Sumber ilustrasi: Unsplash
16 April 2026 12.35 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [16.04.2026] Penelitian mengenai hubungan antara pola makan dan kesehatan otak telah lama menjadi perhatian dalam dunia sains, terutama terkait risiko demensia dan penyakit Alzheime. Dalam sebuah studi terbaru dari Karolinska Institutet dan Stockholm University di Sweden, ditemukan suatu penemuan yang mengejutkan, bahwa terdapat koneksi tentatif antara memakan lebih banyak daging jenis apa saja dan penurunan resiko terkena demensia.
Namun demikian, perlu digaris bawahi bahwa temuan ini hanya ditemukan pada orang-orang yang memiliki gen spesifik APOE4, yang dimana pemilik gen ini diasosiasikan memiliki peluang besar terkena penyakit Alzheimer.
Penelitian yang di publikasikan di JAMA Network Open ini meneliti 2,157 partisipan yang berusia di atas 60 tahun yang dipantau hingga 15 tahun dengan melihat data makan dari masing-masing partisipan disertai dengan mengamati tes kognitif mereka dan apakah ada diantara mereka terdiaknosa demensia.
Neurologis dari Karolinska Institutet, Sara Garcia-Ptacek menekankan bahwa proporsi daging olahan yang lebih rendah dalam total konsumsi daging berkaitan dengan risiko demensia yang lebih rendah tanpa bergantung pada genotipe APOE. Dengan kata lain, kualitas konsumsi daging tetap menjadi faktor penting yang memengaruhi kesehatan otak secara umum.
Data studi menunjukkan bahwa partisipan dengan varian gen APOE4 yang mengonsumsi daging dalam jumlah lebih tinggi memiliki kemungkinan lebih rendah untuk mengalami demensia, serta mengalami penurunan memori yang lebih lambat. Temuan ini mendukung hipotesis bahwa individu dengan APOE4 dapat merespons pola makan tinggi daging secara berbeda, sebagaimana dijelaskan oleh gerontolog Jakob Norgren.
Meskipun demikian, penelitian juga mengonfirmasi bahwa jenis daging tetap menjadi faktor penting. Konsumsi daging olahan dalam proporsi tinggi tetap dikaitkan dengan peningkatan risiko demensia, terlepas dari status genetik. Sebaliknya, rasio konsumsi daging tidak olahan yang lebih tinggi, seperti daging merah segar dan ungags, berhubungan dengan risiko yang lebih rendah. Dengan demikian, kualitas sumber protein hewani menjadi aspek krusial dalam memahami dampaknya terhadap kesehatan otak.
Para peneliti mengaitkan kemungkinan perbedaan ini dengan cara tubuh memproses nutrisi, terutama pada individu dengan APOE4. Gen tersebut berperan dalam produksi apolipoprotein E, protein yang membantu distribusi lemak dan kolesterol dalam tubuh, termasuk ke otak. Perbedaan dalam mekanisme ini diduga memengaruhi bagaimana nutrisi dari daging dimanfaatkan oleh sistem saraf.
Perlu diperhatikan bahwa studi ini bersifat observasional, sehingga hanya menunjukkan hubungan dan bukan sebab-akibat. Selain itu, pandangan lama bahwa nenek moyang manusia mengonsumsi daging dalam jumlah besar juga mulai diperdebatkan kembali dalam literatur ilmiah terbaru. Ditambah lagi, banyak penelitian sebelumnya justru mengaitkan konsumsi daging tinggi dengan peningkatan risiko demensia, sehingga diperlukan kajian lanjutan untuk memastikan konsistensi temuan.
Pada kelompok peserta tanpa varian APOE4, tidak ditemukan hubungan signifikan antara konsumsi daging secara keseluruhan dengan fungsi kognitif maupun risiko demensia. Meski demikian, perbedaan tetap terlihat berdasarkan jenis daging yang dikonsumsi, memperkuat gagasan bahwa pola makan yang sehat tidak hanya ditentukan oleh jumlah, tetapi juga kualitas makanan.
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan antara konsumsi daging dan risiko demensia tidak bersifat universal, melainkan dipengaruhi oleh faktor genetik seperti APOE4, dengan indikasi bahwa konsumsi daging tertentu dapat memberikan manfaat pada kelompok tersebut, sementara kualitas daging tetap menjadi faktor penting bagi semua individu dan hasil ini masih memerlukan verifikasi melalui penelitian lebih lanjut.
Diolah dari artikel:
“Study Links Eating More Meat to Lower Dementia Risk, But Only in One Group” oleh David Nield. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.