Sumber ilustrasi: Pixabay
25 Mei 2026 14.35 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [25.05.2026] Diabetes tipe 2 hingga kini masih merupakan salah satu tantangan kesehatan terbesar di dunia, terutama di Amerika Serikat di mana lebih dari 135 juta orang dewasa hidup dengan kondisi ini atau berada dalam risiko tinggi mengalaminya. Kondisi ini mendorong kebutuhan akan panduan nutrisi yang berbasis bukti ilmiah, khususnya terkait konsumsi protein hewani seperti daging sapi yang selama ini sering dikaitkan dengan risiko metabolik.
Dalam beberapa tahun terakhir, perdebatan mengenai dampak daging merah terhadap kesehatan metabolik terus berkembang. Banyak pandangan mengaitkan konsumsi daging sapi dengan peningkatan risiko penyakit kardiometabolik, termasuk gangguan gula darah. Namun demikian, sebuah studi terbaru memberikan gambaran yang berbeda terkait peran daging sapi dalam pola makan sehat.
Sebuah uji coba terkontrol acak yang dipublikasikan dalam jurnal Current Developments in Nutrition menemukan bahwa konsumsi harian daging sapi dalam jumlah moderat tidak memberikan dampak negatif terhadap regulasi gula darah maupun fungsi insulin pada individu dengan pradiabetes.
Kevin C. Maki dari Indiana University School of Public Health-Bloomington menyampaikan bahwa hasil penelitian tersebut memperkuat bukti ilmiah sebelumnya bahwa daging sapi, jika dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan sehat, tidak berdampak buruk terhadap pengaturan gula darah maupun peradangan. Maki juga menjelaskan bahwa daging sapi dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi penting tanpa meningkatkan risiko kardiometabolik dibandingkan dengan unggas.
Penelitian ini melibatkan 24 orang dewasa yang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas serta memiliki kondisi pradiabetes. Para peserta berada dalam rentang usia 18 hingga 74 tahun dan secara umum dalam kondisi kesehatan yang stabil. Studi ini menggunakan desain crossover, sehingga setiap peserta menjalani dua jenis pola makan yang berbeda selama periode penelitian.
Setiap peserta mengikuti dua fase diet selama masing-masing 28 hari, dengan jeda 28 hari di antara kedua fase tersebut. Dalam setiap fase, peserta mengonsumsi dua kali makan per hari yang mengandung daging sapi atau unggas. Setiap hidangan mencakup sekitar 3,0 hingga 3,5 ons daging dan disajikan dalam berbagai menu seperti fajita, burger, semur, burrito, dan tumisan.
Fokus utama penelitian ini adalah pada regulasi glukosa dan fungsi insulin. Diabetes tipe 2 berkembang ketika tubuh menjadi resisten terhadap insulin dan sel β pankreas kehilangan kemampuannya dalam memproduksi hormon tersebut secara efektif. Untuk menilai dampak diet, para peneliti mengukur fungsi sel β pankreas, sensitivitas insulin, serta hormon pengatur glukosa sebelum dan sesudah setiap fase diet.
Hasil penelitian menunjukkan tidak adanya perbedaan signifikan antara konsumsi daging sapi dan unggas dalam semua parameter yang diukur. Konsumsi daging sapi tanpa pengolahan setiap hari menghasilkan respons metabolik yang setara dengan unggas pada kelompok peserta dengan pradiabetes.
Indika Edirisinghe dari Illinois Institute of Technology menjelaskan bahwa hasil tersebut menunjukkan konsumsi daging sapi secara rutin tidak memperburuk faktor risiko metabolik maupun peradangan dibandingkan unggas. Edirisinghe juga menambahkan bahwa meskipun durasi penelitian relatif singkat, sekitar satu bulan, periode tersebut sudah cukup untuk mendeteksi perubahan metabolik yang dapat diukur.
Penelitian ini juga mencatat bahwa durasi yang lebih panjang tetap diperlukan untuk memahami dampak jangka panjang secara lebih komprehensif. Namun, hasil awal ini memberikan indikasi bahwa daging sapi tidak selalu menjadi faktor risiko dalam konteks pola makan yang seimbang.
Di sisi lain, aspek pendanaan penelitian turut menjadi perhatian. Studi ini didukung oleh National Cattlemen’s Beef Association, meskipun para peneliti menegaskan bahwa organisasi tersebut tidak terlibat dalam pengumpulan data, analisis, maupun proses publikasi, selain melakukan peninjauan awal terhadap naskah.
Penelitian ini menunjukkan bahwa konsumsi daging sapi dalam jumlah moderat sebagai bagian dari pola makan sehat tidak memberikan dampak negatif terhadap regulasi gula darah, fungsi insulin, maupun penanda kesehatan kardiometabolik pada individu dengan pradiabetes, serta menghasilkan efek yang sebanding dengan konsumsi unggas.
Diolah dari artikel:
“Surprising study finds beef doesn’t worsen blood sugar or diabetes risk” oleh Indiana University School of Public Health. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/05/260521072416.htm