Sumber ilustrasi: Unsplash
10 Juni 2026 10.25 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [10.06.2026] Bahan kimia perusak lapisan ozon seperti chlorofluorocarbon (CFC) telah lama digantikan oleh senyawa lain yang dianggap lebih aman bagi atmosfer Bumi. Penggantian tersebut dipandang sebagai salah satu keberhasilan penting dalam perlindungan lingkungan global. Akan tetapi, penelitian terbaru menunjukkan bahwa sebagian bahan kimia pengganti tersebut justru memunculkan masalah lingkungan baru yang sebelumnya tidak diperkirakan.
Dalam studi yang dipublikasikan di Geophysical Research Letters, para peneliti yang dipimpin oleh Lancaster University menemukan bahwa bahan kimia pengganti CFC serta beberapa senyawa anestesi telah menyebabkan sekitar 335.500 ton asam trifluoroasetat (TFA) mengendap dari atmosfer ke permukaan Bumi sepanjang periode 2000 hingga 2022. TFA termasuk kelompok zat PFAS atau “forever chemicals” yang dikenal sangat sulit terurai dan dapat bertahan di lingkungan dalam jangka waktu yang sangat lama.
Masalah tersebut diperkirakan masih akan terus berkembang. Sebagian senyawa pengganti CFC memiliki masa hidup atmosfer yang panjang sehingga produksi TFA diperkirakan akan terus meningkat. Produksi tahunan TFA dari sumber-sumber tersebut diperkirakan mencapai puncaknya antara tahun 2025 hingga 2100.
Penelitian tersebut menggunakan model transportasi kimia yang mampu melacak pergerakan berbagai senyawa di atmosfer, interaksi dengan zat lain, serta proses pengendapannya kembali ke permukaan Bumi. Dengan pendekatan tersebut, para peneliti menghitung jumlah TFA yang dihasilkan ketika hydrochlorofluorocarbon (HCFC), hydrofluorocarbon (HFC), serta bahan kimia anestesi inhalasi mengalami penguraian di atmosfer.
HCFC dan HFC selama ini banyak digunakan dalam sistem pendingin dan pendingin udara. Meskipun kedua kelompok senyawa tersebut secara bertahap mulai dihentikan penggunaannya melalui Protokol Montreal dan Amandemen Kigali, konsentrasi gas-gas tersebut di atmosfer masih terus meningkat.
TFA sendiri merupakan bagian dari keluarga besar senyawa perfluoroalkil dan polifluoroalkil atau PFAS. Kelompok senyawa ini dijuluki sebagai bahan kimia abadi karena memiliki ketahanan yang sangat tinggi terhadap proses degradasi alami.
Dampak jangka panjang TFA terhadap lingkungan dan kesehatan manusia masih terus dipelajari. Badan Kimia Eropa telah mengklasifikasikan TFA sebagai zat yang berbahaya bagi kehidupan akuatik. Selain itu, para peneliti juga telah menemukan keberadaan TFA dalam darah dan urin manusia.
Kantor Federal Bahan Kimia Jerman bahkan baru-baru ini mengusulkan agar TFA diklasifikasikan sebagai senyawa yang berpotensi bersifat toksik terhadap reproduksi manusia. Meskipun beberapa lembaga menyatakan bahwa konsentrasi TFA saat ini masih berada di bawah batas yang diperkirakan membahayakan manusia, kekhawatiran tetap muncul karena zat tersebut terus terakumulasi dan sangat sulit dihilangkan dari lingkungan.
Akumulasi yang terus bertambah tersebut telah mendorong sebagian ilmuwan untuk mempertimbangkan TFA sebagai ancaman terhadap batas planet atau planetary boundary. Lucy Hart, peneliti doktoral dari Lancaster University sekaligus penulis utama penelitian, menjelaskan bahwa penelitian tersebut menunjukkan bahan pengganti CFC kemungkinan merupakan sumber atmosfer utama TFA. Menurut Lucy Hart, temuan tersebut menyoroti pentingnya mempertimbangkan risiko yang lebih luas ketika menggantikan bahan kimia berbahaya seperti CFC.
Untuk menguji hasil perhitungan mereka, para peneliti membandingkan estimasi model dengan pengamatan nyata, termasuk pengukuran air hujan dan inti es dari kawasan Arktik. Model tersebut juga memasukkan data dari jaringan pemantauan global yang melacak konsentrasi gas-gas pembentuk TFA beserta distribusinya di berbagai wilayah dunia.
Ketika gas-gas tersebut bereaksi dengan senyawa lain di atmosfer, senyawa tersebut akhirnya terurai dan menghasilkan TFA. Peneliti juga memasukkan pola cuaca yang realistis dalam simulasi. TFA dapat kembali ke permukaan Bumi melalui hujan ataupun melalui proses pengendapan langsung ke daratan dan perairan.
Salah satu temuan paling menarik berasal dari kawasan Arktik. Model penelitian menunjukkan bahwa hampir seluruh TFA yang ditemukan di wilayah tersebut berasal dari bahan kimia pengganti CFC, meskipun kawasan tersebut berada jauh dari sumber emisi utama.
Lucy Hart menjelaskan bahwa bahan pengganti CFC memiliki umur atmosfer yang panjang sehingga mampu berpindah dari lokasi pelepasannya menuju wilayah terpencil seperti Arktik sebelum akhirnya terurai dan membentuk TFA. Lucy Hart juga menjelaskan bahwa penelitian sebelumnya telah menemukan peningkatan kadar TFA pada inti es Arktik, dan hasil terbaru tersebut memberikan bukti kuat bahwa hampir seluruh endapan tersebut dapat dijelaskan oleh keberadaan gas-gas tersebut.
Penelitian tersebut juga mengidentifikasi sumber TFA yang semakin meningkat di luar wilayah kutub. Analisis para peneliti menunjukkan bahwa HFO-1234yf, refrigeran yang banyak digunakan dalam sistem pendingin udara kendaraan, kini menjadi kontributor yang semakin penting.
Profesor Ryan Hossaini dari Lancaster University yang turut menjadi penulis penelitian menjelaskan bahwa HFO merupakan generasi terbaru refrigeran sintetis yang dipasarkan sebagai alternatif ramah iklim bagi HFC. Menurut Ryan Hossaini, sejumlah HFO diketahui dapat menghasilkan TFA dan meningkatnya penggunaan bahan tersebut dalam sistem pendingin kendaraan di Eropa dan wilayah lainnya menambah ketidakpastian mengenai kadar TFA di masa depan.
Ryan Hossaini juga menegaskan bahwa pencemaran TFA perlu mendapat perhatian karena penyebarannya sudah sangat luas, sifatnya sangat persisten, serta konsentrasinya terus meningkat.
Para peneliti menilai hasil penelitian tersebut menunjukkan perlunya pemahaman yang lebih mendalam mengenai pencemaran TFA dan dampaknya terhadap lingkungan. Ryan Hossaini menjelaskan bahwa meskipun penggunaan HFC terus dikurangi, sumber TFA dari gas-gas tersebut akan tetap bertahan selama beberapa dekade. Ryan Hossaini menilai bahwa diperlukan upaya internasional yang terkoordinasi, termasuk pemantauan TFA yang lebih luas di Inggris dan berbagai negara lainnya.
Profesor Cris Halsall, Direktur Lancaster Environment Centre sekaligus salah satu penulis penelitian, menjelaskan bahwa selama ini TFA umumnya dipandang sebagai hasil penguraian beberapa pestisida berfluorin. Akan tetapi, temuan terbaru menunjukkan bahwa TFA sebenarnya berasal dari kelompok organofluorin yang jauh lebih luas, termasuk refrigeran, pelarut, obat-obatan, serta berbagai senyawa PFAS lainnya.
Penulis lainnya, Dr. Stefan Reimann dari Swiss yang timnya memantau gas-gas pembentuk TFA di atmosfer, menjelaskan bahwa peningkatan konsentrasi dan deposisi TFA kini mulai terlihat secara konsisten di berbagai wilayah dunia. Stefan Reimann menilai penelitian tersebut menjadi yang pertama menggabungkan seluruh sumber penting TFA atmosfer dengan cakupan global. Menurut Stefan Reimann, peningkatan penggunaan HFO berpotensi menyebabkan akumulasi TFA dalam badan air semakin besar sehingga pemantauan jangka panjang menjadi sangat penting.
Bahan kimia yang awalnya diperkenalkan untuk menggantikan senyawa perusak ozon ternyata telah menjadi sumber utama pencemaran TFA secara global. Dengan sifatnya yang sangat persisten dan konsentrasinya yang terus meningkat, TFA berpotensi menjadi tantangan lingkungan jangka panjang. Penelitian ini menegaskan pentingnya pemantauan internasional yang lebih luas serta perlunya mempertimbangkan dampak lingkungan secara menyeluruh ketika memperkenalkan bahan kimia pengganti baru.
Diolah dari artikel:
“An invisible forever chemical rain is falling across the planet” oleh Lancaster University. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/06/260609025509.htm