‘Kiamat Serangga’ Mengancam Nutrisi Manusia?

Sumber ilustrasi: Pixabay
14 Mei 2026 11.30 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [15.05.2026] Dalam beberapa dekade terakhir para peneliti terus memperingatkan perihal penurunan populasi serangga di berbagai belahan dunia. Penurunan tersebut terjadi dengan kecepatan yang mengkhawatirkan, bahkan diperkirakan mencapai sekitar 1 persen setiap tahun. Fenomena ini membuat sebagian peneliti menyebut kondisi tersebut sebagai “kiamat serangga” atau insect apocalypse. Berkurangnya jumlah serangga tidak hanya mengganggu keseimbangan ekosistem, tetapi juga mulai mempengaruhi hasil pertanian yang bergantung pada proses penyerbukan alami.

Selama ini, dampak langsung dari hilangnya serangga penyerbuk terhadap kesehatan manusia masih sulit diukur secara jelas. Banyak penelitian lebih fokus pada penurunan biodiversitas dan gangguan ekosistem tanpa mampu menunjukkan konsekuensi nyata terhadap pola makan manusia. Akan tetapi sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan pada 6 Mei di jurnal Nature kini berhasil memberikan gambaran lebih rinci mengenai hubungan tersebut.

Tim peneliti mempelajari hubungan antara populasi penyerbuk liar, hasil panen, dan pola konsumsi masyarakat di 10 desa pertanian di Nepal selama satu tahun. Sebagian besar makanan yang dikonsumsi warga di wilayah tersebut berasal langsung dari hasil pertanian lokal. Untuk memahami pengaruh penyerbuk terhadap produksi pangan, para ilmuwan melakukan survei setiap dua minggu guna mencatat jenis dan jumlah serangga yang mengunjungi tanaman pertanian.

Data tersebut kemudian dibandingkan dengan kondisi kesehatan dan nutrisi masyarakat desa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa serangga penyerbuk berkontribusi besar terhadap ketahanan pangan warga. Para peneliti memperkirakan sekitar 44 persen pendapatan pertanian masyarakat bergantung pada aktivitas penyerbukan oleh serangga.

Selain mempengaruhi ekonomi, keberadaan penyerbuk juga berkaitan langsung dengan asupan nutrisi penting. Penelitian menemukan bahwa lebih dari 20 persen asupan vitamin A, vitamin E, dan folat masyarakat berasal dari tanaman yang membutuhkan bantuan serangga untuk proses penyerbukan.

Ketika jumlah dan keragaman penyerbuk menurun, kondisi kesehatan masyarakat ikut terdampak. Naomi Saville dari University College London Institute for Global Health menjelaskan bahwa lebih dari setengah anak-anak yang terlibat dalam penelitian memiliki tinggi badan di bawah standar usia mereka. Naomi Saville menyebut pola makan yang buruk menjadi salah satu penyebab utama kondisi tersebut, terutama karena masyarakat sangat bergantung pada sayuran, buah-buahan, dan kacang-kacangan yang memerlukan bantuan penyerbuk alami.

Peneliti kemudian membuat simulasi mengenai kondisi masa depan apabila populasi penyerbuk terus menurun. Hasil simulasi menunjukkan bahwa tanpa perubahan praktik pertanian, masyarakat desa berpotensi kehilangan sekitar 7 persen asupan vitamin A dan folat pada tahun 2030.

Kekurangan vitamin A diketahui dapat meningkatkan risiko gangguan penglihatan, sementara kekurangan folat berkaitan dengan meningkatnya risiko cacat lahir. Temuan tersebut menunjukkan bahwa penurunan populasi serangga dapat berkembang menjadi persoalan kesehatan masyarakat dalam jangka panjang.

Meskipun penelitian dilakukan di Nepal, para ilmuwan menilai dampaknya dapat mencerminkan situasi global yang lebih luas. Sekitar 2 miliar manusia di dunia masih bergantung pada pertanian skala kecil seperti masyarakat desa dalam penelitian tersebut. Selain itu, sekitar tiga perempat tanaman pangan dunia membutuhkan bantuan serangga penyerbuk untuk menghasilkan panen optimal.

Beberapa komoditas penting bahkan sepenuhnya bergantung pada serangga penyerbuk untuk bertahan hidup, termasuk kopi, almond, dan cokelat. Jika tren penurunan populasi serangga terus berlangsung, kemampuan petani untuk memproduksi pangan dalam jumlah memadai dapat ikut terancam.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa terdapat sejumlah langkah sederhana yang dapat membantu memperbaiki kondisi populasi penyerbuk. Berdasarkan model penelitian, penanaman bunga liar asli di sekitar lahan pertanian, perlindungan terhadap lebah liar, dan pengurangan penggunaan pestisida dapat meningkatkan jumlah penyerbuk secara signifikan.

Model yang dikembangkan peneliti memperkirakan langkah-langkah tersebut dapat meningkatkan pendapatan pertanian hingga 30 persen di atas kondisi saat ini. Selain itu, asupan vitamin A dan folat masyarakat juga diperkirakan dapat meningkat masing-masing sebesar 5 persen dan 9 persen.

Thomas Timberlake, ahli ekologi dari University of York di Inggris, menilai bahwa biodiversitas bukan sekadar elemen tambahan dalam lingkungan. Thomas Timberlake menjelaskan bahwa keanekaragaman hayati memiliki peran mendasar terhadap kesehatan, nutrisi, dan mata pencaharian manusia.

Temuan terbaru ini menunjukkan bahwa penurunan populasi serangga tidak hanya menjadi ancaman bagi lingkungan, tetapi juga bagi ketahanan pangan dan kesehatan manusia. Ketergantungan manusia terhadap penyerbuk alami ternyata jauh lebih besar dibandingkan yang selama ini diperkirakan. Perlindungan biodiversitas, pengurangan penggunaan pestisida, dan upaya menjaga habitat serangga dapat menjadi langkah penting untuk mempertahankan kualitas nutrisi dan keberlanjutan sistem pangan global di masa depan.

Diolah dari artikel:
“‘Insect apocalypse’ is already fueling malnutrition in some regions, first-of-its-kind study reveals” oleh Joanna Thompson. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.livescience.com/animals/insects/insect-apocalypse-is-already-fueling-malnutrition-in-some-regions-first-of-its-kind-study-reveals

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *