3.100 Gletser “Unik” Ditemukan, Apa Bedanya?

Sumber ilustrasi: Pixabay
18 April 2026 16.20 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [18.04.2026] Selama ini diketahui bahwa bahwa sebagian besar gletser di dunia mengalami penyusutan akibat peningkatan suhu global. Namun demikian tidak semua gletser berperilaku demikian. Sejumlah kecil gletser menunjukkan pola yang tidak biasa, yaitu bergerak sangat cepat dalam waktu tertentu setelah periode panjang yang relatif tenang. Fenomena ini dikenal sebagai lonjakan gletser dan telah menjadi perhatian karena potensi bahayanya bagi lingkungan dan manusia.

Dalam sebuah studi global yang dipimpin oleh University of Portsmouth dan dipublikasikan di jurnal Nature Reviews Earth and Environment, para peneliti mengidentifikasi lebih dari 3.100 gletser lonjakan di seluruh dunia. Penelitian ini menunjukkan bahwa gletser-gletser tersebut tidak tersebar merata, melainkan terkonsentrasi di wilayah tertentu seperti Arktik, Asia Pegunungan Tinggi, dan Andes. Studi tersebut juga menyoroti bahwa meskipun jumlahnya hanya sekitar 1 persen dari total gletser global, cakupan areanya mencapai hampir seperlima dari luas gletser dunia, sehingga dampaknya menjadi sangat signifikan.

Analisis lebih lanjut mengungkap bahwa lonjakan terjadi ketika es yang biasanya bergerak lambat tiba-tiba mengalami percepatan. Selama fase ini, massa es terdorong dengan cepat menuju bagian depan gletser, sering kali menyebabkan pergerakan maju yang drastis. Proses ini dapat berlangsung selama beberapa tahun dan biasanya terjadi dalam siklus, dengan periode panjang tanpa aktivitas di antaranya. Para peneliti menggambarkan perilaku ini sebagai akumulasi es dalam jangka panjang yang kemudian dilepaskan secara cepat dalam waktu singkat.

Penelitian tersebut juga menyoroti berbagai risiko yang ditimbulkan oleh gletser lonjakan. Pergerakan es dapat merusak infrastruktur seperti jalan dan permukiman, sementara penyumbatan sungai dapat membentuk danau tidak stabil yang berpotensi menyebabkan banjir besar. Selain itu, pelepasan air dari bawah gletser dapat memicu banjir mendadak, sementara runtuhnya bagian gletser dapat menghasilkan longsoran es dan batu. Retakan besar yang terbentuk akibat pergerakan cepat juga meningkatkan bahaya bagi aktivitas manusia di wilayah tersebut, termasuk transportasi dan pariwisata.

Para ilmuwan mengidentifikasi 81 gletser yang memiliki tingkat ancaman tertinggi, dengan banyak di antaranya berada di Pegunungan Karakoram. Wilayah ini menjadi sangat rentan karena keberadaan lembah berpenghuni dan infrastruktur penting yang terletak tepat di bawah jalur gletser. Kombinasi antara ukuran gletser, kedekatan dengan manusia, serta kecenderungan mengalami lonjakan berulang menjadikan area ini sebagai salah satu titik risiko utama di dunia.

Penelitian ini juga mengungkap bahwa perubahan iklim tidak hanya memengaruhi penyusutan gletser, tetapi juga meningkatkan ketidakpastian perilaku lonjakan. Bukti yang dikumpulkan menunjukkan bahwa faktor seperti curah hujan ekstrem dan suhu yang sangat tinggi dapat memicu lonjakan lebih cepat dari perkiraan. Di beberapa wilayah, frekuensi lonjakan meningkat, sementara di tempat lain justru menurun akibat penipisan es yang ekstrem.

Perubahan pola geografis juga menjadi perhatian penting. Gletser lonjakan saat ini banyak ditemukan di wilayah dingin seperti Arktik dan Asia Pegunungan Tinggi, tetapi pemanasan global berpotensi menggeser distribusi tersebut. Beberapa wilayah seperti Islandia diperkirakan akan mengalami penurunan aktivitas lonjakan, sementara daerah lain seperti Arktik Kanada dan Rusia justru berpotensi mengalami peningkatan frekuensi. Bahkan terdapat kemungkinan munculnya gletser lonjakan di wilayah baru seperti Semenanjung Antartika.

Temuan ini menunjukkan bahwa pemahaman ilmiah tentang mekanisme lonjakan gletser masih terus berkembang. Di saat yang sama, perubahan iklim terus mengubah kondisi dasar yang memengaruhi perilaku gletser, sehingga prediksi menjadi semakin kompleks. Kondisi ini menuntut peningkatan pemantauan melalui satelit, observasi lapangan yang lebih detail, serta pengembangan model prediksi yang lebih akurat untuk mengantisipasi risiko di masa depan.

Penelitian ini menunjukkan bahwa gletser lonjakan merupakan fenomena langka tetapi memiliki dampak yang sangat besar, dengan lebih dari 3.100 gletser teridentifikasi dan puluhan di antaranya berisiko tinggi bagi manusia. Perubahan iklim memperumit pola kemunculan dan meningkatkan ketidakpastian, sementara potensi bahaya seperti banjir, longsoran, dan kerusakan infrastruktur menuntut upaya pemantauan dan mitigasi yang lebih serius di berbagai wilayah dunia.

Diolah dari artikel:
“Scientists warn of 3,100 “surging glaciers” that can trigger floods and avalanches” oleh University of Portsmouth. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link : https://www.sciencedaily.com/releases/2026/04/260416071958.htm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *