Sumber ilustrasi: Unsplash
28 April 2026 11.40 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [28.04.2026] Aktifitas fisik, terutama olahraga, telah lama diteliti sebagai salah satu hal yang berkontribusi dalam kesehatan badan dan peningkatan usia hidup. Pertanyaannya, apakah terdapat jenis olahraga tertentu memberikan manfaat yang berbeda, atau apakah variasi aktivitas memiliki peran tambahan, masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan. Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal BMJ Medicine memberikan perspektif baru dengan menyoroti pentingnya keberagaman dalam aktivitas fisik, bukan sekadar jumlah total olahraga yang dilakukan.
Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa manfaat olahraga tidaklah terus menigkat secara linear seiring bertambahnya waktu dan intensitas olahraga tersebut. Terdapat titik tertentu dimana manfaat olahraga akan menurun yang mengindikasikan adanya suatu batas optimal dari aktifitas fisik tersebut. Variari jenis olahraga nampaknya juga memiliki kontribusi dalam menurunkan risiko kematian, terlepas dari banyak aktivitas yang dilakukan.
Dalam upaya memahami fenomena ini, para peneliti menganalisis data dari dua studi jangka panjang besar, yaitu Nurses’ Health Study dan Health Professionals Follow-Up Study. Kedua studi ini melibatkan lebih dari 170 ribu peserta dan berlangsung selama lebih dari 30 tahun. Data dikumpulkan secara berkala setiap dua tahun, mencakup informasi gaya hidup, riwayat kesehatan, serta kebiasaan olahraga para peserta.
Para peserta melaporkan berbagai jenis aktivitas fisik yang dilakukan, mulai dari berjalan kaki, jogging, berlari, bersepeda, hingga berenang dan olahraga raket seperti tenis dan squash. Seiring waktu, survei juga mencakup latihan beban, yoga, peregangan, serta aktivitas luar ruangan seperti berkebun dan pekerjaan fisik berat. Bahkan, jumlah anak tangga yang dinaiki setiap hari turut diperhitungkan sebagai bagian dari aktivitas fisik.
Untuk mengukur tingkat aktivitas, para peneliti menggunakan skor MET, yang mencerminkan jumlah energi yang dikeluarkan selama melakukan suatu aktivitas dibandingkan dengan kondisi istirahat. Analisis mencakup lebih dari 111 ribu peserta, baik untuk total aktivitas maupun variasinya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa individu dengan tingkat aktivitas fisik yang lebih tinggi umumnya memiliki kondisi kesehatan yang lebih baik. Kelompok ini cenderung memiliki berat badan lebih rendah, pola makan lebih sehat, serta risiko lebih kecil terhadap kebiasaan merokok, tekanan darah tinggi, dan kolesterol tinggi. Selain itu, mereka juga lebih aktif secara sosial dan terlibat dalam berbagai jenis kegiatan.
Selama periode pengamatan lebih dari tiga dekade, tercatat hampir 39 ribu kematian di antara peserta, dengan penyebab utama meliputi penyakit kardiovaskular, kanker, dan gangguan pernapasan. Aktivitas fisik yang lebih tinggi dikaitkan dengan penurunan risiko kematian dari berbagai penyebab, meskipun hubungan tersebut tidak bersifat linear. Manfaat aktivitas fisik tampak mencapai titik jenuh setelah sekitar 20 jam MET per minggu.
Dalam analisis lebih rinci, berjalan kaki muncul sebagai salah satu aktivitas dengan dampak paling signifikan, dengan penurunan risiko kematian hingga 17 persen pada kelompok yang paling aktif. Naik tangga juga menunjukkan manfaat dengan penurunan risiko sebesar 10 persen. Aktivitas lain seperti tenis, kalistenik, latihan beban, dan lari juga berkontribusi terhadap penurunan risiko, meskipun dengan variasi besaran efek.
Penelitian ini juga menyoroti bahwa keberagaman aktivitas memiliki dampak tambahan yang signifikan. Peserta yang melakukan berbagai jenis olahraga menunjukkan risiko kematian 19 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang melakukan aktivitas yang lebih terbatas. Bahkan, risiko kematian akibat penyakit tertentu seperti kardiovaskular, kanker, dan gangguan pernapasan juga menurun secara signifikan pada kelompok dengan variasi aktivitas yang tinggi.
Meskipun demikian, penelitian ini memiliki sejumlah keterbatasan. Data aktivitas fisik diperoleh berdasarkan laporan peserta, sehingga berpotensi mengandung ketidakakuratan. Selain itu, perhitungan skor MET mengasumsikan keterlibatan penuh dalam setiap aktivitas, tanpa mempertimbangkan variasi intensitas secara rinci. Para peneliti juga mencatat bahwa sebagian besar peserta berasal dari kelompok ras tertentu, sehingga generalisasi hasil perlu dilakukan dengan hati-hati.
Para peneliti dari BMJ Group menyampaikan bahwa keterlibatan jangka panjang dalam berbagai jenis aktivitas fisik kemungkinan besar berperan dalam memperpanjang usia hidup, berdasarkan pola yang diamati dalam data yang dianalisis.
Penelitian memberikan gambaran bahwa variasi dari aktivitas fisik juga memiliki pengaruh dan tidak hanya banyak waktu aktivitas fisik saja. Melakukan berbagai jenis olahraga secara konsisten dikaitkan dengan penurunan risiko kematian yang lebih besar dibandingkan hanya berfokus pada satu jenis aktivitas. Temuan ini menambah wawasan mengenai pendekatan yang beragam dalam aktivitas fisik dapat memberikan manfaat kesehatan yang lebih optimal dalam jangka panjang.
Diolah dari artikel:
“This one change to your exercise routine could add years to your life” oleh BMJ Group. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/04/260426012305.htm