Sumber ilustrasi: Pixabay
18 April 2026 17.05 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [18.04.2026] Apakah anda pernah mendengan nama Doggerland? Menurut para ilmuwan, Doggerland merupakan daratan yang kini tenggelam di bawah Laut Utara yang pernah menjadi penghubung antara Inggris dan daratan Eropa. Wilayah ini umumnya dianggap sebagai jalur migrasi manusia prasejarah sebelum akhirnya tertutup oleh kenaikan permukaan laut. Akan tetapi waktu kemunculan hutan di kawasan tersebut serta seberapa layak lingkunganya terhadap kehidupan manusia masih menjadi pertanyaan yang belum sepenuhnya terjawab.
Dalam sebuah studi terbaru yang dipimpin oleh Professor Robin Allaby dari University of Warwick menunjukkan bahwa hutan telah tumbuh di Doggerland jauh lebih awal dari perkiraan sebelumnya. Temuan ini mengindikasikan bahwa kawasan tersebut mungkin sudah menjadi lingkungan yang subur bagi tumbuhan, hewan, dan bahkan manusia purba sebelum hutan menyebar luas di Inggris dan Eropa Utara.
Studi yang yang dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) ini menggunakan pendekatan DNA purba dari sedimen untuk merekonstruksi kondisi lingkungan masa lalu. Analisis terhadap ratusan sampel sedimen laut menunjukkan keberadaan pohon beriklim sedang seperti ek, elm, dan hazel lebih dari 16.000 tahun lalu. Temuan ini melampaui perkiraan sebelumnya yang didasarkan pada data serbuk sari. Selain itu, jejak DNA dari jenis pohon yang diperkirakan telah punah dari wilayah tersebut ratusan ribu tahun lalu juga berhasil diidentifikasi.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa sebagian wilayah Doggerland tetap bertahan meskipun terjadi peristiwa banjir besar, termasuk tsunami Storegga sekitar 8.150 tahun lalu. Beberapa bagian daratan bahkan diperkirakan masih berada di atas permukaan laut hingga sekitar 7.000 tahun lalu. Kondisi tersebut memberikan waktu yang lebih panjang bagi ekosistem dan kemungkinan aktivitas manusia untuk berkembang sebelum wilayah tersebut sepenuhnya tenggelam.
Dalam analisis lingkungan yang lebih rinci, para peneliti menemukan bahwa pohon yang menyukai iklim hangat seperti lime muncul lebih awal dari catatan sebelumnya di Inggris. Fakta ini mengindikasikan bahwa Doggerland mungkin berfungsi sebagai tempat perlindungan bagi spesies tertentu selama periode Zaman Es. Keberadaan area perlindungan semacam ini mendukung konsep “mikrorefugia”, yaitu wilayah kecil yang memungkinkan spesies bertahan dalam kondisi iklim ekstrem.
Penemuan DNA dari genus Pterocarya, yang sebelumnya diyakini telah menghilang dari Eropa barat laut sekitar 400.000 tahun lalu, menjadi salah satu hasil paling mengejutkan. Temuan ini menunjukkan bahwa beberapa spesies tumbuhan mampu bertahan jauh lebih lama dari perkiraan ilmiah sebelumnya, mengubah pemahaman tentang dinamika ekosistem purba di kawasan tersebut.
Keberadaan hutan sejak 16.000 tahun lalu juga mengindikasikan bahwa Doggerland mungkin menyediakan habitat yang kaya bagi satwa liar. Hewan seperti babi hutan kemungkinan hidup di wilayah tersebut, menyediakan sumber daya penting bagi manusia purba. Kondisi ini menunjukkan bahwa kawasan tersebut berpotensi mendukung kehidupan manusia jauh sebelum munculnya budaya Mesolitik awal di Eropa Utara.
Pandangan tentang Doggerland sebagai sekadar jembatan darat kini mulai bergeser. Wilayah tersebut dipahami sebagai pusat penting ekosistem dan kemungkinan permukiman manusia prasejarah. Keberadaannya diduga berperan dalam pola migrasi dan penyebaran populasi manusia serta spesies lain selama ribuan tahun di Eropa Utara.
Doggerland dalam penelitian terbaru digambarkan sebagai lanskap yang jauh lebih kompleks dan kaya dibandingkan yang selama ini dipahami. Hutan yang muncul lebih awal, keberadaan spesies yang bertahan lama, serta kondisi lingkungan yang mendukung kehidupan menunjukkan bahwa wilayah ini memainkan peran penting dalam sejarah ekologi dan manusia di Eropa.
Diolah dari artikel:
“A lost world beneath the North Sea was once full of forests” oleh University of Warwick. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/04/260416071959.htm