Pemanasan Global Terdeteksi Mengalami Percepatan Tajam Sejak Sekitar 2015?

Sumber ilustrasi: Magnific
4 Agustus 2026 10.45 WIB – Climate Change
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [04.08.2026] Pemanasan global selama beberapa dekade terakhir umumnya dipahami sebagai kenaikan suhu rata-rata Bumi yang berlangsung akibat peningkatan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Sejak pertengahan abad ke-20, berbagai catatan suhu menunjukkan tren yang konsisten menuju kondisi yang semakin hangat.

Akan tetapi suhu global tidak hanya dipengaruhi oleh aktivitas manusia. El Niño, letusan gunung berapi, perubahan aktivitas Matahari, dan berbagai proses alami lainnya dapat menyebabkan suhu naik atau turun untuk sementara waktu.

Fluktuasi jangka pendek tersebut membuat para ilmuwan perlu memisahkan perubahan alami dari tren pemanasan jangka panjang. Tanpa pemisahan tersebut, sulit untuk menentukan apakah kenaikan suhu yang terlihat merupakan bagian dari variasi sementara atau menunjukkan perubahan mendasar dalam laju pemanasan Bumi.

Selama periode 1970 hingga 2015, suhu global meningkat dengan laju rata-rata sedikit di bawah 0,2°C setiap dekade. Angka tersebut telah lama digunakan sebagai gambaran umum mengenai kecepatan pemanasan modern.

Namun, serangkaian tahun dengan suhu sangat tinggi dalam satu dekade terakhir menimbulkan pertanyaan baru. Apakah Bumi hanya mengalami lonjakan sementara akibat faktor alam, atau laju pemanasan global benar-benar telah meningkat?

Penelitian terbaru dari Potsdam Institute for Climate Impact Research (PIK) menemukan bukti statistik bahwa pemanasan global telah mengalami percepatan sejak sekitar 2015. Setelah pengaruh berbagai perubahan alami disaring, suhu Bumi diperkirakan meningkat sekitar 0,35°C per dekade selama sepuluh tahun terakhir.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa laju pemanasan selama satu dekade terakhir lebih tinggi daripada dekade mana pun sejak pencatatan suhu menggunakan instrumen dimulai pada 1880.

Para peneliti memperkirakan bahwa suhu global telah meningkat dengan kecepatan sekitar 0,35°C per dekade, meskipun angka pastinya sedikit berbeda bergantung pada kumpulan data yang digunakan.

Sebagai perbandingan, rata-rata laju pemanasan pada periode 1970 hingga 2015 berada sedikit di bawah 0,2°C per dekade. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pemanasan global dalam satu dekade terakhir berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan pola yang mendominasi selama beberapa dekade sebelumnya.

Grant Foster, pakar statistika dari Amerika Serikat sekaligus salah satu penulis penelitian, menjelaskan bahwa tim kini dapat menunjukkan percepatan pemanasan global yang kuat dan signifikan secara statistik sejak sekitar 2015.

Menurut Grant Foster, para peneliti menyaring berbagai pengaruh alami yang telah diketahui dari data observasi. Penyaringan tersebut mengurangi gangguan jangka pendek sehingga sinyal pemanasan jangka panjang dapat terlihat dengan lebih jelas.

Dalam ilmu iklim, gangguan atau noise merujuk pada perubahan suhu sementara yang dapat menyamarkan atau memperbesar tren utama.

El Niño menjadi salah satu contoh paling penting. Fenomena tersebut dapat meningkatkan suhu global selama periode tertentu dengan melepaskan panas dari Samudra Pasifik tropis menuju atmosfer.

Letusan gunung berapi dapat memberikan pengaruh sebaliknya. Partikel yang dilepaskan ke atmosfer dapat memantulkan sinar Matahari dan menurunkan suhu global untuk sementara waktu.

Perubahan aktivitas Matahari juga dapat menghasilkan variasi suhu, meskipun pengaruhnya lebih kecil dibandingkan El Niño maupun letusan gunung berapi besar.

Untuk memisahkan berbagai pengaruh sementara tersebut dari tren pemanasan yang lebih luas, para peneliti menganalisis lima kumpulan data suhu global yang banyak digunakan.

Kelima kumpulan data tersebut berasal dari NASA, NOAA, HadCRUT, Berkeley Earth, dan ERA5.

Setiap kumpulan data disusun oleh lembaga ilmiah yang berbeda dan menggunakan metode pengolahan yang tidak sepenuhnya sama.

Meskipun demikian, pola percepatan pemanasan muncul secara konsisten pada kelima kumpulan data.

Stefan Rahmstorf, peneliti PIK sekaligus penulis utama penelitian, menjelaskan bahwa data yang telah disesuaikan menunjukkan percepatan pemanasan global sejak 2015 dengan tingkat kepastian statistik lebih dari 98 persen.

Menurut Stefan Rahmstorf, hasil tersebut konsisten pada seluruh kumpulan data yang diperiksa dan tidak bergantung pada metode analisis yang dipilih.

Tingkat kepastian statistik lebih dari 98 persen menunjukkan bahwa perubahan laju pemanasan sangat kecil kemungkinannya hanya berasal dari variasi acak dalam data.

Kesamaan hasil pada lima catatan suhu global juga memperkuat kesimpulan bahwa percepatan tersebut bukan artefak dari satu metode pengukuran tertentu.

Setelah pengaruh El Niño dan puncak aktivitas Matahari disesuaikan, suhu ekstrem pada 2023 dan 2024 memang sedikit berkurang dalam hasil analisis.

Namun, kedua tahun tersebut tetap menjadi dua tahun terpanas sejak pencatatan suhu modern dimulai.

Pada seluruh kumpulan data, tanda-tanda awal percepatan mulai terlihat sekitar 2013 atau 2014.

Para peneliti menggambarkan pergeseran yang lebih luas sebagai perubahan yang dimulai sekitar 2015, ketika bukti statistik menjadi semakin jelas.

Untuk menentukan apakah laju pemanasan benar-benar berubah sejak dekade 1970-an, tim menggunakan dua pendekatan statistik.

Pendekatan pertama adalah analisis tren kuadratik. Metode tersebut menguji apakah kurva suhu melengkung semakin tajam ke atas seiring waktu, bukan hanya meningkat dengan kecepatan yang tetap.

Pendekatan kedua menggunakan model linear bertahap atau piecewise linear model.

Model tersebut membagi catatan suhu menjadi beberapa periode dan mengidentifikasi secara objektif kapan laju pemanasan mulai berubah.

Kedua metode menghasilkan kesimpulan yang sama bahwa pemanasan global telah mengalami percepatan.

Penelitian ini dirancang untuk mendeteksi dan mengukur perubahan laju pemanasan, bukan untuk menentukan penyebab pastinya.

Meski demikian, para penulis mencatat bahwa model iklim memang dapat menghasilkan periode ketika suhu meningkat lebih cepat.

Dengan demikian, percepatan yang terdeteksi masih sesuai dengan rentang perilaku yang dapat muncul dalam simulasi iklim modern.

Model iklim menggunakan hukum fisika untuk memperkirakan bagaimana atmosfer, lautan, lapisan es, dan daratan merespons gas rumah kaca maupun berbagai faktor lainnya.

Model tersebut tidak dapat memprediksi setiap perubahan jangka pendek secara sempurna, tetapi tetap menjadi alat penting untuk memahami pola jangka panjang dan kemungkinan perubahan di masa depan.

Stefan Rahmstorf menjelaskan bahwa apabila laju pemanasan selama sepuluh tahun terakhir terus berlanjut, batas pemanasan jangka panjang sebesar 1,5°C dalam Perjanjian Paris dapat terlampaui sebelum 2030.

Menurut Stefan Rahmstorf, kecepatan pemanasan Bumi selanjutnya akan sangat bergantung pada seberapa cepat emisi karbon dioksida global dari bahan bakar fosil dapat dikurangi hingga mencapai nol.

Batas 1,5°C mengacu pada upaya membatasi pemanasan global jangka panjang agar tidak melampaui 1,5°C dibandingkan suhu pada masa praindustri.

Satu tahun dengan suhu rata-rata di atas batas tersebut belum berarti sasaran Perjanjian Paris telah terlampaui secara permanen.

Para ilmuwan biasanya menilai pelampauan berdasarkan pemanasan yang bertahan selama periode lebih panjang, bukan hanya berdasarkan satu tahun yang sangat panas.

Temuan penelitian tersebut menunjukkan bahwa Bumi mungkin kini memanas jauh lebih cepat dibandingkan dekade-dekade terakhir abad ke-20.

Keberlanjutan percepatan tersebut akan sangat dipengaruhi oleh emisi karbon dioksida dari batu bara, minyak bumi, dan gas alam pada tahun-tahun mendatang.

Penelitian dari Potsdam Institute for Climate Impact Research menunjukkan bahwa laju pemanasan global meningkat tajam sejak sekitar 2015 setelah pengaruh El Niño, letusan gunung berapi, dan perubahan aktivitas Matahari dipisahkan dari data suhu. Bumi diperkirakan menghangat sekitar 0,35°C per dekade selama sepuluh tahun terakhir, jauh lebih cepat dibandingkan laju sedikit di bawah 0,2°C per dekade pada periode 1970 hingga 2015. Pola yang sama muncul pada lima kumpulan data suhu global dengan tingkat kepastian statistik lebih dari 98 persen, sementara keberlanjutannya akan sangat bergantung pada seberapa cepat emisi karbon dioksida dari bahan bakar fosil dapat ditekan hingga nol.

Diolah dari artikel:
“Scientists detect a sharp acceleration in global warming” oleh Potsdam Institute for Climate Impact Research (PIK). (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/08/260801093239.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *