Gurita Menggunakan Cermin untuk Menemukan Mangsa yang Tidak Terlihat?

Sumber ilustrasi: Wikimedia Commons
07 Juni 2026 09.05 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [07.06.2026] Kemampuan menggunakan alat dan memahami lingkungan melalui pantulan cermin selama ini dianggap sebagai salah satu ciri kecerdasan tingkat tinggi yang hanya dimiliki oleh sebagian vertebrata seperti mamalia dan burung. Gurita sendiri telah lama dikenal sebagai hewan dengan kemampuan kognitif yang luar biasa. Salah satu contoh paling terkenal adalah Inky, seekor gurita yang berhasil melarikan diri dari Akuarium Nasional Selandia Baru pada tahun 2016 melalui pipa pembuangan dan kembali ke laut. Kini, sebuah penelitian terbaru dari Dartmouth College menunjukkan bahwa gurita mungkin memiliki kemampuan lain yang sebelumnya belum pernah diamati pada kelompok invertebrata.

Studi yang dipublikasikan dalam Current Biology menemukan bahwa gurita dapat belajar menggunakan cermin untuk menentukan lokasi makanan yang tidak dapat dilihat secara langsung. Temuan tersebut menjadi bukti pertama bahwa hewan invertebrata mampu memanfaatkan cermin untuk memahami lingkungan di sekitarnya dan menemukan mangsa. Penulis utama penelitian, Mary Kieseler, yang melakukan penelitian tersebut saat menjadi mahasiswa doktoral di Departemen Psychological and Brain Sciences Dartmouth dan kini menjadi peneliti pascadoktoral di University of Fribourg, menjelaskan bahwa kemampuan semacam itu sebelumnya hanya pernah didokumentasikan pada beberapa mamalia dan burung.

Penelitian dilakukan terhadap tiga ekor gurita California dua bintik (Octopus bimaculoides) yang dipelihara di Laboratorium Gurita Dartmouth. Para peneliti ingin mengetahui apakah hewan tersebut mampu mempelajari hubungan antara pantulan pada cermin dengan posisi sebenarnya dari objek yang berada di luar jangkauan penglihatan langsung.

Tahap pertama penelitian dimulai dengan membiasakan gurita terhadap keberadaan cermin di dalam habitatnya. Setelah itu, para peneliti melatih hewan-hewan tersebut untuk memahami hubungan antara gambar pantulan dan dunia nyata. Dalam proses pelatihan, seekor kepiting hidup ditempatkan di dalam toples kaca pada posisi yang hanya memungkinkan gurita melihatnya melalui cermin. Untuk mencapai mangsa tersebut, gurita harus berputar sekitar 90 derajat dan bergerak melewati sudut tertentu.

Peter Tse, profesor Psychological and Brain Sciences di Dartmouth sekaligus penulis senior penelitian, menjelaskan bahwa kemampuan menggunakan cermin merupakan sesuatu yang dipelajari. Peter Tse membandingkan proses tersebut dengan pengemudi baru yang belajar menggunakan kaca spion untuk mengetahui posisi kendaraan lain. Menurut Peter Tse, gurita juga mampu mempelajari cara menggunakan cermin untuk menyimpulkan lokasi objek di lingkungan nyata.

Analisis lebih lanjut dilakukan untuk menguji kemampuan kognisi spasial gurita. Para peneliti tidak menggunakan mangsa hidup selama pengujian utama karena gurita memiliki kemoreseptor yang memungkinkan hewan tersebut mencium dan merasakan melalui sentuhan. Penggunaan mangsa hidup dikhawatirkan dapat memengaruhi hasil penelitian. Sebagai gantinya, tim menggunakan gambar kepiting virtual.

Dalam eksperimen tersebut, setiap gurita ditempatkan di dalam sebuah kotak terbuka dengan cermin di bagian depan. Gambar kepiting virtual diproyeksikan di belakang tubuh gurita, baik di sisi kanan maupun kiri, dan hanya dapat dilihat melalui pantulan cermin. Untuk memperoleh hadiah berupa kepiting hidup, gurita harus memahami lokasi sebenarnya dari gambar tersebut dan bergerak menuju arah yang tepat.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa gurita tidak mendekati cermin, melainkan berbalik menuju posisi sebenarnya dari objek yang dipantulkan. Beberapa individu bahkan memanjat sisi kotak untuk mencapai lokasi proyeksi gambar dibandingkan berenang mengelilinginya.

Secara rata-rata, hewan-hewan tersebut berhasil memilih arah yang benar sekitar 73 persen dari seluruh percobaan. Para peneliti juga memantau titik di antara kedua mata pada bagian mantel gurita untuk menganalisis jalur yang ditempuh selama mencari hadiah. Meskipun tidak selalu memilih rute terpendek, gurita menjadi semakin cepat menemukan lokasi yang benar seiring bertambahnya jumlah percobaan.

Menurut para peneliti, temuan tersebut dapat memberikan petunjuk penting mengenai evolusi kecerdasan. Mary Kieseler menjelaskan bahwa gurita merupakan salah satu hewan yang memiliki hubungan evolusioner sangat jauh dengan manusia, dengan nenek moyang bersama terakhir berupa organisme mirip cacing yang hidup sekitar 350 hingga 500 juta tahun lalu. Mary Kieseler menambahkan bahwa kemampuan menggunakan cermin yang muncul secara independen pada organisme yang sangat berbeda tersebut mengindikasikan kemungkinan terjadinya evolusi konvergen, yaitu ketika spesies yang berbeda mengembangkan solusi saraf yang serupa untuk menghadapi tantangan yang sama.

Lingkungan alami gurita, seperti terumbu karang dan dasar laut, dikenal sangat kompleks dan dipenuhi berbagai rintangan. Peter Tse menjelaskan bahwa gurita memiliki strategi berburu yang menyerupai kucing, yakni mengendap-endap mendekati mangsa dan menerkamnya dengan cepat agar tidak menjadi mangsa bagi hewan lain. Strategi semacam itu diduga akan memperoleh keuntungan apabila hewan memiliki pemahaman internal mengenai lingkungan sekitarnya.

Peter Tse juga berpendapat bahwa pemburu yang efektif biasanya memiliki peta mental mengenai wilayahnya. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, Peter Tse menduga bahwa gurita mungkin juga mempunyai representasi ruang dan peta internal yang membantu navigasi selama berburu.

Para peneliti menegaskan bahwa penelitian tambahan masih diperlukan untuk memastikan apakah gurita benar-benar memiliki peta mental seperti yang diduga. Meskipun demikian, hasil penelitian terbaru ini menambah daftar kemampuan luar biasa yang dimiliki gurita dan semakin memperkuat posisi hewan tersebut sebagai salah satu organisme paling cerdas dan menarik di lautan.

Temuan terbaru dari Dartmouth College menunjukkan bahwa gurita mampu mempelajari penggunaan cermin untuk menemukan makanan yang tidak dapat dilihat secara langsung. Kemampuan yang sebelumnya hanya diketahui dimiliki oleh sebagian vertebrata tersebut mengungkap adanya kemampuan berpikir spasial yang kompleks pada invertebrata. Hasil penelitian ini juga memberikan petunjuk baru mengenai evolusi kecerdasan serta kemungkinan keberadaan representasi ruang atau peta mental pada gurita.

Diolah dari artikel:
“Octopuses use mirrors to find food they cannot see” oleh Dartmouth College. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/06/260605023402.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *