Tornado Api Menjadi Cara Baru untuk Membersihkan Tumpahan Minyak?

Sumber ilustrasi: Unsplash
07 Juni 2026 08.55 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [07.06.2026] Tumpahan minyak di laut merupakan salah satu bencana lingkungan yang paling sulit ditangani. Ketika minyak menyebar di permukaan laut, ekosistem pesisir dan kehidupan laut dapat mengalami kerusakan yang sangat besar. Salah satu metode yang selama ini digunakan untuk mencegah penyebaran minyak adalah pembakaran langsung di lokasi atau in situ burn. Meskipun metode tersebut dapat mengurangi luas sebaran minyak, pembakaran konvensional menghasilkan asap hitam pekat, jelaga, serta meninggalkan residu yang masih mengapung di permukaan laut.

Dalam penelitian terbaru yang dilakukan oleh Texas A&M University bersama University of California, Berkeley, para ilmuwan memperkenalkan pendekatan yang tidak biasa, yaitu menggunakan pusaran api berputar yang menyerupai tornado api. Penelitian yang didukung oleh Bureau of Safety and Environmental Enforcement (BSEE) tersebut menunjukkan bahwa pusaran api mampu membakar minyak lebih cepat dan lebih bersih dibandingkan metode pembakaran biasa.

Tim penelitian dipimpin oleh Dr. Elaine Oran dan Dr. Qingsheng Wang dari Texas A&M University serta Dr. Michael Gollner dari University of California, Berkeley. Dr. Elaine Oran menjelaskan bahwa penelitian tersebut merupakan pertama kalinya konsep penggunaan pusaran api diterapkan untuk remediasi tumpahan minyak, dan penelitian tersebut baru merupakan permulaan. Menurut Dr. Elaine Oran, tujuan utama penelitian adalah memanfaatkan sifat kacau dari pusaran api sebagai alat restorasi yang kuat dan presisi untuk melindungi garis pantai, ekosistem laut, serta lingkungan secara keseluruhan.

Penelitian tersebut muncul dari kebutuhan untuk menemukan metode yang lebih cepat dan lebih ramah lingkungan dalam menangani bencana tumpahan minyak. Tragedi Deepwater Horizon pada tahun 2010 menjadi salah satu pengingat terbesar mengenai dampak yang dapat ditimbulkan oleh tumpahan minyak lepas pantai. Kecelakaan tersebut menyebabkan kematian 11 pekerja, menewaskan ribuan hewan laut, serta memicu kerusakan besar pada ekosistem samudra.

Dr. Elaine Oran menjelaskan bahwa penelitian tersebut berupaya mencari cara untuk menangani bencana lingkungan seperti tumpahan minyak dengan metode yang lebih cepat, lebih hijau, dan lebih berkelanjutan.

Salah satu keunggulan utama pusaran api adalah kecepatan pembakarannya. Para peneliti menemukan bahwa pusaran api mampu membakar minyak mentah hampir dua kali lebih cepat dibandingkan kolam api pada metode in situ burn konvensional. Kecepatan tersebut berpotensi memberikan waktu respons yang lebih baik bagi tim penanggulangan sebelum minyak mencapai habitat sensitif dan wilayah pesisir yang dilindungi.

Dr. Elaine Oran menyebutkan bahwa pusaran api dapat mempercepat proses penghilangan minyak sehingga mencegah penyebaran lebih lanjut dari pencemaran tersebut.

Selain lebih cepat, metode tersebut juga berpotensi mengurangi salah satu kelemahan terbesar dari pembakaran minyak, yaitu produksi asap. Dr. Elaine Oran menjelaskan bahwa volume asap yang dihasilkan selama pembakaran minyak merupakan salah satu tantangan terbesar dalam metode konvensional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pusaran api secara signifikan dapat menurunkan emisi keseluruhan dibandingkan pembakaran biasa.

Pusaran api bekerja layaknya insinerator raksasa yang menghancurkan sebagian besar partikel penyebab asap tebal. Proses tersebut juga menguapkan sebagian besar minyak sebelum berubah menjadi residu beracun menyerupai tar yang tertinggal di permukaan air.

Pemahaman mengenai pembentukan dan perilaku pusaran api juga berpotensi memberikan manfaat yang lebih luas. Pengetahuan tersebut dapat membantu pengembangan sistem pembakaran yang lebih efisien sekaligus meningkatkan kemampuan dalam memprediksi dan mengendalikan kebakaran hutan.

Dr. Elaine Oran menjelaskan bahwa penelitian tersebut memiliki aplikasi yang bersifat universal. Menurut Dr. Elaine Oran, pemahaman mengenai hukum fisika yang mengatur pusaran api memungkinkan pemanfaatannya untuk berbagai kebutuhan selain remediasi tumpahan minyak.

Sebelumnya, sebagian besar penelitian mengenai pusaran api dilakukan dalam skala kecil di laboratorium. Untuk mengetahui apakah fenomena tersebut dapat diterapkan pada kondisi nyata, tim peneliti merancang eksperimen berskala besar yang lebih mendekati kondisi sebenarnya di lapangan.

Dr. Elaine Oran menjelaskan bahwa ukuran eksperimen yang besar menjadi salah satu faktor yang membuat penelitian tersebut unik dan berbeda dari penelitian sebelumnya.

Para peneliti membangun struktur segitiga setinggi sekitar 16 kaki dengan tiga dinding yang memungkinkan pengaturan aliran udara secara cermat. Pada bagian tengah, para peneliti menempatkan kolam minyak mentah berdiameter 1,5 meter yang mengapung di atas air.

Setelah dilakukan penyalaan di Texas A&M Engineering Extension Service Brayton Fire Training Field, sistem tersebut menghasilkan pusaran api dengan tinggi hampir 17 kaki.

Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Fuel menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan metode pembakaran konvensional. Dr. Elaine Oran menjelaskan bahwa pusaran api membakar minyak sekitar 40 persen lebih cepat, mengurangi emisi jelaga sebesar 40 persen, dan mencapai efisiensi konsumsi bahan bakar hingga 95 persen dibandingkan pengujian in situ burn biasa.

Meskipun memiliki performa yang mengesankan, pusaran api ternyata tidak mudah dikendalikan. Dr. Elaine Oran menjelaskan bahwa pusaran api merupakan fenomena yang sangat kuat dan dapat memberikan manfaat besar, namun efisiensi tinggi hanya dapat dicapai ketika kondisi lingkungan berada pada tingkat yang tepat.

Angin yang terlalu kuat dapat mengganggu kestabilan pusaran atau bahkan menyebabkan struktur pusaran runtuh. Pengendalian aliran udara yang tidak memadai juga dapat menghambat pembentukan pusaran sehingga pembakaran berlangsung seperti api biasa.

Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa ketebalan lapisan minyak memiliki peran penting. Ketika lapisan minyak terlalu tebal, pusaran api dapat padam sebelum seluruh bahan bakar habis terbakar.

Para peneliti menyebut rentang kondisi ideal tersebut sebagai zona “Goldilocks”. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa teknologi pusaran api memiliki potensi besar, tetapi juga menghadapi tantangan dalam penerapannya secara praktis.

Tim peneliti membayangkan bahwa di masa depan sistem portabel dapat ditempatkan langsung di atas tumpahan minyak yang sedang terbakar untuk menghasilkan pusaran api sesuai kebutuhan. Jika berhasil dikembangkan, teknologi tersebut berpotensi mengubah cara penanganan darurat tumpahan minyak dengan memanfaatkan api biasa menjadi alat pembersihan yang jauh lebih efisien.

Dr. Elaine Oran menjelaskan bahwa penelitian tersebut memberikan gambaran mengenai masa depan ketika api tidak lagi hanya dipandang sebagai kekuatan penghancur, tetapi juga sebagai alat untuk melindungi lautan dan planet Bumi.

Temuan terbaru menunjukkan bahwa pusaran api dapat menjadi alternatif yang lebih cepat dan lebih bersih dalam menangani tumpahan minyak di laut. Melalui pembakaran yang lebih efisien, pengurangan emisi jelaga, serta kemampuan menghabiskan hingga 95 persen minyak, teknologi tersebut berpotensi membantu melindungi ekosistem laut dan wilayah pesisir. Meskipun masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk mengatasi berbagai tantangan teknis, pemanfaatan tornado api menunjukkan bahwa fenomena alam yang selama ini dianggap berbahaya dapat diarahkan untuk membantu menyelesaikan masalah lingkungan yang mendesak.

Diolah dari artikel:
“Giant fire tornadoes could clean up oil spills faster with less pollution” oleh Texas A&M University. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/06/260605023420.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *