Thríhnúkagígur: Gunung Api dengan Ruang Magma Terbuka

Sumber ilustrasi: Unsplash
26 April 2026 08.25 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [26.04.2026] Gunung api merupakan suatu sistem geologi yang menyimpan magma di bawah permukaan bumi dan melepaskannya saat terjadi erupsi. Dalam kondisi normal, sisa magma yang tidak keluar akan mendingin dan mengeras yang menyebabkan ruang magma tetap terisi material padat. Ini membuat akses langsung ke ruang magma hampir tidak pernah ditemukan dalam kondisi alami.

Akan tetapi, terdapat sebuah fenomena unik ditemukan di Islandia. Gunung api Thríhnúkagígur yang terletak di dekat Reykjavík menghadirkan kondisi yang berbeda. Letusan terakhir sekitar 4.500 tahun lalu meninggalkan ruang magma kosong dengan dinding berwarna mencolok, mulai dari kuning hingga biru dan ungu, sehingga memungkinkan eksplorasi langsung ke dalam struktur internal gunung api.

Sejak tahun 2012, lokasi ini dibuka untuk pengunjung melalui lift kabel terbuka yang sebelumnya dibangun untuk penelitian ilmiah. Kedalaman ruang magma mencapai sekitar 210 meter, menjadikannya salah satu struktur vulkanik yang dapat diakses manusia secara langsung. Area dasar gua yang luas juga memungkinkan pengamatan lebih detail terhadap kondisi geologi di dalamnya.

Fenomena ini menjadi penting dalam kajian vulkanologi karena memberikan kesempatan langka untuk memahami bagaimana sistem internal gunung api bekerja. Selama ini, sebagian besar pengetahuan mengenai ruang magma hanya didasarkan pada model dan interpretasi tidak langsung.

Keberadaan ruang magma kosong di Thríhnúkagígur menimbulkan pertanyaan besar dalam dunia ilmiah. Ruang magma umumnya tidak pernah benar-benar kosong setelah erupsi. Pada kasus ini, magma yang seharusnya tersisa justru tidak ditemukan.

Haraldur Sigurdsson menjelaskan bahwa fenomena tersebut menyerupai kondisi di mana magma seolah mengalir kembali ke dalam kerak bumi, meninggalkan rongga kosong. Penjelasan ini masih bersifat hipotesis dan memerlukan penelitian lanjutan untuk memastikan mekanisme yang sebenarnya terjadi.

Warna-warna yang terlihat di dalam ruang magma juga menjadi fokus penelitian. Para ilmuwan menduga bahwa kombinasi mikroorganisme, gas kaya sulfur, serta batuan yang runtuh dari dinding gua berkontribusi terhadap variasi warna tersebut. Keberadaan mikroba di lingkungan ekstrem seperti ini membuka peluang studi baru mengenai kehidupan di kondisi yang tidak biasa.

Pengamatan juga menunjukkan adanya uap yang muncul dari beberapa bagian ruang magma. Akan tetapi fenomena ini bukan berasal dari aktivitas vulkanik, melainkan dari air yang menetes ke lampu penerangan di dalam gua. Kondisi ini menegaskan bahwa gunung api tersebut berada dalam keadaan tidak aktif.

Struktur Thríhnúkagígur terdiri dari tiga puncak yang tersusun sejajar. Masing-masing puncak memiliki ketinggian sekitar 35 meter dengan jarak sekitar 200 meter. Puncak termuda terbentuk sekitar 4.500 tahun lalu, sementara puncak tertua berusia hingga 50.000 tahun dan terbentuk saat wilayah tersebut masih tertutup es.

Batuan di puncak tertua menunjukkan karakteristik hyaloclastite, yaitu batuan vulkanik yang terbentuk akibat interaksi antara lava dan air atau es. Temuan ini memberikan gambaran tentang kondisi lingkungan pada masa lalu serta proses geologi yang membentuk wilayah tersebut.

Lokasi gunung api ini berada di punggungan tengah Atlantik, yaitu zona pertemuan lempeng tektonik Eurasia dan Amerika Utara yang saling menjauh. Meskipun berada di kawasan aktif secara tektonik, para peneliti menilai kemungkinan erupsi dalam waktu dekat relatif kecil.

Fenomena ini tidak hanya menarik bagi pariwisata, tetapi juga memiliki nilai ilmiah tinggi karena memungkinkan pengamatan langsung terhadap struktur internal gunung api yang sebelumnya sulit dijangkau.

Keberadaan ruang magma terbuka di Thríhnúkagígur menjadi fenomena geologi langka yang menantang pemahaman konvensional tentang sistem vulkanik. Kondisi ini memberikan peluang unik bagi penelitian ilmiah sekaligus membuka wawasan baru mengenai dinamika magma, interaksi geologi, dan kemungkinan kehidupan mikroba di lingkungan ekstrem.

Diolah dari artikel:
“Thríhnúkagígur: The only volcano on Earth where you can descend into a magma chamber” oleh Sascha Pare. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.livescience.com/planet-earth/geology/thrihnukagigur-the-only-volcano-on-earth-where-you-can-descend-into-a-magma-chamber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *