan tubuh, sementara penonaktifannya mampu mempertahankan fungsi sel punca tetap stabil. Temuan ini membuka arah baru dalam upaya memperlambat penuaan dengan menargetkan mekanisme energi seluler, bukan hanya proses kematian sel.
Diolah dari artikel:
“A “death” protein may be the key to slowing aging at its source” oleh The Institute of Medical Science, The University of Tokyo. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link : https://www.sciencedaily.com/releases/2026/04/260416071951.htm