Cara Otak Belajar Berbicara Berbeda dari yang Selama Ini Diperkirakan?

Sumber ilustrasi: Pixabay
26 Juni 2026 09.10 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [26.06.2026] Kemampuan manusia untuk berbicara merupakan salah satu keterampilan paling kompleks yang dimiliki otak. Selama bertahun-tahun, para ilmuwan meyakini bahwa proses belajar berbicara dan mengingat pola-pola gerakan yang diperlukan untuk menghasilkan ucapan terutama bergantung pada area motorik otak, yaitu wilayah yang mengendalikan gerakan wajah, mulut, lidah, dan saluran vokal. Pandangan tersebut telah menjadi dasar dalam banyak penelitian mengenai bahasa, rehabilitasi bicara, dan ilmu saraf.

Dalam penelitian terbaru yang dilakukan oleh para ilmuwan dari McGill University dan Yale School of Medicine menunjukkan bahwa pemahaman tersebut mungkin tidak sepenuhnya tepat. Hasil penelitian mengungkap bahwa wilayah otak yang berperan dalam memproses suara dan sensasi fisik memiliki kontribusi yang jauh lebih besar dalam pembelajaran dan memori bicara dibandingkan yang sebelumnya diperkirakan.

Temuan ini berpotensi mengubah cara ilmuwan memahami proses belajar berbicara. Selain itu, hasil penelitian juga dapat memberikan arah baru bagi pengembangan teknologi pengenalan ucapan, antarmuka otak-komputer, serta metode rehabilitasi bagi pasien yang kehilangan kemampuan berbicara akibat stroke atau gangguan neurologis lainnya.

David Ostry, Profesor Psikologi di McGill University, menjelaskan bahwa ilmu saraf sensorimotor selama ini cenderung menempatkan area motorik frontal sebagai penggerak utama berbagai bentuk gerakan. Menurut Ostry, penelitian terbaru menunjukkan bahwa pembelajaran bicara pada manusia memiliki sifat yang jauh lebih sensorik daripada yang selama ini dipahami.

Untuk memahami bagaimana berbagai wilayah otak berkontribusi terhadap pembelajaran bicara, para peneliti merancang eksperimen yang memungkinkan peserta mempelajari pola bicara baru secara bertahap. Dalam eksperimen tersebut, ucapan peserta dimodifikasi secara real time dan diperdengarkan kembali melalui headphone.

Perubahan yang diberikan membuat peserta secara tidak sadar menyesuaikan cara mereka berbicara. Proses adaptasi tersebut menciptakan bentuk pembelajaran motorik bicara yang dapat diukur dan dianalisis secara ilmiah.

Setelah proses pembelajaran berlangsung, para peneliti menggunakan teknik stimulasi magnetik transkranial atau Transcranial Magnetic Stimulation (TMS). Metode non-invasif ini memungkinkan peneliti mengganggu sementara aktivitas pada wilayah tertentu di otak tanpa memerlukan tindakan bedah.

Tiga wilayah utama yang menjadi fokus penelitian adalah korteks auditori yang memproses suara, korteks somatosensorik yang memproses sensasi tubuh, dan korteks motorik yang mengendalikan gerakan.

Para peneliti kemudian menguji kemampuan peserta untuk mempertahankan pola bicara yang telah dipelajari setelah jeda selama 24 jam. Tujuannya adalah untuk mengetahui wilayah otak mana yang benar-benar penting dalam penyimpanan memori bicara jangka panjang.

Hipotesis yang digunakan cukup sederhana. Jika suatu wilayah otak memiliki peran penting dalam pembentukan dan penyimpanan memori bicara, maka gangguan terhadap wilayah tersebut seharusnya menyebabkan penurunan kemampuan peserta dalam mempertahankan pola bicara yang baru dipelajari.

Sebaliknya, apabila wilayah tersebut tidak memiliki peran yang krusial, maka kemampuan mempertahankan pembelajaran diperkirakan tidak akan berubah secara signifikan meskipun aktivitasnya terganggu.

Hasil penelitian menunjukkan pola yang sangat jelas. Ketika aktivitas pada korteks auditori diganggu, kemampuan peserta untuk mempertahankan pola bicara yang telah dipelajari mengalami penurunan yang signifikan.

Penurunan serupa juga terjadi ketika aktivitas korteks somatosensorik diganggu. Peserta menjadi lebih sulit mempertahankan penyesuaian bicara yang sebelumnya berhasil mereka pelajari.

Temuan berbeda muncul pada korteks motorik. Meskipun wilayah ini selama ini dianggap sebagai pusat utama pembelajaran gerakan bicara, gangguan terhadap aktivitasnya ternyata hanya memberikan dampak yang sangat kecil terhadap kemampuan peserta mempertahankan memori bicara.

Nishant Rao, Associate Research Scientist di Yale University sekaligus salah satu penulis studi, menjelaskan bahwa hasil penelitian tersebut menantang asumsi lama yang menganggap memori bicara baru hanya bergantung pada perubahan yang terjadi di area motorik otak.

Menurut Rao, penelitian ini justru menegaskan pentingnya perubahan yang terjadi pada wilayah auditori dan somatosensorik dalam membentuk kemampuan manusia untuk mempelajari pola bicara baru.

Penelitian tersebut merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk memahami bagaimana plastisitas otak bekerja. Plastisitas merupakan kemampuan otak untuk berubah dan menyesuaikan diri sebagai respons terhadap pengalaman baru, pembelajaran, maupun cedera.

Temuan terbaru juga memperkuat hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh kelompok ilmuwan yang sama pada gerakan lengan dan tangan. Dalam penelitian terdahulu, gangguan pada wilayah sensorik otak terbukti menghambat kemampuan seseorang untuk mempelajari dan mempertahankan keterampilan motorik baru.

Kesamaan hasil antara pembelajaran gerakan tubuh dan pembelajaran bicara menunjukkan bahwa sistem sensorik mungkin memiliki peran yang jauh lebih mendasar dalam proses belajar dibandingkan yang selama ini dipahami dalam ilmu saraf.

Implikasi penelitian ini cukup luas. Teknologi komunikasi berbasis otak yang sedang dikembangkan saat ini sebagian besar masih berfokus pada sinyal motorik. Temuan baru menunjukkan bahwa sistem sensorik juga perlu diperhitungkan apabila ingin menciptakan teknologi yang lebih efektif dan alami.

Dalam bidang medis, hasil penelitian dapat membantu pengembangan metode rehabilitasi baru bagi pasien stroke. Dengan memahami peran penting sistem auditori dan somatosensorik, para peneliti berharap dapat merancang terapi yang lebih efektif untuk memulihkan kemampuan berbicara yang hilang akibat kerusakan otak.

Penelitian selanjutnya akan difokuskan pada identifikasi sirkuit kortikal yang lebih spesifik yang terlibat dalam proses pembelajaran bicara. Para ilmuwan juga berencana mengeksplorasi pendekatan terapi berbasis sensorik untuk berbagai gangguan gerakan dan komunikasi.

Temuan terbaru ini menunjukkan bahwa proses belajar berbicara tidak hanya bergantung pada pusat gerakan di otak, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh wilayah yang memproses suara dan sensasi tubuh. Dengan menunjukkan bahwa korteks auditori dan somatosensorik memiliki peran penting dalam pembentukan serta penyimpanan memori bicara, penelitian ini membuka perspektif baru mengenai cara manusia mempelajari bahasa, sekaligus memberikan landasan bagi pengembangan teknologi komunikasi dan terapi rehabilitasi yang lebih efektif di masa depan.

Diolah dari artikel:
“New brain study reveals speech learning works differently than we thought” oleh McGill University. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/06/260619020514.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *