Sumber ilustrasi: Pixabay
09 Juni 2026 15.05 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [09.06.2026] Siapa yang tidak mengenal koala? Koala merupakan salah satu satwa khas Australia yang menghadapi berbagai ancaman di banyak wilayah bagian timur negara tersebut. Kehilangan habitat, perubahan lingkungan, dan berbagai tekanan lainnya menyebabkan populasi koala mengalami penurunan di sejumlah daerah. Akan tetapi kondisi berbeda justru ditemukan di Australia Selatan. Sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa populasi koala di kawasan Mount Lofty Ranges berkembang pesat hingga mencapai tingkat yang justru dapat mengancam keberlangsungan spesies tersebut dalam jangka panjang.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Ecology and Evolution dipimpin oleh Dr. Frédérik Saltré, yang menjabat sebagai ilmuwan peneliti di Australian Museum sekaligus dosen senior Ekologi dan Biogeografi di University of Technology Sydney (UTS). Penelitian tersebut juga melibatkan para ilmuwan dari Flinders University dan University of Wollongong.
Berdasarkan hasil penelitian, populasi koala di Mount Lofty Ranges diperkirakan kini mencakup sekitar 10 persen dari seluruh populasi koala di Australia. Angka tersebut menunjukkan bahwa wilayah tersebut telah menjadi salah satu pusat populasi terbesar bagi spesies tersebut.
Analisis para peneliti memperlihatkan bahwa apabila tidak ada langkah pengelolaan yang dilakukan, jumlah koala dapat meningkat lagi sekitar 17 hingga 25 persen dalam kurun waktu 25 tahun mendatang. Peningkatan populasi tersebut diperkirakan akan memberikan tekanan yang semakin besar terhadap sumber makanan, vegetasi asli, serta keseimbangan ekosistem secara keseluruhan.
Dr. Frédérik Saltré menjelaskan bahwa sebagian besar wilayah Australia timur mengalami penurunan populasi koala, sementara Mount Lofty Ranges menghadapi masalah yang berlawanan berupa ledakan populasi. Menurut Dr. Saltré, kepadatan koala di banyak lokasi telah jauh melampaui kapasitas yang dapat didukung oleh ekosistem setempat. Kondisi tersebut meningkatkan risiko terjadinya konsumsi daun secara berlebihan yang pada akhirnya dapat merusak hutan yang menjadi sumber makanan utama bagi koala.
Dr. Saltré juga memperingatkan bahwa jika tren tersebut terus berlanjut, beberapa dekade mendatang sangat mungkin akan terjadi peristiwa kelaparan massal dan kematian dalam jumlah besar pada populasi koala.
Untuk memahami kondisi tersebut secara lebih rinci, para peneliti menggabungkan teknik pemodelan spasial canggih dengan ribuan data pengamatan yang berasal dari program citizen science. Pendekatan tersebut memungkinkan para ilmuwan memperoleh gambaran yang lebih akurat mengenai distribusi dan kepadatan populasi koala di seluruh wilayah penelitian.
Hasil analisis menunjukkan bahwa kepadatan koala di banyak bagian Mount Lofty Ranges saat ini telah melampaui tingkat yang dianggap berkelanjutan. Temuan tersebut menyoroti tantangan baru bagi para pengelola konservasi. Berbeda dengan daerah lain yang berupaya meningkatkan jumlah koala, wilayah ini justru menghadapi persoalan bagaimana menjaga populasi agar tetap berada dalam batas yang dapat didukung oleh lingkungan.
Metode pengelolaan tradisional seperti pemusnahan atau relokasi populasi sering kali menimbulkan perdebatan etis dan mendapat penolakan dari masyarakat. Selain itu, pendekatan tersebut dinilai kurang sesuai untuk diterapkan pada satwa ikonik yang memiliki nilai budaya dan simbolis tinggi bagi Australia.
Dr. Katharina Peters dari University of Wollongong, yang menjadi salah satu penulis penelitian, menjelaskan bahwa para peneliti menghadapi dilema konservasi yang cukup rumit. Dr. Peters menilai bahwa tantangan utama saat ini adalah mencari cara mengelola spesies yang justru terancam oleh kelimpahannya sendiri, sekaligus menjaga kesejahteraan hewan dan kesehatan ekosistem dalam jangka panjang.
Untuk mencari solusi yang lebih efektif dan dapat diterima secara sosial, tim peneliti melakukan evaluasi terhadap berbagai strategi pengelolaan populasi menggunakan simulasi komputer. Berbagai skenario diuji untuk mengetahui pendekatan mana yang paling mampu menjaga populasi tetap stabil.
Hasil simulasi menunjukkan bahwa pengendalian kesuburan secara terarah menjadi salah satu strategi yang paling menjanjikan. Pendekatan tersebut dilakukan dengan mensterilkan sekitar 22 persen koala betina dewasa setiap tahun di wilayah yang memiliki kepadatan populasi tertinggi, tanpa harus menerapkan metode yang sama di seluruh kawasan.
Para peneliti memperkirakan bahwa program tersebut akan membutuhkan biaya sekitar 34 juta dolar selama periode 25 tahun. Meskipun memerlukan investasi yang besar, pendekatan tersebut dinilai lebih manusiawi dibandingkan alternatif lain yang tersedia.
Menurut Dr. Frédérik Saltré, keunikan dari pendekatan tersebut terletak pada sifatnya yang proaktif. Dr. Saltré menjelaskan bahwa penggunaan simulasi komputer memungkinkan para peneliti menentukan strategi yang paling efektif sebelum dana konservasi dikeluarkan, sehingga biaya dan investasi publik dapat dioptimalkan.
Para peneliti juga menekankan bahwa pendekatan berbasis bukti ilmiah akan semakin penting pada masa mendatang. Perubahan iklim yang terus berlangsung diperkirakan akan memengaruhi habitat serta distribusi berbagai spesies, sehingga alat prediksi ilmiah dapat membantu para pengambil kebijakan dalam menyeimbangkan kebutuhan ekologis dengan pertimbangan sosial masyarakat.
Penelitian tersebut juga melanjutkan upaya sebelumnya yang dilakukan Australian Museum dalam mengurutkan sekitar 20.000 gen koala. Penelitian genetika tersebut telah membuka peluang baru bagi riset medis, meningkatkan pemahaman mengenai sejarah evolusi koala, serta memberikan wawasan tambahan mengenai upaya konservasi spesies tersebut pada masa depan.
Peningkatan populasi tidak selalu menjadi indikator keberhasilan konservasi yang sepenuhnya positif. Di Mount Lofty Ranges, jumlah koala yang terlalu tinggi justru dapat mengancam sumber makanan dan meningkatkan risiko kelaparan massal pada masa mendatang. Simulasi yang dilakukan para peneliti menunjukkan bahwa pengendalian kesuburan secara terarah berpotensi menjadi solusi yang lebih manusiawi untuk menjaga keseimbangan antara keberlangsungan populasi koala dan kesehatan ekosistem tempat spesies tersebut hidup.
Diolah dari artikel:
“South Australia’s koala boom could end in mass starvation” oleh University of Technology Sydney. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/06/260606075846.htm