Sumber ilustrasi: Pixabay
24 Juni 2026 10.20 WIB – Climate Change
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [24.06.2026] Dalam banyak cerita fiksi dan permainan fantasi, badai dapat digambarkan sebagai sesuatu yang hampir abadi. Hujan, petir, dan awan gelap dapat terus menggantung di suatu wilayah sampai tokoh utama menyelesaikan misi tertentu. Gambaran seperti ini muncul dalam The Legend of Zelda, ketika wilayah Faron diguyur hujan deras dan Thunderhead Isles terus diliputi kilat serta badai.
Pertanyaannya, apakah hal tersebut juga berlaku di dalam dunia nyata? Ternyata badai nyatanya tidak dapat berlangsung selamanya. Para ilmuwan menjelaskan bahwa badai muncul karena adanya ketidakseimbangan sementara di atmosfer, terutama antara suhu, kelembapan, dan energi.
Stephanie Spera dari University of Richmond menjelaskan bahwa badai pada dasarnya befungsi untuk memperbaiki ketidakseimbangan sementara tersebut. Ketika atmosfer kembali pada keadaan yang lebih seimbang, maka badai akan melemah dan berakhir.
Chris Vagasky, direktur Wisconsin Environmental Mesonet, menjelaskan bahwa tujuan utama proses cuaca adalah mengembalikan atmosfer ke keadaan seimbang. Meskipun badai petir dapat terlihat ganas, proses tersebut membantu mendistribusikan panas, kelembapan, dan muatan listrik di atmosfer.
Analisis fisika atmosfer menunjukkan bahwa badai abadi seperti dalam dunia fantasi hampir mustahil terjadi di Bumi. Agar badai petir terus berlangsung tanpa henti, ketidakseimbangan yang memicunya harus dipertahankan terus-menerus.
Badai petir terbentuk ketika udara hangat dan lembap naik dengan cepat lalu bertemu udara yang lebih dingin di atmosfer. Pertemuan tersebut menciptakan kondisi tidak stabil yang menjadi bahan dasar pembentukan badai.
Kelembapan yang dibutuhkan badai sering berasal dari penguapan air laut. Ketika udara hangat yang mengandung uap air naik, terbentuk arus udara ke atas atau updraft.
Uap air dalam udara tersebut kemudian mengembun menjadi tetesan air dan membentuk awan kumulus. Proses pembentukan awan melepaskan energi dalam bentuk panas, yang kemudian memperkuat arus naik dan memberi tenaga tambahan bagi badai.
Di dalam awan, tetesan air bertabrakan dengan kristal es. Tabrakan tersebut menghasilkan muatan listrik statis yang kemudian dapat memicu petir.
Ketika awan semakin besar, tetesan air menjadi cukup berat untuk jatuh sebagai hujan. Hujan dan es yang turun membentuk arus udara dingin ke bawah atau downdraft.
Downdraft mendinginkan awan dan pada akhirnya mengalahkan arus udara hangat yang naik. Saat mekanisme ini terjadi, atmosfer mulai kembali menuju keseimbangan dan badai pun melemah.
Sebagian besar badai petir hanya berlangsung paling lama sekitar satu jam. Untuk menciptakan badai yang seolah tidak berhenti, menurut Vagasky, semua bahan pembentuk badai harus tersedia secara terus-menerus.
Salah satu syarat utamanya adalah adanya aliran udara hangat dan lembap yang tidak putus. Vagasky menggambarkan kebutuhan tersebut seperti sabuk konveyor udara hangat dan lembap yang terus memasok energi bagi badai.
Udara tersebut kemungkinan harus dipanaskan oleh sinar matahari selama 24 jam penuh. Selain itu, wilayah yang mengalami badai juga kemungkinan perlu berada dekat pegunungan agar udara lembap terdorong naik dan mengembun menjadi awan.
Meski begitu, badai tetap tidak dapat tinggal di satu tempat selamanya. Atmosfer Bumi selalu bergerak, dan berbagai sabuk angin besar terus mengalir berdasarkan garis lintang.
Beberapa badai bahkan didorong oleh jet stream, yaitu pita angin sempit dan sangat cepat yang bergerak di atmosfer atas. Jet stream dapat memindahkan sistem cuaca dari satu wilayah ke wilayah lain dengan kecepatan hingga sekitar 320 kilometer per jam.
Vagasky menjelaskan bahwa jet stream sangat membantu mendorong aktivitas cuaca dari satu tempat ke tempat lain. Karena itu, badai yang kuat sekalipun biasanya tetap akan bergerak.
Namun demikian, pola angin tertentu kadang dapat membuat badai bertahan lebih lama di satu wilayah. Sistem tekanan tinggi atau pola jet stream dapat menyebabkan badai tropis seolah berhenti sementara di lokasi tertentu.
Contoh nyata terjadi pada Agustus 2017 ketika Badai Harvey tertahan di atas Houston, Texas, selama sekitar empat hari. Angin dominan yang lemah membuat dua sistem tekanan tinggi bertahan di atas Amerika Serikat, sehingga badai sulit bergerak.
Karena terus mendapatkan energi dari perairan pantai yang hangat, beberapa wilayah menerima curah hujan lebih dari 127 sentimeter sebelum badai akhirnya bergerak ke daratan dan melemah.
Spera menjelaskan bahwa siklon membutuhkan pasokan energi dari laut yang hangat. Ketika mencapai daratan, menghadapi wind shear, atau bergerak ke perairan yang lebih dingin, siklon kehilangan bahan bakarnya dan akhirnya mati.
Dengan demikian, badai tropis dapat bertahan lama, tetapi tidak sepanjang tahun. Badai membutuhkan sumber energi yang terus-menerus, dan di Bumi sumber energi tersebut tidak dapat dipertahankan tanpa batas.
Meskipun badai abadi tidak mungkin terjadi, beberapa fenomena cuaca di Bumi tampak mendekati gambaran tersebut. Salah satunya adalah Intertropical Convergence Zone atau ITCZ.
Menurut Spera, badai di Thunderhead Isles dalam The Legend of Zelda memiliki kemiripan dengan ITCZ. Wilayah ini merupakan sabuk awan yang mengelilingi Bumi di dekat khatulistiwa, tempat angin dari belahan bumi utara dan selatan bertemu.
Pertemuan angin tersebut mengangkat udara hangat dan lembap yang dipanaskan oleh sinar matahari tropis. Kondisi ini memicu hujan dan badai yang sering terjadi di wilayah tersebut.
Namun demikian, ITCZ bukan satu badai petir raksasa yang terus berlangsung. Spera menjelaskan bahwa wilayah tersebut lebih tepat dipahami sebagai rangkaian peristiwa badai yang intens, tetapi berumur pendek.
ITCZ juga bergerak bolak-balik melintasi khatulistiwa. Gerakan ini ikut menghasilkan pola hujan musiman seperti monsun di anak benua India.
Jika Thunderhead Isles berada di bawah ITCZ, wilayah tersebut tidak akan mengalami petir tanpa henti seperti dalam permainan. Menurut Spera, wilayah itu kemungkinan hanya akan mengalami hujan sangat lama dalam periode yang panjang.
Untuk fenomena petir yang paling spektakuler, Catatumbo di Venezuela menjadi salah satu contoh paling ekstrem di dunia nyata. Fenomena ini terjadi di atas Danau Maracaibo di pesisir Venezuela.
Di wilayah tersebut, petir dapat muncul hingga 300 hari dalam setahun dan berlangsung selama sembilan jam dalam satu rentang waktu. Catatumbo memegang rekor dunia sebagai tempat dengan konsentrasi petir tertinggi.
Kunci dari fenomena Catatumbo adalah geografi. Laut Karibia menyediakan udara hangat dan lembap dalam jumlah besar, sementara Danau Maracaibo menambahkan kelembapan tambahan.
Angin kemudian mendorong udara lembap tersebut menuju bagian utara Pegunungan Andes. Di sana, udara lembap bertemu udara yang lebih dingin dan memicu pembentukan awan badai.
Pegunungan berbentuk seperti mangkuk di sekitar danau membantu menahan awan kumulonimbus agar tidak cepat bergerak menjauh. Kondisi tersebut dapat menciptakan badai petir yang relatif stagnan.
Vagasky menjelaskan bahwa Catatumbo merupakan salah satu fenomena paling dekat dengan badai seperti di Thunderhead Isles yang dapat ditemukan di Bumi.
Badai abadi seperti dalam dunia fantasi tidak mungkin terjadi di Bumi karena badai terbentuk untuk mengoreksi ketidakseimbangan atmosfer dan akan melemah ketika keseimbangan mulai pulih. Agar badai berlangsung sangat lama, atmosfer membutuhkan pasokan udara hangat dan lembap secara terus-menerus, tetapi angin, jet stream, daratan, air laut dingin, dan perubahan energi akan selalu mengganggu kelangsungan badai. Meski begitu, fenomena seperti ITCZ dan petir Catatumbo menunjukkan bahwa kondisi geografis tertentu dapat menciptakan hujan atau petir yang sangat sering dan spektakuler, meskipun tetap bukan badai yang benar-benar berlangsung selamanya.
Diolah dari artikel:
“Could a storm last forever?” oleh Aaron Tremper. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.snexplores.org/article/forever-storms-zelda-weather