Apa Itu Makanan Ultraproses?

Sumber ilustrasi: Pixabay
28 April 2026 15.10 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [28.04.2026] Pola makan sehat diasosiasikan dengan mengurangi konsumsi makanan yang berlemak serta konsumsi makanan atau minuman bergula. Pendekatan ini telah menjadi dasar banyak panduan nutrisi kita di dunia modern. Akan tetapi dengan terus adanya perkembangan industri makanan, kini terdapat jenis produk makanan baru yang dikenal sebagai makanan ultraproses atau UPF (Ultra Processed Food), yang tengah mendominasi pola konsumsi di banyak negara. Produk-produk ini tidak hanya berbeda dari makanan tradisional dalam hal rasa dan tampilan, tetapi juga dalam cara pembuatannya yang melibatkan berbagai bahan kimia tambahan.

Makanan ultraproses umumnya diproduksi secara industri dengan menggunakan bahan yang telah mengalami pemrosesan tinggi. Proses ini mengubah bahan asli hingga tidak lagi menyerupai bentuk awalnya yang kemudian dikombinasikan menjadi produk yang hampir tidak dapat direplikasi kebanyakan orang di dapur mereka. Salah satu contohnya ada pada produk seperti kue kemasan yang memiliki daftar bahan sangat panjang, termasuk zat kimia yang tidak umum ditemukan di toko bahan makanan biasa.

Selain memberikan kepraktisan dan daya tahan lebih lama, pemrosesan ini juga memungkinkan makanan memiliki rasa dan tekstur yang lebih menarik. Faktor-faktor ini membuat UPF sangatlah populer dan mudah diakses. Di Amerika Serikat, lebih dari setengah asupan kalori berasal dari makanan jenis ini, yang diestimasi telah mencapai sekitar 65 persen pada anak-anak dan remaja. Kondisi ini membawa kekhawatiran di kalangan ilmuwan akan dampak jangka panjang terhadap kesehatan masyarakat.

Perubahan pola makan ini juga diamati secara global. Peneliti seperti Carlos Monteiro mengembangkan sistem klasifikasi Nova untuk mengelompokkan makanan berdasarkan tingkat pemrosesan. Sistem ini menunjukkan pergeseran besar dari konsumsi makanan utuh menuju makanan ultraproses. Data dari Brasil menunjukkan bahwa peningkatan konsumsi makanan olahan beriringan dengan lonjakan angka obesitas dalam beberapa dekade terakhir.

Meskipun demikian, mendefinisikan secara tepat apa yang termasuk ultraproses tidak selalu mudah. Beberapa sistem klasifikasi memiliki keterbatasan dan dapat menimbulkan perbedaan interpretasi. Akan tetapi tren peningkatan konsumsi UPF di seluruh dunia menjadi fakta yang tidak terbantahkan dan menjadi perhatian utama dalam penelitian nutrisi modern.

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa konsumsi UPF yang tinggi berkaitan dengan meningkatnya risiko berbagai penyakit, termasuk obesitas, diabetes, dan tekanan darah tinggi. Filippa Juul dari SUNY Downstate Health Sciences University menjelaskan bahwa individu dengan pola makan tinggi makanan ultraproses cenderung mengalami penurunan kesehatan seiring waktu berdasarkan pengamatan yang ada.

Salah satu penjelasan yang sedang diteliti berkaitan dengan mikrobioma usus. Benoit Chassaing dari Institut Pasteur menyampaikan bahwa penelitian saat ini berfokus pada dampak spesifik bahan tambahan makanan terhadap komunitas bakteri dalam sistem pencernaan. Bahan seperti pewarna dan emulsifier diketahui aman secara individu, tetapi interaksinya dengan mikrobioma masih belum sepenuhnya dipahami.

Selain itu, karakteristik UPF membuat makanan ini mudah dikonsumsi secara berlebihan. Kandungan serat yang rendah serta komposisi kimia tertentu menyebabkan rasa kenyang tidak bertahan lama. Produk ini juga dirancang untuk memiliki rasa yang sangat menarik dengan harga yang relatif murah, sehingga meningkatkan kemungkinan konsumsi berlebih. Beberapa peneliti bahkan menilai bahwa desain UPF dapat memicu perilaku konsumsi yang menyerupai kecanduan.

Anak-anak dan remaja khususnya menjadi salah satu yang paling terdampak. Filippa Juul mengamati bahwa konsumsi makanan ultraproses lebih tinggi pada remaja dibandingkan kelompok usia yang lebih tua, baik di Amerika Serikat maupun Inggris. Kondisi ini diperparah oleh strategi pemasaran yang secara aktif menargetkan kelompok usia muda.

Dari sisi biologis, mikrobioma pada anak-anak cenderung lebih tidak stabil dibandingkan orang dewasa. Benoit Chassaing menyebutkan bahwa kondisi tersebut dapat membuat anak-anak lebih rentan terhadap efek bahan tambahan makanan. Hal ini menambah kompleksitas dalam memahami dampak jangka panjang konsumsi UPF sejak usia dini.

Sebagian besar penelitian yang ada masih bersifat korelasional. Artinya, hubungan antara konsumsi UPF dan masalah kesehatan belum dapat dipastikan sebagai hubungan sebab-akibat. Tantangan metodologis dalam penelitian nutrisi, seperti kesulitan mengontrol pola makan jangka panjang, membuat kesimpulan yang pasti masih sulit dicapai.

Perbedaan pandangan juga muncul di kalangan ilmuwan mengenai apakah semua UPF berdampak buruk. Edward Giovannucci dari Harvard University menunjukkan bahwa terdapat beberapa makanan seperti biji-bijian utuh dan yogurt yang dapat dikategorikan sebagai UPF dalam sistem tertentu meski memiliki nilai gizi yang baik. Pandangan ini menunjukkan bahwa klasifikasi berbasis pemrosesan saja belum cukup untuk menilai kualitas makanan.

Para ahli menyarankan pendekatan yang lebih praktis untuk makanan kita sehari-hari. Menghindari makanan tinggi gula, lemak jenuh, garam, dan karbohidrat olahan menjadi langkah awal yang direkomendasikan. Membaca label makanan juga dapat membantu mengidentifikasi keberadaan bahan tambahan seperti emulsifier dan pengawet.

Upaya untuk mengurangi konsumsi UPF juga dapat melibatkan kebijakan publik. Filippa Juul menilai bahwa pembatasan iklan dan penerapan pajak pada makanan ultraproses dapat membantu mengubah pola konsumsi masyarakat. Kebijakan tersebut juga dapat membuka peluang untuk membuat makanan yang lebih sehat menjadi lebih terjangkau.

Penelitian ini menunjukkan bahwa makanan ultraproses telah menjadi bagian dominan dalam pola makan modern dan berkaitan dengan berbagai risiko kesehatan, meskipun mekanisme pastinya masih terus diteliti. Faktor seperti bahan tambahan, dampak terhadap mikrobioma usus, serta kemudahan konsumsi berlebih menjadi aspek penting dalam memahami pengaruhnya. Di tengah perdebatan ilmiah yang masih berlangsung, pengurangan konsumsi dan peningkatan kesadaran terhadap komposisi makanan menjadi langkah yang relevan untuk menjaga kesehatan jangka panjang.

Diolah dari artikel:
“Explainer: What are ultraprocessed foods?” oleh RJ Mackenzie. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.snexplores.org/article/what-are-ultraprocessed-foods

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *