Ada Sumber Metana Tersembunyi di Lautan?

Sumber ilustrasi: Unsplash
17 April 2026 16.55 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [17.04.2026] Lautan selama ini dipandang sebagai salah satu penyeimbang utama sistem iklim di bumi. Akan tetapi, nampaknya peran laut dalam siklus gas rumah kaca lebih kompleks dari yang diperkirakan. Salah satu teka-teki yang telah lama menjadi bahan diskusi para ilmuwan adalah keberadaan metana di perairan permukaan laut yang kaya oksigen, dimana diketahui gas ini biasanya terbentuk di lingkungan tanpa oksigen.

Fenomena tersebut menimbulkan banyak pertanyaan mengenai sumber metana di laut terbuka. Meski telah banyak hipotesis yang diajukan, belum ada penjelasan yang sepenuhnya memadai. Memahami sumber dan mekanisme produksi metana ini menjadi semakin penting dikarena gas tersebut memiliki efek pemanasan yang jauh lebih kuat dibandingkan karbon dioksida.

Penelitian terbaru dari University of Rochester yang dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences memberikan jawaban baru atas misteri ini. Studi tersebut mengungkap mekanisme biologis yang sebelumnya tersembunyi dan berpotensi menjadi faktor penting dalam mempercepat perubahan iklim.

Penelitian ini menunjukkan bahwa produksi metana di laut terbuka dapat terjadi melalui aktivitas mikroba dalam kondisi kekurangan nutrisi, khususnya fosfat. Dengan menganalisis data global dan menggunakan model komputer, tim peneliti menemukan bahwa beberapa bakteri menghasilkan metana saat memecah materi organik ketika ketersediaan fosfat sangat rendah.

Temuan ini mengubah pemahaman sebelumnya yang menganggap produksi metana di lingkungan kaya oksigen sebagai fenomena langka. Sebaliknya, kondisi tersebut ternyata dapat terjadi secara luas di wilayah laut yang miskin nutrisi.

Peran fosfat muncul sebagai faktor kunci dalam proses ini. Ketika nutrisi tersebut terbatas, mikroba beralih ke jalur metabolisme tertentu yang menghasilkan metana sebagai produk sampingan. Mekanisme ini menjelaskan mengapa metana tetap ditemukan di perairan yang tidak sesuai dengan kondisi produksi konvensional.

Penelitian juga menyoroti hubungan erat antara proses ini dan perubahan iklim. Pemanasan global menyebabkan suhu laut meningkat dari permukaan ke bawah, yang memperbesar perbedaan kepadatan antara lapisan air. Kondisi ini memperlambat pencampuran vertikal yang biasanya membawa nutrisi dari kedalaman ke permukaan.

Hal ini mengakibatkan lapisan permukaan laut menjadi semakin kekurangan fosfat. Lingkungan seperti ini justru mendukung pertumbuhan mikroba penghasil metana. Model yang digunakan dalam penelitian menunjukkan bahwa kondisi tersebut dapat meningkatkan produksi metana di masa depan.

Peningkatan emisi metana dari laut berpotensi menciptakan mekanisme umpan balik. Laut yang lebih hangat mendorong produksi metana, sementara metana yang dilepaskan ke atmosfer memperkuat pemanasan global. Siklus ini dapat mempercepat laju perubahan iklim secara signifikan.

Selain itu, penelitian ini menyoroti bahwa proses penting seperti ini belum sepenuhnya dimasukkan dalam model iklim global. Banyak model saat ini belum mempertimbangkan interaksi kompleks antara perubahan lingkungan dan sumber alami gas rumah kaca, sehingga berpotensi meremehkan dampak sebenarnya.

Penemuan mekanisme produksi metana oleh mikroba di laut terbuka mengungkap sumber gas rumah kaca yang sebelumnya tersembunyi dan memiliki potensi besar dalam memperkuat perubahan iklim. Hubungan antara pemanasan laut, penurunan nutrisi, dan peningkatan aktivitas mikroba menunjukkan adanya umpan balik yang dapat mempercepat pemanasan global. Integrasi temuan ini ke dalam model iklim menjadi langkah penting untuk meningkatkan akurasi prediksi dan memahami dampak jangka panjang perubahan iklim.

Diolah dari artikel:
“Scientists discover hidden ocean methane source that could worsen global warming” oleh University of Rochester. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/04/260415043615.htm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *