Sumber ilustrasi: Pixabay
26 April 2026 08.55 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [26.04.2026] Tahukah anda bahwa pada zaman purbakala, serangga-serangga memiliki ukuran raksasa? Keadaan ini telah lama diteliti para ilmuwan, dengan teori yang paling banyak diterima selama beberapa decade ini adalah bahwa kadar oksigen atmosfer yang jauh lebih tinggi pada masa lalu menjadi faktor utama yang memungkinkan ukuran tersebut. Sekitar 300 juta tahun lalu ketika Bumi masih didominasi superkontinen Pangaea, kadar oksigen disebut mencapai puncaknya dan menciptakan kondisi lingkungan yang berbeda dari saat ini.
Pada masa tersebut, kehidupan berkembang pesat di berbagai ekosistem. Hutan rawa luas terbentang di wilayah khatulistiwa, lautan dipenuhi ikan, dan daratan dihuni amfibi serta reptil awal. Di udara, serangga mendominasi, termasuk spesies raksasa seperti capung purba yang memiliki rentang sayap hingga 70 cm. Fosil serangga ini pertama kali ditemukan di Kansas dan sering disebut sebagai “griffinflies.”
Teori oksigen muncul karena sistem pernapasan serangga yang unik. Tidak seperti vertebrata, serangga tidak memiliki paru-paru, melainkan menggunakan jaringan tabung yang disebut tracheal system untuk mengalirkan oksigen langsung ke jaringan tubuh. Proses difusi dalam sistem ini dianggap membatasi ukuran tubuh, sehingga hanya kadar oksigen tinggi yang diyakini mampu mendukung serangga berukuran besar.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature pada tahun 1995 memperkuat pandangan tersebut dengan mengaitkan puncak kadar oksigen dengan kemunculan serangga raksasa. Sejak saat itu, teori ini menjadi penjelasan utama dalam dunia paleobiologi.
Studi terbaru yang juga dipublikasikan di Nature menghadirkan perspektif baru yang menantang asumsi lama tersebut. Penelitian yang dipimpin oleh Edward (Ned) Snelling menggunakan mikroskop elektron untuk menganalisis hubungan antara ukuran tubuh serangga dan jumlah struktur trakeol pada otot terbang.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa trakeol hanya menempati sekitar 1% atau bahkan kurang dari volume otot terbang pada sebagian besar serangga. Bahkan ketika perhitungan ini diterapkan pada serangga raksasa purba, proporsi tersebut tetap kecil. Temuan ini mengindikasikan bahwa kapasitas sistem pernapasan serangga masih memiliki ruang untuk berkembang tanpa hambatan signifikan.
Edward (Ned) Snelling menjelaskan bahwa jika oksigen benar-benar menjadi faktor pembatas utama ukuran tubuh serangga, maka seharusnya terdapat peningkatan signifikan pada jumlah trakeol sebagai bentuk kompensasi. Snelling menambahkan bahwa peningkatan tersebut memang ada pada serangga berukuran besar, tetapi skalanya sangat kecil sehingga tidak cukup untuk mendukung teori lama.
Pendapat ini diperkuat oleh Roger Seymour yang membandingkan sistem pernapasan serangga dengan vertebrata. Roger Seymour menyampaikan bahwa kapiler pada otot jantung burung dan mamalia menempati ruang sekitar sepuluh kali lebih besar dibandingkan trakeol pada otot terbang serangga. Perbandingan ini menunjukkan bahwa secara evolusioner, serangga masih memiliki potensi besar untuk meningkatkan kapasitas distribusi oksigen jika memang diperlukan.
Meski demikian, tidak semua ilmuwan sepakat untuk sepenuhnya meninggalkan peran oksigen. Beberapa peneliti menilai bahwa oksigen mungkin tetap berpengaruh pada tahap awal distribusi dalam tubuh atau pada jaringan lain selain otot terbang. Dengan demikian, peran oksigen belum sepenuhnya dieliminasi, tetapi tidak lagi dianggap sebagai faktor utama.
Temuan ini membuka kembali misteri lama mengenai alasan sebenarnya di balik ukuran raksasa serangga purba. Para peneliti mulai mempertimbangkan faktor lain seperti tekanan predator dari hewan vertebrata, perubahan lingkungan, hingga batas mekanis dari eksoskeleton serangga yang mungkin membatasi pertumbuhan ukuran tubuh.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kadar oksigen tinggi bukanlah faktor utama yang memungkinkan serangga purba tumbuh hingga ukuran raksasa, karena sistem pernapasan mereka ternyata memiliki kapasitas yang lebih fleksibel dari yang sebelumnya diperkirakan. Temuan ini menggeser fokus penelitian ke faktor lain seperti interaksi ekologis dan batas fisik tubuh, sekaligus menegaskan bahwa penyebab kemunculan dan punahnya serangga raksasa masih menjadi teka-teki ilmiah yang belum terpecahkan.
Diolah dari artikel:
“Giant prehistoric insects didn’t need high oxygen after all, study finds” oleh Arizona State University. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/04/260424233208.htm