Pulihnya Hutan Mangrove Dunia?

Sumber ilustrasi: Pixabay
09 Juni 2026 11.10 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [09.06.2026] Hutan mangrove selama beberapa dekade dipandang sebagai salah satu ekosistem yang paling terancam di dunia. Pembangunan wilayah pesisir, perluasan akuakultur, pertanian, polusi, serta kenaikan permukaan laut telah menyebabkan hilangnya area mangrove dalam jumlah besar. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai kemampuan ekosistem ini untuk bertahan dalam jangka panjang. Akan tetapi, sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan di Science menunjukkan bahwa mangrove ternyata memiliki tingkat ketahanan yang lebih tinggi daripada yang sebelumnya diperkirakan.

Penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan dari Tulane University memanfaatkan data satelit selama 40 tahun dan menemukan bahwa pertambahan luas hutan mangrove dalam 16 tahun terakhir telah melampaui tingkat kehilangan yang terjadi. Temuan tersebut menunjukkan bahwa sejak tahun 1980-an dunia hanya mengalami penurunan bersih sekitar 1 persen dari luas hutan mangrove, yang dimana angka ini jauh lebih kecil dibandingkan perkiraan sebelumnya.

Mangrove merupakan hutan yang tumbuh di wilayah pesisir tropis dan subtropis serta memiliki kemampuan beradaptasi dengan kadar garam tinggi. Ekosistem ini berfungsi sebagai pelindung alami terhadap badai, angin kencang, dan banjir. Sistem perakaran yang rapat membantu menahan erosi pantai dan memperlambat gelombang badai. Selain itu, akar mangrove menyediakan tempat perlindungan bagi berbagai spesies ikan, udang, kepiting, dan organisme laut lainnya pada tahap awal kehidupannya.

Peran mangrove juga sangat penting dalam menghadapi perubahan iklim. Pepohonan, akar, dan tanah lumpur yang dalam mampu menyimpan karbon dalam jumlah besar sehingga membantu mengurangi konsentrasi karbon dioksida di atmosfer. Kemampuan tersebut membuat mangrove sering dianggap sebagai salah satu solusi alami yang efektif untuk mitigasi perubahan iklim.

Untuk melacak perubahan populasi mangrove, para peneliti dari Mangrove Lab milik Tulane University memanfaatkan pengamatan jangka panjang dari program Landsat yang dijalankan bersama oleh NASA dan United States Geological Survey. Data tersebut kemudian dipadukan dengan citra satelit beresolusi tinggi dari PlanetScope milik European Space Agency guna memastikan keakuratan pemetaan mangrove.

Daniel Friess, profesor ilmu bumi dan lingkungan sekaligus direktur Mangrove Lab, menjelaskan bahwa pengamatan lapangan secara langsung memang sangat berharga, namun membutuhkan biaya yang tinggi dan sulit memberikan gambaran dalam skala global. Menurut Friess, pengamatan satelit memungkinkan para ilmuwan mengisi kekosongan data dan mendeteksi perubahan jangka panjang di daerah-daerah yang tidak memiliki pengukuran lapangan memadai.

Tim peneliti menggunakan teknik pembelajaran mesin untuk membuat peta dasar mangrove pada tahun 1980-an, 2010, dan 2021. Metode deteksi perubahan kemudian diterapkan untuk menghasilkan catatan tahunan dari tahun 1984 hingga 2023. Melalui pendekatan tersebut, para ilmuwan dapat menghitung kehilangan dan pertambahan luas mangrove di seluruh dunia dari tahun ke tahun.

Analisis tersebut menunjukkan adanya perubahan penting. Sebelum tahun 2010, tren global masih didominasi oleh penurunan luas mangrove. Setelah tahun 2010, dunia justru mulai mengalami peningkatan bersih pada area mangrove.

Para peneliti menemukan bahwa pemulihan tersebut didorong oleh kombinasi antara upaya restorasi dan ekspansi alami. Di sejumlah wilayah, mangrove mulai tumbuh kembali pada tambak-tambak akuakultur yang telah ditinggalkan. Di daerah lain, hutan mangrove meluas ke dataran lumpur pesisir yang baru terbentuk, terutama di kawasan delta sungai yang kaya sedimen.

Di sepanjang Pantai Teluk Amerika Serikat, peningkatan suhu juga mendorong mangrove untuk meluas ke daerah dengan lintang yang lebih tinggi. Louisiana mengalami peningkatan luas mangrove secara keseluruhan dalam empat dekade terakhir. Para peneliti juga mencatat bahwa wilayah Delta Sungai Mississippi mulai menunjukkan peningkatan yang lebih tajam setelah tahun 2012.

Zhen Zhang, penulis utama penelitian dan peneliti pascadoktoral di School of Science and Engineering Tulane University, berpendapat bahwa dunia akhirnya mulai memasuki titik balik setelah puluhan tahun mengalami kehilangan mangrove. Menurut Zhang, temuan tersebut memperlihatkan tingkat ketahanan mangrove yang tinggi serta potensinya sebagai solusi berbasis alam untuk mitigasi perubahan iklim dan perlindungan wilayah pesisir.

Meskipun memberikan kabar yang menggembirakan, para peneliti juga menekankan bahwa kondisi mangrove masih jauh dari aman. Hilangnya beberapa bagian dari hutan ini yang terus berlangsung harus dihentikan agar proses pemulihan dapat terus berlanjut.

Friess berpendapat bahwa kondisi mangrove dunia kemungkinan selama ini telah diremehkan. Menurut Friess, terdapat bukti bahwa hutan mangrove memiliki kemampuan beregenerasi dan meluas secara alami. Dengan perlindungan yang tepat, peningkatan luas mangrove global dapat menjadi lebih besar di masa mendatang.

Pada saat yang sama, sebuah penelitian lain yang dipublikasikan dalam Earth’s Future memberikan peringatan baru mengenai ancaman kenaikan permukaan laut. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa peningkatan muka laut dapat mengurangi kemampuan mangrove dalam menyimpan karbon. Dalam beberapa kondisi, ekosistem tersebut bahkan dapat berubah dari penyerap karbon menjadi sumber emisi karbon.

Para peneliti menggunakan model yang menggabungkan aliran air, pergerakan sedimen, penyimpanan karbon, pertumbuhan mangrove, dan fenomena kematian massal pohon untuk memahami dinamika ekosistem secara lebih menyeluruh. Hasilnya menunjukkan bahwa beberapa wilayah mungkin mengalami peningkatan penyimpanan karbon pada tahap awal, namun secara keseluruhan kapasitas penyimpanan karbon hutan mangrove diperkirakan akan menurun selama abad mendatang.

Mangrove membutuhkan banjir pasang surut dalam jumlah tertentu untuk mempertahankan kehidupannya. Akan tetapi, apabila genangan menjadi terlalu besar akibat kenaikan permukaan laut, ekosistem tersebut justru dapat mengalami kerusakan dan bahkan menghilang.

Ini menunjukkan pentingnya menjaga hutan mangrove yang masih ada. Perlindungan dan restorasi mangrove tidak hanya penting bagi keberlangsungan berbagai spesies, tetapi juga bagi kemampuan Bumi dalam menyerap karbon dan mengurangi dampak perubahan iklim.

Friess berharap peningkatan luas mangrove global dapat terus berlangsung pada masa depan. Namun demikian, Friess juga menilai bahwa mempertahankan tren positif tersebut akan menjadi semakin sulit di tengah perubahan iklim yang terus berlangsung. Oleh karena itu, menurut Friess, konservasi dan restorasi mangrove harus dilakukan sejak sekarang agar ekosistem tersebut memiliki peluang terbaik untuk bertahan pada masa depan.

Temuan terbaru ini menunjukkan bahwa hutan mangrove memiliki kemampuan pulih yang lebih besar daripada yang selama ini diperkirakan. Data satelit selama empat dekade mengungkap bahwa peningkatan luas mangrove telah melampaui tingkat kehilangan sejak tahun 2010. Meskipun demikian, ancaman perubahan iklim dan kenaikan permukaan laut masih dapat mengurangi kemampuan mangrove dalam menyimpan karbon bahkan menyebabkan hilangnya ekosistem tersebut. Kondisi tersebut menjadikan upaya konservasi dan restorasi sebagai faktor penting untuk memastikan mangrove tetap mampu melindungi wilayah pesisir dan mendukung keseimbangan iklim global.

Diolah dari artikel:
“Satellite images reveals mangroves rebounding worldwide — but here’s why they could still ‘drown'” oleh Kenna Hughes-Castleberry. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.livescience.com/planet-earth/satellite-images-reveals-mangroves-rebounding-worldwide-but-heres-why-they-could-still-drown

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *