Sumber ilustrasi: Unsplash
12 April 2026 20.05 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [12.04.2026] Para ilmuwan telah lama mengetahui bahwa usus manusia dihuni oleh lebih dari 3.000 spesies bakteri yang berperan penting dalam pencernaan serta sistem kekebalan tubuh. Namun, penelitian terbaru mulai mengeksplorasi kemungkinan bahwa mikroorganisme ini juga memiliki pengaruh terhadap jenis makanan yang diinginkan manusia. Gagasan tersebut muncul dari hipotesis bahwa mikroba usus tidak hanya hidup secara pasif, tetapi juga dapat berinteraksi dengan sistem biologis tubuh untuk memengaruhi perilaku makan.
Sebuah studi yang dipublikasikan pada 2014 mengusulkan bahwa mikroba usus berpotensi memanipulasi kebiasaan makan inangnya dengan cara mendorong konsumsi makanan tertentu yang mendukung pertumbuhan mereka. Mekanisme yang diajukan meliputi penciptaan rasa ingin makan tertentu hingga memicu ketidaknyamanan apabila kebutuhan mikroba tidak terpenuhi. Para peneliti dalam studi tersebut menekankan bahwa hubungan antara manusia dan mikroba tidak selalu selaras.
Contoh nyata dari interaksi tersebut terlihat pada bakteri Salmonella Typhimurium, yang diketahui mampu mengganggu sinyal antara usus dan otak. Dalam kondisi infeksi saluran pencernaan, organisme ini dapat mempertahankan nafsu makan inangnya, berlawanan dengan respons normal tubuh yang biasanya menekan keinginan makan saat sakit. Hal ini memungkinkan bakteri tetap berkembang dan menyebar melalui inang.
Meskipun studi awal tersebut bersifat teoretis, penelitian lanjutan mulai menguji hipotesis ini secara eksperimental. Pada tahun 2022, para peneliti melakukan transplantasi mikrobioma dari hewan pengerat liar dengan pola makan berbeda—karnivora, herbivora, dan omnivora—ke dalam tikus yang bebas mikroba. Hasilnya menunjukkan bahwa perbedaan mikrobioma menghasilkan preferensi makanan yang berbeda secara signifikan.
Menariknya, hasil penelitian tidak sepenuhnya sesuai dengan prediksi awal. Tikus dengan mikrobioma herbivora justru menunjukkan kecenderungan memilih makanan tinggi protein, sementara tikus dengan mikrobioma karnivora lebih memilih karbohidrat. Temuan ini memperkuat gagasan bahwa mikrobioma memiliki peran dalam membentuk pilihan makanan, meskipun mekanismenya tidak sederhana.
Salah satu penjelasan biologis yang diajukan berkaitan dengan produksi neurotransmiter oleh bakteri usus. Mikroorganisme ini mampu menghasilkan zat kimia seperti serotonin yang berfungsi mengatur nafsu makan. Sekitar 90% serotonin dalam tubuh diketahui diproduksi di usus, sehingga aktivitas mikroba memiliki dampak signifikan terhadap regulasi rasa lapar dan kenyang.
Dalam eksperimen tersebut, tikus dengan mikrobioma herbivora ditemukan memiliki kadar triptofan lebih tinggi dalam darah, yang merupakan bahan pembentuk serotonin. Kadar serotonin yang meningkat diketahui dapat menekan keinginan terhadap karbohidrat, sehingga mendorong perubahan preferensi makanan ke arah konsumsi protein. Hal ini menunjukkan kemungkinan jalur biologis yang menghubungkan mikrobioma dengan perilaku makan.
Penelitian juga mengindikasikan adanya hubungan timbal balik antara pola makan dan mikrobioma. Perubahan kecil dalam diet dapat mengubah komposisi mikroba di usus, yang kemudian memengaruhi keinginan makan di masa depan. Dengan demikian, terbentuk suatu siklus umpan balik yang dinamis antara tubuh dan mikroorganisme yang hidup di dalamnya.
Namun demikian, penerapan temuan ini pada manusia masih menghadapi tantangan. Pilihan makanan manusia dipengaruhi oleh berbagai faktor kompleks seperti budaya, kondisi sosial, ekonomi, serta kebiasaan yang dipelajari. Faktor-faktor ini membuat pengaruh mikrobioma menjadi hanya salah satu dari banyak variabel yang menentukan preferensi makanan.
Penelitian terbaru pada tahun 2025 mulai memberikan petunjuk tambahan terkait relevansi pada manusia. Dalam studi tersebut, bakteri usus Bacteroides vulgatus ditemukan mampu menekan keinginan terhadap gula pada tikus dengan memicu produksi hormon GLP-1. Hormon ini juga menjadi target dalam pengobatan diabetes tipe 2, dan ditemukan bahwa individu dengan kondisi tersebut memiliki kadar bakteri ini yang lebih rendah.
Secara keseluruhan, bukti ilmiah menunjukkan bahwa mikrobioma usus memiliki potensi untuk memengaruhi preferensi makanan melalui berbagai mekanisme biologis, termasuk produksi neurotransmiter dan interaksi dengan sistem saraf. Namun, pengaruh tersebut tidak bersifat mutlak karena pilihan makanan manusia tetap dipengaruhi oleh faktor eksternal yang kompleks. Hubungan dua arah antara pola makan dan mikrobioma menunjukkan bahwa perubahan kecil dalam diet dapat berdampak jangka panjang terhadap kebiasaan makan.
Diolah dari artikel:
“Do the microbes in your gut influence what foods you like?” oleh Ashley Hamer. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.