Konsumsi Roti Menambah Berat Badan Meski Tanpa Tambahan Kalori?

Sumber ilustrasi: Pixabay
15 April 2026 12.15 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [15.04.2026] Roti telah lama menjadi salah satu makanan penting dalam sejarah manusia dan telah mengakar sangat dalam di kehidupan kita. Kini, dengan terus bertambahnya kasus obesitas, para peneliti mulai melakukan studi yang mempertanyakan: Apakah pola makan yang sangat bergantung pada karbohidrat ini masih dipandang sehat di era modern?

Kita tahu obesitas merupakan suatu permasalah yang telah lama dibahas, khususnya terkai dengan gaya hidup dan juga resiko kesehatan lain yang muncul karenanya. Hingga kini, para peneliti berpandangan bahwa pola makan yang tinggi akan lemak menjadi pendorong dari bertambahnya berat badan, suatu hal yang diperhatikan juga di banyak studi terhadap hewan-hewan yang juga memakan banyak lemak untuk kebutuhan bertahan hidup mereka.

Akan tetapi banyak makanan berkarbohidrat seperti roti, nasi, dan mie merupakan konsumsi utama masyarakat tiap harinya, tidak dipandang dan dimasukan kedalam studi terkait obesitas dan metabolisme tubuh secara jelas. Pertanyaan yang diajukan adalah apakah benar adanya pendapat seperti “memakan terlalu banyak karbohidrat menambah berat badan”, atau “karbohidrat harus dikurangi”? Apakah permasalahan terletak pada makanannya, atau apakah pada bagaimana masyarakat mengkonsumsi makanan-makanan tersebut?

Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi bahan penelitan dari Osaka Metropolitan University’s Graduate School of Human Life and Ecology yang dipimpin oleh Professor Shigenobu Matsumura. Mereka meneliti apa dampak dari konsumsi karbohidrat terhadap pola makan dari tikus.

Dalam penelitian yang dipublikasikan di Molecular Nutrition & Food Research. Para peneliti melihat apakah tikus lebih memilih makan seperti gandum, roti, beras daripada makanan tikus pada umumnya dan bagaimana pilihan ini mempengaruhi berat badan dan penggunaan energi tikus tersebut.

Terdapat beberapa pengkelompokan dari penelitian ini. Terdapat grup yang menyediakan makanan tikus biasa, makanan tikus dengan roti, makanan tikus dengan tepung gandum, makanan tikus dengan tepung beras, makanan tinggi lemak dengan makanan tikus, dan makanan tinggi lemak dengan tepung gandum. Hasilnya menunjukkan bahwa tikus secara konsisten lebih memilih makanan kaya karbohidrat dan bahkan meninggalkan makanan tikus sepenuhnya.

Meskipun tidak terjadi peningkatan signifikan dalam total asupan kalori, tikus yang mengonsumsi karbohidrat mengalami kenaikan berat badan dan peningkatan massa lemak. Temuan ini menunjukkan bahwa faktor selain jumlah kalori berperan dalam perubahan berat badan.

Penelitian juga menemukan bahwa tikus yang mengonsumsi tepung beras mengalami peningkatan berat badan yang serupa dengan kelompok yang mengonsumsi tepung gandum. Sebaliknya, kombinasi diet tinggi lemak dengan tambahan tepung gandum menghasilkan kenaikan berat badan yang lebih rendah dibandingkan diet tinggi lemak dengan pakan standar.

Analisis metabolisme menunjukkan bahwa kenaikan berat badan tidak disebabkan oleh konsumsi berlebihan, melainkan oleh penurunan pengeluaran energi. Pengukuran menggunakan teknik kalorimetri tidak langsung mengungkap bahwa tubuh membakar energi lebih sedikit pada grup yang mengonsumsi karbohidrat tinggi.

Selain itu, ditemukan peningkatan kadar asam lemak dalam darah dan penurunan kadar asam amino esensial. Di organ hati, terjadi peningkatan akumulasi lemak serta aktivitas gen yang berkaitan dengan produksi asam lemak dan transport lipid.

Ketika komponen tepung gandum dihilangkan dari pola makan, kondisi metabolik tikus membaik dengan cepat, yang dimana juga termasuk penurunan berat badan. Perubahan ini menunjukkan bahwa komposisi makanan dapat secara langsung memengaruhi efisiensi penggunaan energi dalam tubuh.

Peneliti juga menyoroti bahwa preferensi kuat terhadap karbohidrat kemungkinan menjadi faktor utama dalam perubahan metabolisme tersebut dan tidak semata-mata jenis bahan makanan tertentu seperti gandum.

Penelitian ini kedepannya akan diperluas pada manusia untuk memahami apakah mekanisme serupa juga terjadi dalam pola makan sehari-hari. Fokus penelitian lanjutan mencakup pengaruh biji-bijian utuh, makanan tinggi serat, kombinasi nutrisi, metode pengolahan makanan, serta waktu konsumsi terhadap respons metabolisme tubuh.

Karbohidrat seperti roti dan nasi berpotensi memicu kenaikan berat badan melalui mekanisme yang tidak bergantung pada peningkatan asupan kalori, melainkan melalui perubahan metabolisme yang menurunkan pengeluaran energi dan meningkatkan penyimpanan lemak, sehingga menunjukkan bahwa keseimbangan energi tubuh dipengaruhi tidak hanya oleh jumlah makanan yang dikonsumsi tetapi juga oleh jenis dan preferensi terhadap makanan tersebut. Perlu diperhatikan bahwa artikel ini bertujuan memberikan informasi dan tidak dimaksudkan sebagai saran medis.

Diolah dari artikel:
“Scientists discover why bread can cause weight gain without extra calories” oleh Osaka Metropolitan University. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link : https://www.sciencedaily.com/releases/2026/04/260414075637.htm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *