Seberapa Panas Inti Bumi?

Sumber ilustrasi: Wikimedia Commons
25 Mei 2026 17.05 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [25.05.2026] Bumi terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun yang lalu sebagai bola batuan cair yang sangat panas. Seiring waktu, unsur-unsur berat seperti besi dan nikel tenggelam menuju pusat planet dan membentuk inti Bumi. Proses diferensiasi ini menjadi dasar terbentuknya struktur internal Bumi yang terdiri dari beberapa lapisan berbeda. Inti Bumi kini diketahui terdiri dari inti luar yang cair dan inti dalam yang padat, keduanya berada jauh di bawah permukaan dengan kondisi tekanan dan suhu yang ekstrem.

Selama bertahun-tahun, para ilmuwan telah berusaha memahami kondisi di dalam inti Bumi, termasuk suhu yang sangat tinggi di wilayah tersebut. Namun demikian keterbatasan teknologi membuat pengukuran langsung tidak mungkin dilakukan. Oleh karena itu, berbagai pendekatan ilmiah dikembangkan untuk memperkirakan suhu dan sifat fisik inti Bumi secara tidak langsung.

Berdasarkan kombinasi eksperimen laboratorium, analisis meteorit, serta studi gelombang seismik, para ilmuwan memperkirakan bahwa suhu inti Bumi mencapai sekitar 9.000 hingga lebih dari 10.000 derajat Fahrenheit, atau sekitar 5.000 hingga lebih dari 5.500 derajat Celsius. Suhu ini berada pada batas antara inti luar dan inti dalam, yang dianggap sebagai bagian terpanas dari inti Bumi.

Komposisi inti Bumi didominasi oleh besi sekitar 85%, yang bercampur dengan nikel dan unsur ringan lainnya. Di inti luar, material ini berada dalam keadaan cair, sementara di inti dalam tetap padat meskipun suhunya sangat tinggi. Kondisi ini dijelaskan oleh tekanan ekstrem di pusat Bumi yang meningkatkan titik leleh besi.

Quentin Williams dari University of California, Santa Cruz menjelaskan bahwa tekanan besar di bagian dalam Bumi menaikkan titik leleh besi secara signifikan, sehingga inti dalam tetap padat meskipun berada pada suhu yang sangat tinggi. Penjelasan ini menjadi kunci dalam memahami perbedaan fase antara inti luar dan inti dalam.

Untuk mensimulasikan kondisi ekstrem tersebut, para ilmuwan menggunakan berbagai metode eksperimental. Salah satunya adalah menggunakan sel landasan berlian untuk menekan sampel besi hingga tekanan tinggi, kemudian memanaskannya dengan laser. Metode lain melibatkan penggunaan proyektil berkecepatan tinggi atau gelombang kejut untuk meniru tekanan di dalam Bumi. Hasil eksperimen tersebut kemudian diekstrapolasi untuk memperkirakan kondisi sebenarnya di inti Bumi.

Shichun Huang dari Sun Yat-sen University menjelaskan bahwa pengetahuan tentang inti Bumi masih merupakan perkiraan berbasis teori dan eksperimen, karena banyak mekanisme internal, seperti proses kristalisasi inti dalam, masih belum sepenuhnya dipahami oleh para ilmuwan.

Asal-usul panas inti Bumi juga menjadi bagian penting dari penelitian ini. Huang menyebutkan bahwa panas tersebut berasal dari konversi energi potensial gravitasi saat pembentukan Bumi. Selain itu, tumbukan besar dengan objek seukuran Mars pada masa awal pembentukan planet turut menyumbang energi panas yang signifikan ke bagian dalam Bumi.

Beberapa ilmuwan juga mengemukakan bahwa unsur radioaktif seperti kalium, uranium, dan torium berkontribusi terhadap panas internal Bumi, meskipun keberadaan unsur-unsur tersebut di kedalaman ekstrem masih menjadi perdebatan ilmiah.

Keberadaan inti yang sangat panas juga berperan penting dalam mendukung kehidupan di Bumi. Tidak seperti planet berbatu lain, Bumi mampu mempertahankan sebagian besar panas primordialnya. Quentin Williams menjelaskan bahwa Bumi tidak mengalami pendinginan secepat planet lain, sehingga tetap mempertahankan energi internal yang besar.

Energi ini memungkinkan terjadinya proses geologi seperti tektonik lempeng, yang menggerakkan permukaan Bumi, membawa nutrisi dari dalam ke permukaan, serta menciptakan lingkungan yang beragam bagi kehidupan. Selain itu, inti besi yang sebagian cair menghasilkan medan magnet Bumi yang berfungsi melindungi planet dari radiasi dan angin matahari berbahaya.

Shichun Huang juga menekankan bahwa pemahaman tentang bagian dalam Bumi sangat penting karena kondisi inti yang panas menjadi salah satu faktor utama yang memungkinkan kehidupan bertahan di planet ini hingga saat ini.

Penelitian mengenai inti Bumi menunjukkan bahwa suhu di bagian terdalam planet ini sangat ekstrem, bahkan setara dengan permukaan Matahari, meskipun tidak pernah diukur secara langsung. Melalui eksperimen dan analisis tidak langsung, para ilmuwan memahami bahwa tekanan tinggi menjaga inti dalam tetap padat dan bahwa panas internal berasal dari proses pembentukan planet serta faktor tambahan seperti tumbukan besar dan kemungkinan peluruhan radioaktif. Kondisi inti yang panas juga berperan penting dalam menjaga dinamika geologi dan perlindungan magnetik Bumi, yang pada akhirnya mendukung keberlangsungan kehidupan.

Diolah dari artikel:
“How hot is Earth’s core?” oleh Alice Sun. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.livescience.com/planet-earth/geology/how-hot-is-earths-core

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *