Sumber ilustrasi: Pixabay
16 April 2026 16.25 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [16.04.2026] Selama bertahun-tahun, diabetes dikenal memiliki beberapa jenis utama, seperti tipe 1, tipe 2, tipe 3c, dan diabetes gestasional. Masing-masing memiliki penyebab yang berbeda-beda seperti gangguan autoimun, gaya hidup, hingga perubahan hormon. Di luar klasifikasi ini, para ilmuwan telah lama memperdebatkan keberadaan bentuk lain dari penyakit ini yang belum sepenuhnya diakui secara global.
Perdebatan tersebut akhirnya mulai menemukan titik terang setelah Federasi Diabetes Internasional (IDF) pada tahun 2025 secara resmi mengakui diabetes tipe 5 sebagai kategori baru. Pengakuan ini muncul setelah puluhan tahun kontroversi dan perbedaan pendapat di kalangan ilmuwan mengenai keberadaan serta karakteristik penyakit tersebut.
Diabetes tipe 5 sebenarnya bukanlah suatu konsep baru. Kondisi ini pertama kali dideskripsikan pada tahun 1955 di Jamaika, namun kemudian sempat diabaikan selama bertahun-tahun. Meskipun Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO pernah mengakui klasifikasi ini pada 1980-an, mereka mencabutnya pada 1999 dikarenakan kurangnya bukti ilmiah yang kuat. Sejak saat itu, belum ada kesepakatan yang jelas mengenai diagnosis maupun penanganannya.
Berbeda dengan jenis diabetes lainnya, diabetes tipe 5 diduga berkaitan erat dengan kekurangan nutrisi kronis. Kondisi ini sebelumnya dikenal sebagai malnutrition-related diabetes mellitus (MRDM) dan sering kali salah didiagnosis sebagai tipe lain. Tidak seperti diabetes tipe 2 yang disebabkan oleh resistensi insulin, kondisi ini lebih berkaitan dengan gangguan produksi insulin akibat dampak jangka panjang dari kekurangan gizi.
Craig Beall, peneliti diabetes dari University of Exeter, menjelaskan bahwa pemahaman terhadap jenis diabetes yang tepat sangat penting untuk menentukan pengobatan yang sesuai. Pendekatan yang salah tidak hanya tidak efektif, tetapi juga berpotensi membahayakan pasien.
Selama ini, Meredith Hawkins dari Global Diabetes Institute di Albert Einstein College of Medicine menjadi salah satu tokoh yang mendorong pengakuan global terhadap diabetes tipe 5. Fokus penelitian menunjukkan bahwa kondisi ini banyak ditemukan pada populasi di Asia dan Afrika yang mengalami ketidakamanan pangan. Penyakit tersebut bahkan dilaporkan memiliki prevalensi yang tinggi, melampaui beberapa penyakit menular, namun kurang mendapatkan perhatian karena tidak memiliki klasifikasi resmi.
Sejumlah penelitian dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa kekurangan nutrisi dalam jangka panjang dapat merusak perkembangan pankreas dan mengganggu kemampuannya dalam menghasilkan insulin. Penelitian yang dipublikasikan pada 2022 oleh Hawkins dan tim menjadi salah satu yang pertama mengidentifikasi profil metabolik unik dari kondisi ini.
Dalam uji coba yang dilakukan di India selatan, ditemukan bahwa penderita MRDM mengalami kekurangan insulin seperti pada diabetes tipe 1, tetapi tidak separah itu. Selain itu, tubuh tetap merespons insulin dengan baik, berbeda dengan diabetes tipe 2 yang ditandai oleh resistensi insulin. Temuan ini memperkuat anggapan bahwa diabetes tipe 5 merupakan kategori yang berbeda secara biologis.
Rahul Garg dari F.H. Medical College and Hospital di India dalam tinjauan ilmiah menjelaskan bahwa mekanisme penyakit ini kemungkinan melibatkan gangguan perkembangan pankreas akibat kekurangan nutrisi yang berlangsung lama. Proses tersebut menghasilkan karakteristik metabolik yang tidak sepenuhnya sesuai dengan tipe diabetes lainnya.
Meski telah diakui oleh IDF, langkah ini masih menuai perdebatan. Sebagian peneliti menilai pengakuan tersebut sudah lama diperlukan, sementara yang lain menganggap bukti yang ada masih belum cukup kuat karena adanya ketidakpastian dalam diagnosis. Variasi kasus yang berkaitan dengan malnutrisi membuat batasan antara tipe diabetes menjadi tidak selalu jelas.
Perbedaan pandangan juga muncul terkait jumlah penderita. Ada yang menilai jumlah kasus terus meningkat, sementara yang lain melihat tren penurunan. Ketidakpastian ini berkaitan erat dengan belum seragamnya metode diagnosis dan kurangnya pengakuan resmi di tingkat global.
Tanpa klasifikasi yang jelas, pendanaan penelitian menjadi sulit diperoleh. Di sisi lain, tanpa penelitian yang memadai, sulit untuk mengembangkan standar diagnosis dan terapi yang efektif. Kondisi ini menciptakan lingkaran yang menghambat kemajuan dalam memahami penyakit tersebut.
Sebagai langkah lanjutan, IDF membentuk kelompok kerja khusus pada tahun 2025 yang dipimpin oleh Hawkins. Kelompok ini bertugas menyusun kriteria diagnosis resmi, mengembangkan panduan pengobatan, membangun registri penelitian global, serta memberikan pelatihan kepada tenaga kesehatan.
Penanganan diabetes tipe 5 memerlukan pendekatan yang lebih hati-hati dibandingkan jenis lainnya. Karena karakteristik metaboliknya yang unik, pemberian insulin harus disesuaikan secara tepat. Dosis yang berlebihan dapat menyebabkan penurunan gula darah yang berbahaya, terutama di wilayah dengan keterbatasan akses terhadap makanan dan pemantauan kesehatan.
Masalah ini tidak hanya terjadi di Asia dan Afrika. Kekurangan gizi juga menjadi tantangan di beberapa wilayah Amerika Latin dan Karibia, dipicu oleh kombinasi faktor lingkungan, ekonomi, dan politik yang memperparah ketimpangan kesehatan. Kondisi tersebut memperluas potensi dampak diabetes tipe 5 secara global.
Upaya penanganan penyakit ini diperkirakan membutuhkan penelitian lanjutan dan dukungan kebijakan yang kuat. Pengalaman klinis menunjukkan bahwa kesalahan penanganan pada bentuk diabetes yang tidak dikenali dapat berakibat fatal, terutama pada pasien usia muda.
Pengakuan resmi diabetes tipe 5 menandai langkah penting dalam memahami variasi penyakit diabetes yang selama ini terabaikan, terutama yang berkaitan dengan kekurangan nutrisi. Bukti ilmiah menunjukkan adanya karakteristik biologis yang berbeda dari tipe lainnya, meskipun masih terdapat perdebatan terkait diagnosis dan prevalensinya. Pengembangan standar diagnosis dan terapi menjadi kunci untuk meningkatkan penanganan serta mencegah dampak fatal, terutama di wilayah dengan tingkat malnutrisi tinggi.
Diolah dari artikel:
“A Distinct New Type of Diabetes Is Now Officially Recognized” oleh Carly Cassella. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.