Sumber ilustrasi: Unsplash
17 April 2026 16.15 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [17.04.2026] Telah lama adanya perdebatan mengenai apakah hewan invertebrata seperti lobster dapat merasakan rasa sakit atau tidak. Topik ini masih menjadi topik kontroversial dalam dunia ilmiah. Banyak pandangan lama beranggapan reaksi hewan-hewan ini terhadap rangsangan ekstrem hanyalah suatu bentuk refleks saja tanpa adanya rasa sakit. Akan tetapi sejumlah penelitian terbaru mulai menmpertanyakan asumsi tersebut dan menunjukkan bahwa krustasea mungkin memiliki kemampuan merasakan nyeri yang lebih kompleks dari yang diperkirakan.
Minat terhadap isu ini juga telah meluas ke ranah etika dan kebijakan publik. Praktik umum seperti merebus lobster hidup-hidup mulai dipertanyakan, seiring meningkatnya bukti ilmiah yang menunjukkan kemungkinan adanya penderitaan. Beberapa negara bahkan telah mengambil langkah untuk mengatur perlakuan terhadap hewan-hewan ini berdasarkan pertimbangan kesejahteraan.
Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Scientific Reports menambah bukti penting dalam perdebatan ini. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa respons lobster terhadap rangsangan berbahaya tidak sekadar mekanis, akan tetapi merupakan proses biologis yang berkaitan dengan rasa sakit.
Penelitian ini menggunakan lobster Norwegia sebagai objek studi dengan tujuan memahami bagaimana hewan tersebut merespons rangsangan yang berpotensi menyakitkan. Sebanyak 105 individu dibagi ke dalam beberapa kelompok, termasuk kelompok kontrol tanpa perlakuan serta kelompok yang diberi sengatan listrik setelah menerima obat pereda nyeri seperti aspirin dan lidokain.
Metode yang digunakan memungkinkan peneliti membedakan antara reaksi refleks sederhana dan respons yang melibatkan pemrosesan nyeri. Sengatan listrik diberikan dalam durasi dan intensitas tertentu, sementara perilaku lobster diamati sebelum, selama, dan setelah perlakuan.
Hasilnya menunjukkan bahwa lobster yang terkena sengatan listrik melakukan gerakan “tail flip”, yaitu respons cepat untuk melarikan diri dari ancaman. Gerakan ini tidak muncul pada kelompok kontrol, yang menunjukkan adanya hubungan langsung antara rangsangan dan respons.
Namun, ketika lobster diberikan obat pereda nyeri sebelum sengatan, frekuensi gerakan tersebut menurun secara signifikan. Penurunan ini menunjukkan bahwa respons yang diamati tidak hanya berasal dari stimulasi otot akibat listrik, melainkan melibatkan sistem biologis yang dapat dipengaruhi oleh obat penghilang rasa sakit.
Temuan tersebut mengarah pada adanya proses nosisepsi, yaitu mekanisme di mana rangsangan berbahaya diterjemahkan menjadi sinyal saraf yang menghasilkan pengalaman negatif. Dengan kata lain, respons lobster kemungkinan melibatkan bentuk pemrosesan nyeri yang lebih kompleks daripada sekadar refleks otomatis.
Penelitian ini juga sejalan dengan studi sebelumnya pada hewan invertebrata lain. Kepiting pertapa diketahui meninggalkan cangkangnya setelah mengalami sengatan listrik berulang, menunjukkan perilaku menghindari rasa sakit. Gurita bahkan menunjukkan kemampuan untuk mengaitkan lokasi tertentu dengan pengalaman nyeri dan memilih area yang memberikan kelegaan.
Bukti yang terus bertambah ini mulai memengaruhi kebijakan di berbagai negara. Beberapa wilayah telah melarang praktik merebus krustasea hidup-hidup, sementara negara lain mulai mempertimbangkan regulasi serupa. Alternatif seperti penyetruman listrik sebelum pembunuhan juga sedang dikembangkan sebagai metode yang lebih manusiawi.
Penelitian terbaru memperkuat bukti bahwa lobster memiliki kemampuan untuk merasakan nyeri melalui mekanisme biologis yang kompleks, bukan sekadar refleks terhadap rangsangan. Respons terhadap obat pereda nyeri menunjukkan adanya pemrosesan saraf yang menyerupai pengalaman rasa sakit, yang pada akhirnya mendorong perubahan pandangan ilmiah dan etika terhadap perlakuan pada krustasea. Pertanyaanya, apakah temuan ini berpotensi membentuk suatu tata cara baru dalam praktik pengolahan hewan, khususnya dalam hal ini lobster?
Diolah dari artikel:
“New study confirms lobsters feel pain, driving scientists to call for a ban on boiling them alive” oleh Kenna Hughes-Castleberry. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.