Puasa Intermiten Dapat Mengubah Otak dan Bakteri Usus Secara Bersamaan?

Sumber ilustrasi: Pixabay
01 Juni 2026 12.55 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [01.06.2026] Obesitas masih menjadi salah satu topik kesehatan yang banyak dibahas di dunia saat ini, dimana Desanomia sendiri memiliki beberapa artikel yang juga membahas obesitas. Saat ini lebih dari satu miliar orang hidup dengan kondisi tersebut, yang diketahui meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, diabetes, serta berbagai jenis kanker. Meskipun banyak metode penurunan berat badan telah dikembangkan, menjaga berat badan tetap rendah setelah berhasil menurunkannya sering kali menjadi tantangan yang jauh lebih sulit.

Selama bertahun-tahun, proses penurunan berat badan sering dipahami sebagai persoalan sederhana antara jumlah kalori yang masuk dan kalori yang dibakar. Namun penelitian modern menunjukkan bahwa mekanisme tersebut jauh lebih kompleks. Sinyal dari usus, hormon, metabolisme, dan otak saling berinteraksi dalam mengatur rasa lapar, keinginan makan, serta kecenderungan tubuh untuk kembali menambah berat badan.

Salah satu pendekatan yang semakin banyak mendapat perhatian adalah intermittent energy restriction (IER), atau pembatasan energi secara berkala. Metode ini mengombinasikan periode pembatasan kalori dengan periode pola makan yang lebih normal. Penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2023 menunjukkan bahwa strategi tersebut mungkin tidak hanya memengaruhi berat badan, tetapi juga hubungan antara mikrobioma usus dan aktivitas otak.

Penulis utama terakhir studi tersebut, Dr. Qiang Zeng dari Health Management Institute di PLA General Hospital Beijing, menjelaskan bahwa pola makan IER mengubah sumbu otak-usus-mikrobioma manusia. Menurut Dr. Zeng, perubahan yang terjadi pada mikrobioma usus dan aktivitas berbagai wilayah otak yang berkaitan dengan kecanduan selama serta setelah penurunan berat badan menunjukkan hubungan yang dinamis dan saling terkait dari waktu ke waktu.

Untuk memahami apa yang terjadi di dalam tubuh selama proses penurunan berat badan, para peneliti mempelajari 25 orang dewasa dengan obesitas di Tiongkok. Para peserta memiliki usia rata-rata sekitar 27 tahun dengan indeks massa tubuh (BMI) antara 28 hingga 45.

Penelitian menggunakan berbagai metode untuk memantau perubahan biologis. Sampel feses dianalisis menggunakan pendekatan metagenomik untuk mengukur komposisi mikrobioma usus. Tes darah digunakan untuk memantau perubahan metabolik dan fisiologis. Tim peneliti juga menggunakan pencitraan resonansi magnetik fungsional atau fMRI untuk mengamati aktivitas wilayah otak yang terkait dengan nafsu makan, emosi, perhatian, pembelajaran, penghambatan perilaku, dan sistem penghargaan.

Salah satu penulis studi, Dr. Yongli Li dari Department of Health Management, Henan Provincial People’s Hospital, menjelaskan bahwa mikrobioma usus yang sehat dan seimbang berperan penting dalam menjaga keseimbangan energi serta berat badan normal. Dr. Li menambahkan bahwa gangguan pada mikrobioma usus berpotensi mengubah perilaku makan melalui pengaruhnya terhadap area-area otak tertentu yang terkait dengan kecanduan.

Program penelitian dimulai dengan fase puasa terkontrol intensif selama 32 hari. Pada tahap tersebut peserta menerima makanan yang dirancang oleh ahli gizi. Asupan kalori secara bertahap dikurangi hingga mencapai sekitar seperempat dari kebutuhan energi dasar masing-masing peserta.

Setelah itu, peserta menjalani fase puasa terkontrol ringan selama 30 hari. Pada tahap ini peserta menerima daftar makanan yang direkomendasikan, bukan makanan yang sudah disiapkan sepenuhnya. Jika mengikuti program secara tepat, perempuan mengonsumsi sekitar 500 kalori per hari sementara laki-laki mengonsumsi sekitar 600 kalori per hari.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta kehilangan berat badan rata-rata sebesar 7,6 kilogram, setara dengan sekitar 7,8 persen dari berat badan awal. Penurunan lemak tubuh dan lingkar pinggang juga tercatat selama program berlangsung.

Manfaat yang diamati tidak terbatas pada penurunan berat badan. Tekanan darah menurun, begitu pula kadar glukosa plasma puasa, kolesterol total, HDL, LDL, dan aktivitas sejumlah enzim hati penting. Para peneliti menilai bahwa pembatasan energi secara berkala berpotensi membantu mengurangi berbagai masalah kesehatan yang berhubungan dengan obesitas, termasuk hipertensi, hiperlipidemia, dan gangguan fungsi hati.

Pemindaian otak menunjukkan adanya penurunan aktivitas pada sejumlah wilayah yang terkait dengan nafsu makan dan perilaku mirip kecanduan. Temuan tersebut memberikan petunjuk bahwa diet tidak hanya memengaruhi ukuran tubuh, tetapi juga dorongan untuk makan, kemampuan mengendalikan diri, dan keinginan terhadap makanan.

Pada saat yang sama, komposisi mikrobioma usus juga mengalami perubahan yang jelas. Kelimpahan bakteri Faecalibacterium prausnitzii, Parabacteroides distasonis, dan Bacterokles uniformis meningkat secara signifikan. Sebaliknya, populasi Escherichia coli mengalami penurunan.

Analisis lanjutan mengungkap hubungan antara bakteri tertentu dan aktivitas wilayah otak tertentu. Kelimpahan E. coli, Coprococcus comes, dan Eubacterium hallii berkorelasi negatif dengan aktivitas gyrus frontal inferior orbital kiri, wilayah otak yang berperan dalam fungsi eksekutif dan pengendalian diri selama proses penurunan berat badan.

Sebaliknya, P. distasonis dan Flavonifractor plautii menunjukkan hubungan positif dengan wilayah otak yang berperan dalam perhatian, penghambatan gerakan, emosi, dan pembelajaran.

Temuan tersebut menunjukkan kemungkinan bahwa perubahan pada mikrobioma usus dan perubahan pada otak berlangsung secara bersamaan selama proses penurunan berat badan. Penelitian ini belum dapat membuktikan apakah bakteri usus memicu perubahan otak, apakah otak mengubah mikrobioma, atau apakah terdapat faktor lain yang memengaruhi keduanya. Namun bukti yang diperoleh memperkuat pandangan bahwa pengendalian berat badan tidak hanya bergantung pada kemauan atau jumlah kalori semata.

Dr. Xiaoning Wang dari Institute of Geriatrics, PLA General Hospital, menjelaskan bahwa mikrobioma usus berkomunikasi dengan otak melalui jalur dua arah yang kompleks. Menurut Dr. Wang, mikrobioma menghasilkan neurotransmiter dan neurotoksin yang dapat mencapai otak melalui saraf dan sirkulasi darah, sementara otak mengendalikan perilaku makan dan nutrisi dari makanan turut membentuk komposisi mikrobioma usus.

Interaksi dua arah tersebut membantu menjelaskan mengapa obesitas sering kali sulit ditangani. Rasa lapar, keinginan makan, suasana hati, sistem penghargaan, dan metabolisme semuanya dipengaruhi oleh sinyal biologis yang saling berkaitan.

Penelitian lanjutan yang diterbitkan setelah studi tahun 2023 juga mendukung hubungan antara puasa dan mikrobioma usus. Sebuah tinjauan sistematis pada tahun 2024 menemukan bahwa puasa intermiten dapat memengaruhi kekayaan, keragaman, dan komposisi mikroba usus. Meskipun demikian, para peneliti mencatat bahwa hasil antarstudi masih cukup beragam sehingga diperlukan penelitian tambahan.

Studi klinis lain pada tahun 2024 membandingkan puasa intermiten yang dikombinasikan dengan pengaturan asupan protein dengan pembatasan kalori berkelanjutan pada orang dengan kelebihan berat badan atau obesitas. Kedua pendekatan menurunkan asupan kalori, tetapi kelompok puasa intermiten menunjukkan penurunan berat badan yang lebih besar serta perubahan mikrobioma yang lebih jelas.

Temuan-temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa intervensi berbasis puasa dapat mengubah mikrobioma usus secara bermakna. Namun berbagai faktor seperti jenis puasa, jumlah kalori, asupan protein, asupan serat, waktu makan, dan karakteristik biologis individu kemungkinan turut memengaruhi hasil akhirnya.

Para peneliti juga menekankan bahwa studi tahun 2023 memiliki keterbatasan. Jumlah peserta relatif kecil dan desain penelitian bersifat korelasional sehingga belum dapat membuktikan hubungan sebab-akibat. Penelitian yang lebih besar dan berlangsung lebih lama diperlukan untuk mengetahui apakah mikroba atau wilayah otak tertentu dapat memprediksi keberhasilan penurunan berat badan dalam jangka panjang.

Salah satu penulis studi, Dr. Liming Wang dari Health Management Institute di Beijing, menyatakan bahwa pertanyaan berikutnya adalah memahami mekanisme pasti komunikasi antara mikrobioma usus dan otak pada individu obesitas, termasuk selama proses penurunan berat badan. Dr. Wang juga menyoroti pentingnya mengidentifikasi mikroba dan wilayah otak yang paling berperan dalam keberhasilan menurunkan serta mempertahankan berat badan yang sehat.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa keberhasilan penurunan berat badan melalui puasa intermiten mungkin melibatkan lebih dari sekadar pengurangan lemak tubuh. Perubahan yang terjadi pada mikrobioma usus, metabolisme, dan aktivitas otak tampak berlangsung secara terkoordinasi selama proses diet. Temuan ini menunjukkan bahwa gagasan bahwa pengaturan berat badan merupakan hasil interaksi kompleks antara usus dan otak, serta membuka peluang baru untuk memahami mekanisme biologis yang mendasari obesitas dan keberhasilan program penurunan berat badan di masa depan.

Diolah dari artikel:
“Intermittent fasting triggers surprising changes in the brain” oleh Frontiers. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/05/260530004622.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *