Ilmuwan Menemukan Dunia Pohon Raksasa yang Tersembunyi di Pegunungan Taiwan

Sumber ilustrasi: Unsplash
6 Agustus 2026 09.05 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [06.08.2026] Taiwan dikenal sebagai pulau dengan bentang alam yang sangat bergunung-gunung, tetapi bagian pedalamannya masih menyimpan banyak kawasan hutan yang sulit dijangkau dan belum sepenuhnya dipahami. Medan yang curam, lembah yang dalam, serta perubahan ketinggian yang ekstrem menciptakan kondisi bagi terbentuknya berbagai tipe ekosistem, mulai dari hutan hujan tropis hingga tundra pegunungan.

Di antara ekosistem tersebut terdapat hutan-hutan purba yang dihuni pohon Taiwania atau Taiwania cryptomerioides. Sebagian pohon tumbuh hingga melampaui 80 meter dan termasuk pohon tertinggi yang pernah ditemukan di Asia Timur. Masyarakat adat Rukai menyebutnya sebagai “pohon yang menyentuh bulan,” sebuah nama yang menggambarkan skala luar biasa dari pohon-pohon tersebut.

Keberadaan pohon raksasa di Taiwan bukan hanya menarik karena ukurannya. Hutan-hutan tersebut juga menyimpan karbon dalam jumlah sangat besar sehingga berpotensi menjadi salah satu ekosistem penyimpan karbon paling padat di dunia. Kondisi tersebut menempatkan hutan pegunungan Taiwan sebagai bagian penting dalam memahami hubungan antara hutan tua, keanekaragaman hayati, dan perubahan iklim.

Sejak 2014, kelompok yang menamakan diri sebagai Taiwan Tree Seekers mulai mencari, mengukur, dan mendokumentasikan pohon-pohon raksasa tersebut. Tim terdiri atas pemanjat pohon profesional, ahli ekologi, ahli geologi, serta pakar penginderaan jauh yang bekerja bersama untuk menembus wilayah-wilayah paling terpencil di pulau itu.

Pencarian panjang tersebut mencapai tonggak penting pada 2023 ketika tim menemukan pohon Taiwania setinggi 84,1 meter. Pohon tersebut kemudian diakui sebagai pohon tertinggi di Taiwan sekaligus pohon tertinggi yang diketahui di seluruh Asia Timur.

Kondisi geografis Taiwan membantu menjelaskan mengapa pohon-pohon dengan ukuran semacam itu dapat tumbuh. Pulau tersebut memiliki luas sekitar 36.000 kilometer persegi, hampir setara dengan Swiss, tetapi sebagian besar wilayahnya terdiri atas pegunungan dengan 258 puncak yang menjulang lebih dari 3.000 meter.

Puncak tertinggi Taiwan adalah Gunung Jade dengan ketinggian 3.952 meter. Perbedaan elevasi yang sangat besar menciptakan beragam iklim lokal dan mendukung pertumbuhan sekitar 5.000 spesies tumbuhan dari kawasan tropis lembap hingga lingkungan pegunungan yang sangat dingin.

Sekitar 60 persen wilayah Taiwan masih tertutup hutan dengan perkiraan sekitar 950 juta pohon. Meskipun penebangan industri berlangsung dari 1912 hingga 1991 dan menghilangkan sebagian besar hutan primer, medan yang paling terjal berfungsi sebagai perlindungan alami karena sulit dijangkau oleh kru penebangan.

Pencarian terorganisasi pertama dimulai pada Agustus 2014 ketika peneliti dari Taiwan Forestry Research Institute memasuki kawasan konservasi Cilan. Tujuan utama ekspedisi tersebut adalah menyelidiki tiga pohon Taiwania raksasa yang telah lama dikenal masyarakat lokal dengan nama Chilan Three Sisters.

Walaupun keberadaan ketiga pohon telah diketahui selama bertahun-tahun, belum pernah dilakukan pengukuran ilmiah secara cermat. Survei menunjukkan bahwa pohon tertingginya mencapai 69,3 meter dengan batang hampir tiga meter lebarnya.

Perhatian internasional terhadap pohon-pohon tersebut meningkat pada 2017 ketika pemanjat profesional dari The Tree Projects di Australia datang ke Taiwan untuk memotret Chilan Three Sisters secara utuh. Dokumentasi visual itu membantu memperkenalkan skala hutan Taiwan kepada masyarakat global.

Keberhasilan awal kemudian mendorong tim menyelidiki wilayah yang lebih terpencil di dekat Gunung Benya. Berbagai laporan menyebutkan bahwa kawasan tersebut mungkin memiliki konsentrasi Taiwania terbesar di Taiwan dan berdekatan dengan Great Ghost Lake, sebuah tempat yang dianggap suci oleh masyarakat adat.

Perjalanan menuju kawasan tersebut membutuhkan empat hari pendakian berat sambil membawa berbagai peralatan. Ekspedisi juga memperlihatkan betapa sulitnya memperkirakan tinggi pohon dari permukaan tanah karena kanopi hutan tua tersusun dalam banyak lapisan dan sering mengaburkan posisi puncak pohon.

Dalam ekspedisi itu, tim berhasil memanjat pohon setinggi 71,7 meter. Meskipun hasil tersebut mengesankan, para peneliti menyadari bahwa survei darat saja tidak akan cukup untuk menemukan pohon-pohon tertinggi yang tersebar di wilayah pegunungan yang sangat luas.

Mencari pohon raksasa di antara sekitar 950 juta pohon di Taiwan menyerupai pencarian jarum di tumpukan jerami. Untuk mempercepat proses, tim bekerja sama dengan pakar penginderaan jauh dari National Cheng Kung University dan mulai menggunakan teknologi LiDAR atau Light Detection and Ranging.

LiDAR bekerja dengan memancarkan pulsa laser dari pesawat ke permukaan di bawahnya. Waktu yang dibutuhkan setiap pulsa untuk kembali digunakan untuk membangun model tiga dimensi medan dan memperkirakan tinggi masing-masing pohon.

Meski demikian, topografi Taiwan yang curam menciptakan kesulitan baru. Perangkat lunak otomatis sering menilai pohon jauh lebih tinggi dari ukuran sebenarnya, terutama ketika pohon tumbuh di samping tebing atau perubahan elevasi yang tajam.

Para peneliti kemudian menemukan bahwa manusia lebih mampu mengenali kesalahan geologis semacam itu dibandingkan algoritma. Pada 2020, proyek berkembang menjadi kolaborasi besar yang melibatkan ratusan ilmuwan warga Taiwan untuk memeriksa citra profil LiDAR dan menghapus puluhan ribu kandidat palsu.

Skala kesalahan ternyata sangat besar karena sistem otomatis salah mengukur sekitar 93 persen pohon yang teridentifikasi. Tanpa bantuan ilmuwan warga, tim kemungkinan harus menghabiskan bertahun-tahun untuk mendatangi lokasi pohon yang pada akhirnya jauh lebih pendek dari perkiraan.

Pada akhir 2022, kerja sama tersebut menghasilkan Taiwan Giant Tree Map yang mencatat 941 pohon dengan tinggi lebih dari 65 meter. Peta tersebut menjadi dasar penting untuk mengarahkan ekspedisi lapangan berikutnya ke kandidat paling menjanjikan.

Pada Januari 2023, selama liburan Tahun Baru Imlek, tim menggunakan peta itu untuk menyelidiki kandidat terkuat sebagai pohon tertinggi. Perjalanan menuju lokasinya mengharuskan tim menyusuri sungai sejauh 20 kilometer, kemudian melanjutkan pendakian curam selama dua hari.

Setelah pemanjat mencapai pucuk pohon, pita ukur diturunkan dari titik tertinggi hingga permukaan tanah. Pengukuran akhir menunjukkan tinggi 84,1 meter, menjadikannya pohon tertinggi yang diketahui di Taiwan dan seluruh Asia Timur.

Pohon tersebut diberi nama Heaven Sword of the Da’an River. Hingga awal 2026, survei lanjutan telah menemukan dan memanjat sepuluh pohon Taiwania dengan tinggi lebih dari 70 meter, termasuk dua pohon yang melampaui 80 meter.

Peta tersebut juga menuntun tim menuju kelompok-kelompok hutan yang sangat padat dengan pohon raksasa. Para peneliti menyebut kawasan semacam itu sebagai “temples of giants” atau kuil para raksasa karena puluhan pohon besar tumbuh berdekatan dalam satu wilayah.

Di dekat Gunung Benya, satu hektare hutan diketahui mengandung 11 pohon dengan tinggi lebih dari 65 meter. Sepuluh tahun setelah perjalanan pertama menuju kawasan Great Ghost Lake, tim kembali dan menemukan sekitar 30 pohon Taiwania raksasa tumbuh bersama dalam hutan tua yang hampir murni.

Skala temuan tersebut membuat tim terdiam karena konsentrasi pohon raksasa semacam itu sangat jarang ditemukan. Kawasan tersebut tidak hanya memperlihatkan bagaimana hutan tua dapat bertahan di wilayah terpencil, tetapi juga menunjukkan pentingnya perlindungan alamiah yang diberikan oleh medan ekstrem.

Pada 2024, tim bersama 15 ilmuwan warga melakukan penelitian rinci di lembah Tao Tree, rumah bagi pohon tertinggi ketiga di Taiwan. Tujuannya adalah mengukur berapa banyak karbon dioksida yang diserap dari atmosfer dan disimpan di dalam jaringan kayu.

Hasil pengukuran menunjukkan kepadatan karbon total mencapai 1.384,5 megagram per hektare, bahkan tanpa menghitung sistem akar yang sangat besar. Angka tersebut menempatkan hutan raksasa Taiwan di antara ekosistem dengan kepadatan karbon tertinggi di dunia.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pohon-pohon yang menyentuh bulan bukan hanya monumen alam karena ukurannya. Hutan-hutan tersebut juga merupakan penyimpan karbon penting yang membantu mengurangi jumlah karbon dioksida di atmosfer dan menjaga kestabilan lingkungan.

Penelitian mengenai hutan raksasa Taiwan menunjukkan bahwa medan terpencil yang dahulu menghambat eksploitasi kini menjadi alasan utama mengapa sebagian hutan purba masih bertahan. Kombinasi ekspedisi lapangan, LiDAR, keahlian pemanjat profesional, dan partisipasi ilmuwan warga memungkinkan dunia yang sebelumnya tersembunyi mulai dipetakan secara ilmiah.

Hutan pegunungan Taiwan menyimpan pohon tertinggi di Asia Timur, puluhan kelompok pohon raksasa, dan cadangan karbon yang sangat besar. Temuan tersebut menunjukkan bahwa perlindungan terhadap hutan tua tidak hanya penting untuk mempertahankan keanekaragaman hayati, tetapi juga untuk menjaga salah satu penyimpan karbon alami paling berharga di planet ini.

Diolah dari artikel:
“Scientists went looking for giant trees in Taiwan and found a lost world” oleh Frontiers. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/08/260802223431.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *