Peta Harta Karun Global untuk Lokasi Tersembunyi Logam Tanah Jarang?

Sumber ilustrasi: Unsplash
26 Mei 2026 15.45 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [27.05.2026] Para ilmuwan telah lama berupaya memahami distribusi unsur tanah jarang di Bumi, yaitu kelompok logam penting yang menjadi komponen utama dalam teknologi modern seperti smartphone, kendaraan listrik, dan turbin angin. Keberadaan endapan unsur tersebut tampak tidak merata dan sulit diprediksi, sehingga pencarian sumber baru menjadi tantangan besar, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan energi bersih. Banyak penelitian sebelumnya hanya berfokus pada lokasi tertentu atau deposit individual, sehingga belum memberikan gambaran menyeluruh mengenai pola global pembentukannya.

Dalam sebuah studi terbaru dari University of Cambridge, pendekatan berbeda digunakan dengan menggabungkan data geokimia batuan dan pencitraan seismik bagian dalam Bumi. Penelitian yang dipublikasikan di Nature Geoscience ini menunjukkan bahwa batuan vulkanik kaya unsur tanah jarang cenderung terbentuk di wilayah dengan litosfer yang tebal, yaitu lapisan luar Bumi yang kaku. Dr. Emilie Bowman dari Cambridge Earth Sciences menyampaikan bahwa penelitian tersebut mulai memberikan kemampuan prediktif untuk mengidentifikasi lokasi potensial terbentuknya batuan pembawa unsur tanah jarang beserta endapannya.

Penelitian ini juga menyoroti bahwa akar benua yang paling tua dan paling tebal memiliki peran penting dalam proses tersebut. Para ilmuwan menemukan bahwa batuan dengan kandungan kimia yang mendukung pengayaan unsur tanah jarang umumnya berada di sepanjang tepi curam litosfer yang sangat tebal. Profesor Sally Gibson dari Cambridge Earth Sciences menjelaskan bahwa terdapat minat ilmiah yang besar dalam memahami mengapa endapan tersebut hanya muncul di lokasi tertentu, sehingga studi ini mencoba menjawab pertanyaan tersebut dalam skala global.

Untuk mencapai hasil tersebut, Bowman mengumpulkan sekitar 9.000 sampel batuan beku dari seluruh dunia yang memiliki kandungan CO2 terlarut tinggi, yang diketahui meningkatkan peluang konsentrasi unsur tanah jarang. Gibson menjelaskan bahwa jenis batuan ini sebelumnya hanya dianggap sebagai keunikan geologi dan sering membingungkan mahasiswa, namun dalam beberapa tahun terakhir menjadi sangat relevan karena kaitannya dengan sumber daya mineral penting.

Analisis lebih lanjut dilakukan dengan memanfaatkan gelombang gempa untuk memetakan struktur dan ketebalan litosfer. Profesor Sergei Lebedev menyatakan bahwa teknik ini memungkinkan para peneliti membuat gambaran penampang litosfer seperti sonar yang memetakan dasar laut, sehingga hubungan antara ketebalan litosfer dan lokasi endapan dapat terlihat dengan lebih jelas. Hasilnya menunjukkan bahwa ketebalan litosfer berperan sebagai faktor penentu dalam pembentukan deposit tersebut.

Penelitian ini juga menjelaskan mekanisme pembentukan endapan di bawah permukaan Bumi. Litosfer yang tebal menjaga kondisi tekanan tinggi dan suhu relatif rendah, sehingga hanya sedikit magma yang terbentuk. Magma tersebut kemudian terperangkap, mendingin, dan membentuk batuan beku kaya CO2. Proses geologi selanjutnya dapat menyebabkan pelelehan ulang sebagian batuan, yang secara bertahap meningkatkan konsentrasi unsur tanah jarang hingga mencapai tingkat yang bernilai secara ekonomi.

Tim peneliti berencana memperluas studi ini dengan memasukkan batuan yang berusia lebih dari 200 juta tahun, yang diketahui mengandung banyak deposit utama di dunia. Gibson menjelaskan bahwa penelitian awal difokuskan pada periode setelah pemisahan benua besar, karena aktivitas geologi seperti pembentukan pegunungan dan pemekaran benua telah mengganggu batuan yang lebih tua, sehingga analisis menjadi lebih kompleks. Dengan ditemukannya pola sistematis ini, penelitian lanjutan diharapkan dapat meningkatkan kemampuan dalam memprediksi lokasi sumber daya mineral di masa depan.

Temuan ini menunjukkan bahwa distribusi unsur tanah jarang tidak terjadi secara acak, melainkan sangat dipengaruhi oleh struktur dalam Bumi, khususnya ketebalan dan usia litosfer. Pendekatan yang menggabungkan data kimia batuan dan pencitraan seismik memberikan pemahaman baru mengenai proses geologi yang berlangsung jauh di bawah permukaan, sekaligus membuka peluang untuk eksplorasi sumber daya yang lebih terarah.

Diolah dari artikel:
“Scientists create global treasure map pointing to hidden rare earth deposits” oleh University of Cambridge. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/05/260525000450.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *