Sumber ilustrasi: Pixabay
10 Juni 2026 10.45 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [10.06.2026] Anda mungkin memiliki kontrol terhadap pilihan makanan yang anda konsumsi. Akan tetapi, apa yang anda tidak sadari adalah keputusan mengenai apa yang dimakan ternyata dipengaruhi oleh berbagai rangsangan sensorik yang sering kali tidak disadari. Warna kemasan, posisi produk di rak, suara di sekitar saat makan, hingga berat piring dan alat makan dapat memengaruhi persepsi terhadap makanan serta jumlah yang dikonsumsi.
Charles Spence, psikolog ilmu pangan dari University of Oxford di Inggris, menjelaskan bahwa rasa tidak hanya berasal dari mulut. Menurut Charles Spence, seluruh indera manusia berkontribusi dalam membentuk pengalaman menikmati makanan. Sebelum makanan dicicipi, otak telah lebih dahulu membentuk ekspektasi berdasarkan apa yang dilihat, didengar, disentuh, dan dicium.
Pemahaman mengenai keterlibatan berbagai indera tersebut mendorong munculnya pendekatan baru yang memanfaatkan psikologi dan ilmu sensorik untuk membantu manusia membuat pilihan makan yang lebih sehat. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa mekanisme yang selama ini memengaruhi kebiasaan makan dapat dimanfaatkan untuk mendorong pola konsumsi yang lebih baik.
Saat berbelanja, penglihatan memainkan peran penting dalam menentukan pilihan. Warna kemasan, logo merek, hingga tingkat kilau pada pembungkus makanan memengaruhi persepsi mengenai produk di dalamnya. Produk yang lebih mencolok secara visual cenderung lebih menarik perhatian dibandingkan produk lain.
Sebuah penelitian menemukan bahwa peserta lebih sering memilih gambar makanan sehat ketika warna makanan tersebut dibuat lebih cerah dan menarik, bahkan ketika makanan tidak sehat tersedia tepat di sebelahnya. Fenomena tersebut berkaitan dengan apa yang disebut sebagai “salience bias”, yaitu kecenderungan manusia untuk memusatkan perhatian pada objek yang paling menonjol.
Betina Piqueras-Fiszman, profesor madya bidang pemasaran dan perilaku konsumen di Wageningen University, Belanda, menjelaskan bahwa warna kemasan juga memengaruhi persepsi kesehatan suatu produk. Menurut Betina Piqueras-Fiszman, warna cokelat, hijau, dan putih lebih sering diasosiasikan dengan makanan sehat, sedangkan warna merah, kuning, ungu, serta kemasan mengilap lebih identik dengan makanan yang dianggap memanjakan diri.
Charles Spence menyarankan agar makanan ringan dengan kemasan mencolok disimpan di dalam wadah yang tidak tembus pandang. Cara tersebut dapat mengurangi rangsangan visual yang memicu keinginan mengonsumsi camilan secara impulsif.
Posisi produk di rak toko juga memengaruhi keputusan pembelian. Manusia cenderung memilih barang yang mudah dijangkau atau berada sejajar dengan pandangan mata. Prinsip ini dikenal sebagai “principle of least effort”, yang kerap dimanfaatkan oleh peritel untuk meningkatkan penjualan produk tertentu.
Banyak supermarket menempatkan makanan ringan dan produk yang menggoda di dekat kasir serta memosisikan barang yang lebih mahal pada ketinggian mata. Penempatan tersebut dapat mendorong pembelian yang sebelumnya tidak direncanakan.
Sejumlah negara mulai mengambil langkah untuk mengatasi pengaruh tersebut. Inggris, misalnya, melarang penempatan makanan tinggi lemak, garam, dan gula di dekat area pembayaran. Beberapa negara di Eropa juga memperkenalkan sistem label yang memberikan informasi mengenai kandungan gizi makanan.
Penelitian lain menunjukkan bahwa ketika buah-buahan ditempatkan di dekat kasir, konsumen cenderung membeli lebih banyak produk tersebut. Temuan tersebut menunjukkan bahwa perubahan sederhana pada lingkungan dapat membantu membentuk kebiasaan makan yang lebih sehat.
Cara penyajian makanan juga terbukti memengaruhi persepsi rasa. Makanan penutup yang disajikan di atas piring bulat berwarna putih dinilai lebih manis dibandingkan makanan yang sama ketika disajikan di atas piring hitam dengan bentuk bersudut. Efek serupa juga ditemukan pada bentuk kemasan, yang menunjukkan bahwa manusia cenderung lebih menyukai desain yang melengkung dibandingkan bentuk yang tajam.
Charles Spence menjelaskan bahwa rasa merupakan hasil gabungan dari berbagai indera, bukan hanya persepsi sederhana yang berasal dari mulut.
Berat wadah dan alat makan juga dapat memengaruhi tingkat kepuasan setelah makan. Sebuah penelitian menemukan bahwa orang merasa akan lebih kenyang ketika makanan disajikan dalam wadah yang lebih berat, bahkan sebelum makanan tersebut dicicipi.
Betina Piqueras-Fiszman menjelaskan bahwa peserta penelitian langsung memiliki persepsi akan merasa lebih kenyang hanya setelah mencicipi satu sendok makanan. Penelitian lain menunjukkan bahwa alat makan yang lebih berat dapat meningkatkan kepuasan terhadap hidangan yang dikonsumsi.
Tampilan makanan di atas piring juga memengaruhi ekspektasi terhadap rasa. Dalam sebuah penelitian, salad yang disusun menyerupai lukisan karya Wassily Kandinsky dinilai lebih lezat dan bahkan memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan bahan yang sama yang disajikan secara biasa.
Charles Spence menyarankan agar piring diisi dengan berbagai sayuran dan daun berwarna-warni untuk meningkatkan daya tarik visual sekaligus menciptakan kesan kesegaran yang lebih tinggi.
Suara di sekitar saat makan juga berpengaruh terhadap perilaku konsumsi. Konsep yang dikenal sebagai “sonic seasoning” menunjukkan bahwa musik yang diputar dapat mengubah persepsi rasa maupun kecepatan makan seseorang.
Musik dengan tempo lambat diketahui membuat orang makan lebih perlahan. Kebiasaan makan perlahan sendiri berkaitan dengan konsumsi kalori yang lebih rendah. Nada tinggi cenderung diasosiasikan dengan rasa manis, sedangkan nada rendah dapat meningkatkan persepsi rasa pahit. Temuan tersebut bahkan mendorong beberapa perusahaan menggunakan musik tertentu untuk memperkuat pengalaman menikmati makanan.
Menghindari gangguan seperti televisi atau menggunakan handphone ketika makan juga terbukti membantu mengurangi asupan kalori. Selain itu, suara alam diketahui dapat mendorong pilihan makanan yang lebih berkelanjutan.
Barbara Rolls, profesor ilmu nutrisi dari Pennsylvania State University, meneliti cara lain untuk mengurangi kalori tanpa mengurangi ukuran porsi makanan. Menurut Barbara Rolls, manusia cenderung mengonsumsi volume makanan yang sama tanpa terlalu memperhatikan jumlah kalorinya.
Barbara Rolls menemukan bahwa kandungan kalori makanan dapat dikurangi hingga sekitar 25 persen dengan menambahkan sayuran yang dihaluskan, seperti kembang kol atau bayam, ke dalam hidangan. Karena volume dan rasa makanan tetap terjaga, peserta penelitian tidak menyadari perubahan tersebut dan tetap merasa kenyang meskipun mengonsumsi lebih sedikit kalori.
Charles Spence menekankan bahwa manusia jarang makan semata-mata dikarenakan rasa lapar yang mendesak. Menurut Charles Spence, penglihatan, suara, dan aroma di sekitar sering kali menjadi pemicu utama keinginan untuk makan.
Fenomena lain yang menunjukkan pengaruh rangsangan eksternal adalah “dessert-stomach effect”. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa sekadar melihat makanan penutup dapat memunculkan keinginan untuk mengonsumsinya, bahkan ketika seseorang sudah merasa kenyang.
Berbagai temuan tersebut menunjukkan bahwa perilaku makan manusia sangat dipengaruhi oleh interaksi kompleks antara indera dan lingkungan sekitar. Dengan memahami mekanisme tersebut, manusia dapat memanfaatkan berbagai rangsangan sensorik untuk membangun pola makan yang lebih sehat tanpa harus melakukan perubahan yang drastis.
Pilihan makanan tidak sepenuhnya ditentukan oleh rasa lapar atau kehendak sadar, melainkan juga oleh pengaruh visual, suara, tekstur, dan berbagai rangsangan sensorik lainnya. Pemanfaatan pengetahuan mengenai cara kerja indera manusia membuka peluang untuk membentuk kebiasaan makan yang lebih sehat melalui perubahan sederhana dalam lingkungan, penyajian makanan, maupun cara menikmati hidangan sehari-hari.
Diolah dari artikel:
“Seven ways to trick yourself into eating better” oleh Melissa Hogenboom. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.bbc.com/future/article/20260605-how-to-trick-yourself-into-eating-better