Ikan Purba yang Menjelaskan Awal Transisi Hewan Menuju Darat?

Sumber ilustrasi: Pixabay
26 Mei 2026 17.05 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [26.05.2026] Proses evolusi hewan dari penghuni air menuju kedarat masih menjadi salah satu topik penelitian dalam teori evolusi. Kini para peneliti menemukan detail terbaru mengenai spesies ikan purba yang berkerabat dekat dengan hewan pertama yang pada akhirnya berpindah dari air ke darat yang diperkirakan terjadi pada 380 juta tahun yang lalu.

Menggunakan teknologi pencitraan neutron, para peneliti memeriksa tengkorak dari Koharalepis jarviki, seekor ikan predator besar yang hidup di era Devonian, dimana era ini seringkali disebut sebagai “era Ikan”. Fosil ikan ini ditemukan di wilayah Pegunungan Lashly, Antartika. Fosil ini menjadi satu-satunya spesimen yang diketahui dari jenisnya dan memberikan peluang langka untuk mempelajari struktur internal ikan yang berkerabat dengan hewan darat awal.

Digunakannya teknologi pencitraan ini adalah guna tidak merusak bagian dalam kerangka dan otak dari ikan ini. Metode ini memungkinkan pengamatan detail terhadap struktur yang tersembutnyi selama ratusan juta tahun. Dr. Aloce Clement dari Flinders University menjelaskan bahwa specimen ini termasuk dalam kelompok Canowindridae, yang menunjukkan hubungan evolusi kuno antara Australia dan Antartika serta memiliki keterkaitan erat dengan garis keturunan hewan darat

Koharalepis tergabung dalam kelompok ikan yang dahulu hidup di wilayah Godwana Timur, dimana fosil mereka ditemukan baik di Antartika maupun Australia. Para peneliti menilai bahwa kelompok ini merupakan salah satu kerabat terdekat dari vertebrata berkaki empat paling awal. Keberadaan fosil ini memperkuat pemahaman bahwa evolusi menuju hewan darat melibatkan banyak garis keturunan yang saling berhubungan.

Corinne Mensforth dari Flinders Palaeontology Lab menyampaikan bahwa fosil ini memiliki nilai tinggi karena mempertahankan tulang bagian dalam tengkorak, yang jarang ditemukan pada spesies sejenis. Analisis terhadap bagian tersebut memungkinkan peneliti memahami struktur otak dan sistem saraf secara lebih rinci dibandingkan fosil lain dalam kelompok yang sama.

Hasil pemindaian menunjukkan bahwa struktur otak Koharalepismemiliki kemiripan dengan ikan yang berada pada tahap transisi antara kehidupan air dan darat. Temuan ini menunjukkan adanya karakteristik yang mendukung perubahan fungsi biologis menuju lingkungan yang lebih kompleks.

Selain itu, penelitian menemukan adaptasi yang mengarah pada kehidupan di perairan dangkal. Struktur tengkorak menunjukkan adanya bukaan di bagian atas yang memungkinkan asupan udara tambahan, serta keberadaan organ yang berkaitan dengan deteksi cahaya dan ritme sirkadian. Adaptasi ini diperkirakan membantu ikan bertahan di lingkungan dengan kadar oksigen yang bervariasi.

Dari sisi perilaku, Koharalepis jarviki diperkirakan merupakan predator penyergap dengan panjang sekitar satu meter. Ukuran mata yang relatif kecil menunjukkan bahwa spesies ini kemungkinan tidak hanya mengandalkan penglihatan, tetapi juga menggunakan indera lain untuk berburu mangsa di lingkungan air tawar.

Profesor John Long menjelaskan bahwa teknologi pencitraan modern memungkinkan peneliti memahami perilaku, adaptasi, dan hubungan evolusi spesies ini tanpa merusak fosil. Penelitian tersebut memberikan gambaran lebih jelas mengenai proses bagaimana ikan purba mulai beradaptasi hingga akhirnya mampu hidup di darat sekitar 385 juta tahun lalu.

Temuan ini menambah bukti bahwa evolusi vertebrata menuju daratan merupakan proses kompleks yang melibatkan berbagai adaptasi bertahap. Studi terhadap spesies seperti Koharalepis jarviki membantu ilmuwan merekonstruksi jalur evolusi yang menghubungkan kehidupan akuatik dengan kehidupan terestrial.

Penelitian terhadap Koharalepis jarviki memberikan wawasan penting mengenai tahap awal evolusi hewan dari air ke darat dengan menunjukkan kesamaan struktur otak dan adaptasi lingkungan yang mendukung transisi tersebut. Pemanfaatan teknologi pencitraan modern membuka akses terhadap detail anatomi yang sebelumnya tidak dapat diamati, sekaligus memperkuat pemahaman bahwa perubahan menuju kehidupan darat terjadi melalui serangkaian proses evolusi yang kompleks dan bertahap.

Diolah dari artikel:
“This prehistoric fish may explain how animals first walked on Earth” oleh Flinders University. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/05/260525000459.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *