Sumber ilustrasi: Unsplash
09 Juni 2026 15.30 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [09.06.2026] Ilmuwan telah lama meyakini bahwa alur kecil yang ditemukan pada gigi manusia purba merupakan bukti bahwa nenek moyang manusia telah menggunakan alat sederhana untuk membersihkan gigi atau mengurangi rasa sakit pada gusi. Sebagian peneliti bahkan menyebut perilaku tersebut sebagai salah satu kebiasaan tertua dalam sejarah manusia. Akan tetapi, penelitian terbaru menunjukkan bahwa penafsiran tersebut mungkin tidak sepenuhnya benar. Studi yang dipublikasikan dalam American Journal of Biological Anthropology menemukan bahwa alur serupa ternyata juga muncul secara alami pada berbagai spesies primata liar. Temuan tersebut memunculkan pertanyaan baru mengenai bagaimana para ilmuwan memahami jejak perilaku manusia purba dari catatan fosil.
Gigi merupakan bagian tubuh yang paling tahan lama dan sering kali tetap bertahan setelah bagian tubuh lainnya telah mengalami pelapukan. Karena alasan tersebut, para antropolog sangat bergantung pada gigi untuk merekonstruksi pola makan, gaya hidup, dan kesehatan makhluk hidup masa lampau. Bahkan tanda yang sangat kecil pada permukaan gigi dapat memberikan informasi penting mengenai sejarah evolusi.
Salah satu tanda yang telah lama menarik perhatian adalah adanya alur tipis yang melintang pada akar gigi yang terbuka, terutama di antara gigi-gigi yang berdekatan. Sejak awal abad ke-20, tanda tersebut dikenal sebagai “toothpick grooves” dan dianggap sebagai bukti penggunaan alat sederhana atau praktik kebersihan gigi pada manusia purba.
Alur semacam itu telah dilaporkan pada berbagai spesies manusia purba, mulai dari fosil yang berusia sekitar dua juta tahun hingga Neanderthal. Keberadaan tanda tersebut memperkuat pandangan bahwa penggunaan alat untuk membersihkan gigi merupakan kebiasaan yang telah diwariskan sejak masa yang sangat awal dalam evolusi manusia.
Selain alur tersebut, para peneliti juga telah lama memperhatikan kondisi lain yang disebut abfraksi. Lesi ini berbentuk cekungan menyerupai baji pada bagian dekat garis gusi dan sangat umum ditemukan pada manusia modern. Kondisi tersebut sering dikaitkan dengan kebiasaan menggemeretakkan gigi, menyikat gigi terlalu keras, atau mengonsumsi minuman yang bersifat asam. Ketiadaan lesi tersebut pada catatan fosil selama ini menjadi salah satu teka-teki dalam penelitian gigi.
Untuk menguji berbagai asumsi tersebut, para peneliti menganalisis lebih dari 500 gigi dari 27 spesies primata yang masih hidup maupun yang telah punah. Sampel penelitian meliputi gorila, orangutan, monyet makaka, monyet colobus, berbagai spesies kera fosil, dan sejumlah primata lainnya.
Seluruh spesimen berasal dari populasi liar sehingga pola keausan gigi yang diamati tidak dipengaruhi oleh kebiasaan manusia modern seperti penggunaan sikat gigi, konsumsi minuman ringan, maupun makanan olahan. Para peneliti memusatkan perhatian pada lesi servikal non-karies, yaitu kerusakan pada bagian leher gigi yang tidak disebabkan oleh pembusukan.
Dengan menggunakan mikroskop, pemindaian tiga dimensi, dan pengukuran kehilangan jaringan gigi, para peneliti mendokumentasikan bahkan kerusakan yang paling kecil sekalipun. Pendekatan tersebut memungkinkan identifikasi pola keausan secara lebih rinci dibandingkan penelitian sebelumnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar empat persen individu memiliki lesi pada gigi. Sebagian lesi tersebut sangat mirip dengan alur yang selama ini dianggap sebagai bekas penggunaan tusuk gigi pada manusia purba. Pola tersebut bahkan memiliki goresan halus yang sejajar dan bentuk yang meruncing.
Lesi lainnya memiliki bentuk yang dangkal dan permukaan yang lebih halus, terutama pada gigi depan. Para peneliti menduga pola tersebut berkaitan dengan konsumsi buah-buahan yang bersifat asam, yang merupakan bagian penting dari pola makan berbagai spesies primata.
Temuan yang paling menarik justru berasal dari sesuatu yang tidak ditemukan. Meskipun beberapa spesies memiliki pola makan yang sangat keras dan menghasilkan gaya kunyah yang kuat, para peneliti tidak menemukan satu pun lesi abfraksi berbentuk baji yang umum dijumpai pada manusia modern.
Berdasarkan hasil tersebut, para peneliti menyimpulkan bahwa alur yang menyerupai bekas tusuk gigi tidak selalu menjadi bukti penggunaan alat secara sengaja. Proses mengunyah alami, makanan yang bersifat abrasif, hingga partikel pasir yang ikut tertelan dapat menghasilkan pola yang serupa. Beberapa perilaku khusus, seperti penggunaan gigi untuk mengupas bagian tumbuhan tertentu, juga dapat berkontribusi terhadap pembentukan alur tersebut.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa para ilmuwan perlu lebih berhati-hati ketika menafsirkan setiap alur pada gigi fosil sebagai tanda adanya perilaku budaya tertentu. Penjelasan alami dapat menghasilkan pola yang hampir tidak dapat dibedakan dari tanda yang selama ini dianggap sebagai bukti penggunaan alat.
Ketiadaan lesi abfraksi pada seluruh sampel primata memberikan petunjuk bahwa masalah tersebut kemungkinan merupakan fenomena yang khas pada manusia modern. Para peneliti menduga bahwa penyebab utama kondisi tersebut lebih berkaitan dengan kebiasaan menyikat gigi secara berlebihan, konsumsi minuman asam, serta pola makan modern dibandingkan dengan tekanan alami selama proses mengunyah.
Kondisi tersebut menambah daftar berbagai masalah gigi yang umum ditemukan pada manusia tetapi jarang dijumpai pada primata liar, seperti gigi bungsu yang tumbuh tidak sempurna dan susunan gigi yang tidak teratur. Temuan-temuan tersebut telah mendorong berkembangnya bidang yang dikenal sebagai kedokteran gigi evolusioner.
Bidang tersebut memanfaatkan pemahaman mengenai sejarah evolusi untuk menjelaskan berbagai masalah kesehatan gigi pada manusia masa kini. Dengan membandingkan manusia dan kerabat primata terdekat, para ilmuwan dapat membedakan kerusakan gigi yang merupakan konsekuensi alami dari proses mengunyah dengan kerusakan yang muncul akibat gaya hidup modern.
Penelitian ini juga memiliki implikasi penting bagi antropologi dan kedokteran gigi. Dalam bidang evolusi manusia, hasil tersebut menunjukkan pentingnya mempelajari primata lain sebelum menganggap suatu ciri sebagai perilaku budaya yang unik pada manusia.
Dalam bidang kesehatan, penelitian tersebut memperlihatkan bahwa pola makan dan gaya hidup manusia modern telah mengubah kondisi gigi secara mendalam. Perubahan tersebut membedakan manusia dari sebagian besar primata lainnya.
Para peneliti berencana memperluas penelitian dengan melibatkan lebih banyak spesies primata serta mempelajari hubungan antara pola makan dan kerusakan gigi pada populasi liar. Teknologi pencitraan yang lebih maju juga akan digunakan untuk memahami proses pembentukan lesi secara lebih rinci.
Ian Towle dan Luca Fiorenza menjelaskan bahwa tujuan penelitian di masa mendatang adalah memperbaiki interpretasi terhadap catatan fosil sekaligus menemukan cara baru untuk mencegah penyakit gigi pada manusia modern. Menurut kedua peneliti tersebut, kumpulan data yang lebih besar diperlukan untuk mengungkap pola yang lebih luas dan menghasilkan penafsiran yang lebih akurat mengenai sejarah evolusi manusia.
Sebagian alur pada gigi manusia purba yang selama ini dianggap sebagai bukti kebiasaan membersihkan gigi dengan alat sederhana kemungkinan besar dapat terbentuk secara alami melalui proses mengunyah atau perilaku makan tertentu. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa beberapa masalah gigi yang umum dialami manusia modern tampaknya merupakan konsekuensi dari gaya hidup masa kini dan tidak ditemukan pada primata liar. Hasil penelitian ini memberikan perspektif baru mengenai hubungan antara evolusi manusia dan kesehatan gigi pada zaman modern.
Diolah dari artikel:
“Scientists may have debunked one of humanity’s oldest habits” oleh Ian Towle dan Luca Fiorenza. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/06/260606075855.htm