Sumber ilustrasi: Pixabay
15 April 2026 08.15 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [15.04.2026] Alam semesta kita mengalami ekspansi, dan pengukuran akan laju ekspansi tersebut merupakan salah satu topik besar dalam dunia kosmologi dewasa ini. Apakah metode-metode yang digunakan para peneliti? Terdapat dua metode utama yang digunakan selama ini menghasilkan hasil yang berbeda. Pengamatan pada alam semesta lokal menunjukkan kecepatan ekspansi lebih tinggi, sementara analisis dari radiasi latar belakang kosmik menunjukkan nilai yang lebih rendah berdasarkan model standar kosmologi.
Perbedaan ini dikenal sebagai Hubble tension, yakni sebuah ketidaksesuaian yang terus muncul dalam berbagai penelitian independen. Meskipun selisih angkanya terlihat kecil, dampaknya besar karena menyangkut pemahaman dasar tentang evolusi alam semesta.
Kini, dalam sebuah studi terbaru yang melibatkan kolaborasi internasional termasuk peneliti dari NSF NOIRLab kembali memperkuat ketidaksesuaian tersebut melalui pengukuran yang lebih presisi.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Astronomy & Astrophysics pada 10 April yang lalu ini dilakukan oleh H0 Distance Network (H0DN) Collaboration. Studi tersebut menggabungkan berbagai data pengamatan selama puluhan tahun untuk menghasilkan estimasi paling presisi terhadap laju ekspansi alam semesta lokal.
Hasil pengukuran menunjukkan konstanta Hubble berada pada nilai sekitar 73,50 ± 0,81 kilometer per detik per megaparsec, dengan tingkat ketelitian mendekati 1 persen. Nilai ini konsisten dengan hasil pengamatan lokal sebelumnya, yang berada di kisaran 73 kilometer per detik per megaparsec.
Sebaliknya, model kosmologi standar yang menggunakan data alam semesta awal dari radiasi latar gelombang mikro kosmik memperkirakan nilai yang lebih rendah, sekitar 67 hingga 68 kilometer per detik per megaparsec. Perbedaan ini tidak dapat dijelaskan sebagai kesalahan statistik biasa karena muncul secara konsisten di berbagai studi.
Untuk mencapai hasil tersebut, peneliti membangun sistem “distance network” yang menggabungkan beberapa metode pengukuran kosmik. Metode yang digunakan mencakup bintang variabel Cepheid, bintang raksasa merah, supernova Tipe Ia, serta jenis galaksi tertentu yang memiliki karakteristik terang standar.
Pendekatan ini memungkinkan verifikasi silang antar metode. Jika satu teknik dihilangkan dari analisis, hasil akhir tidak mengalami perubahan signifikan. Konsistensi tersebut memperkuat kepercayaan terhadap hasil pengukuran dan mengurangi kemungkinan adanya kesalahan sistematis tunggal dalam pengukuran jarak kosmik.
Data penelitian juga diperoleh dari berbagai observatorium darat dan luar angkasa, termasuk NSF Cerro Tololo Inter-American Observatory di Chile dan NSF Kitt Peak National Observatory di Arizona. Seluruh data digabungkan untuk memperkuat validitas hasil akhir.
Para peneliti menyimpulkan bahwa penjelasan Hubble tension yang hanya bergantung pada kesalahan pengukuran lokal tidak lagi memadai. Jika ketidaksesuaian ini benar-benar mencerminkan kondisi alam semesta, maka kemungkinan besar terdapat aspek fisika baru yang belum masuk dalam model kosmologi saat ini.
Hasil pengukuran terbaru menunjukkan bahwa laju ekspansi alam semesta lokal tetap lebih cepat dibandingkan prediksi berdasarkan model kosmologi standar. Konsistensi hasil dari berbagai metode pengukuran memperkuat keberadaan Hubble tension dan mengurangi kemungkinan kesalahan teknis sederhana. Perbedaan ini membuka kemungkinan bahwa pemahaman tentang energi gelap, partikel kosmik, atau hukum gravitasi perlu diperluas untuk menjelaskan perilaku alam semesta secara lebih akurat, sementara jaringan pengukuran baru disiapkan untuk penelitian lanjutan guna menentukan apakah ketidaksesuaian ini akan terpecahkan atau justru mengarah pada fisika baru.
Diolah dari artikel:
“The Universe is expanding too fast and scientists still can’t explain it” oleh AURA / NSF NOIRLab Collaboration. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/04/260411022025.htm