Kuman Tahan Antiseptik Bertebaran di Udara Rumah Sakit?

Sumber ilustrasi: Unsplash
15 April 2026 08.25 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [15.04.2026] Antiseptik merupakan senyawa kimia yang dipakai di rumah sakit guna menjaga kebersihan dan mencegah infeksi. Akan tetapi dalam studi terbaru, ditemukan bahwa sisa-sisa antiseptik yang ada di lingkungan rumah sakit memiliki potensi untuk membuat bakteri menjadi lebih kebal terhadapnya. Hasil ini menambah keresahan akan peningkatan resistensi dari mikroba-mikroba yang kini sedang menjadi perbincangan dunia medis global.

Dalam kondisi normal, antiseptik bekerja dengan cara membunuh mikroorganisme melalui berbagai mekanisme kimia. Bahan seperti alkohol, yodium, dan hidrogen peroksida digunakan untuk mendisinfeksi permukaan maupun kulit, sementara klorheksidin sering dipakai sebelum tindakan medis seperti operasi atau pemasangan kateter.

Penelitian yang dipimpin oleh Erica Hartmann dari Northwestern University menemukan bahwa bakteri dapat mengembangkan toleransi terhadap antiseptik. Pada tahap ini, bakteri masih dapat dibunuh oleh dosis antiseptik yang digunakan secara normal, tetapi memiliki kemampuan bertahan lebih baik dibandingkan bakteri lain yang tidak memiliki toleransi.

Hal yang menjadi perhatian utama adalah perbedaan antara toleransi dan resistansi. Resistansi terjadi ketika bakteri mampu tumbuh dan berkembang meskipun berada dalam paparan antiseptik pada konsentrasi yang biasanya sudah cukup untuk membunuh mikroorganisme. Kondisi ini jauh lebih berbahaya karena membuat proses disinfeksi menjadi tidak efektif.

Studi ini juga menemukan bahwa bakteri dengan toleransi terhadap klorheksidin dapat bertahan di berbagai permukaan rumah sakit. Dalam pengambilan sampel di unit perawatan intensif (ICU), sekitar 219 titik permukaan seperti pegangan tempat tidur, tombol panggilan perawat, keyboard, sakelar lampu, dan saluran wastafel diperiksa, dan ribuan bakteri berhasil diisolasi. Sekitar 36 persen di antaranya menunjukkan kemampuan bertahan terhadap klorheksidin.

Eksperimen lanjutan menunjukkan bahwa residu klorheksidin dapat bertahan di permukaan seperti plastik, logam, dan laminasi hingga lebih dari 24 jam, bahkan setelah proses pembersihan dengan air maupun bahan kimia lain. Kondisi ini menciptakan lingkungan dengan paparan dosis rendah yang tidak cukup untuk membunuh bakteri, tetapi cukup untuk mendorong adaptasi.

Dalam situasi tersebut, bakteri yang memiliki gen toleransi akan lebih mudah bertahan dan berkembang dibandingkan bakteri lain. Seleksi alam mikroba ini dapat menyebabkan dominasi strain yang lebih kuat di lingkungan rumah sakit.

Studi yang dipublikasikan pada 2 April di jurnal Environmental Science & Technology juga menunjukkan bahwa bakteri yang terpapar jejak antiseptik dapat saling bertukar potongan DNA. Pertukaran materi genetik ini memungkinkan bakteri memperoleh kemampuan tambahan, termasuk potensi untuk menghindari antibiotik yang digunakan dalam pengobatan infeksi. Mekanisme ini menunjukkan bahwa resistansi tidak hanya dipicu oleh antibiotik, tetapi juga dapat dipercepat oleh paparan antiseptik dalam kadar rendah.

Selain permukaan, penelitian ini juga menyoroti peran wastafel sebagai titik penyebaran utama. Lingkungan yang lembap dan hangat pada saluran pembuangan air menciptakan habitat ideal bagi bakteri untuk bertahan hidup meskipun terus terpapar bahan kimia yang telah diencerkan.

Wastafel juga dapat menghasilkan aerosol, partikel air sangat kecil yang dapat melayang di udara. Percikan air dari keran atau drainase dapat membawa bakteri ke udara dan menyebarkannya ke berbagai permukaan lain seperti ambang pintu dan area sekitar. Temuan sampel menunjukkan bahwa bakteri toleran bahkan ditemukan di lokasi yang tidak bersentuhan langsung dengan sumber air, mengindikasikan kemungkinan penyebaran melalui udara di dalam ruang rumah sakit.

Pandangan dari Danna Gifford menekankan bahwa resistansi antimikroba merupakan fenomena kompleks yang dapat muncul dari berbagai sumber, termasuk penggunaan antiseptik. Paparan bahan kimia dalam lingkungan selain antibiotik juga dapat berkontribusi pada evolusi bakteri yang lebih tahan.

Meskipun demikian, klorheksidin tetap efektif dalam membunuh bakteri pada konsentrasi yang digunakan dalam praktik medis. Bakteri yang diamati dalam penelitian ini hanya mampu bertahan pada kadar yang jauh lebih rendah dibandingkan dosis klinis yang digunakan untuk pasien.

Residu antiseptik yang tertinggal di lingkungan rumah sakit dapat menciptakan kondisi dengan paparan dosis rendah yang mendorong bakteri mengembangkan toleransi, meningkatkan peluang terjadinya resistansi, mempercepat pertukaran gen yang berpotensi berkaitan dengan antibiotik, serta memungkinkan penyebaran melalui aerosol di udara, sehingga menimbulkan kebutuhan untuk memahami kembali dampak penggunaan antiseptik secara lebih menyeluruh dalam pengendalian infeksi modern. Perlu diperhatikan bahwa Artikel ini merupakan artikel informasi dan tidak dimaksudkan sebagai saran medis.

Diolah dari artikel:
“Antiseptic-tolerant germs spread through the air in hospitals, early study hints” oleh Marianne Guenot. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.livescience.com/health/medicine-drugs/antiseptic-tolerant-germs-spread-through-the-air-in-hospitals-early-study-hints

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *