Sumber ilustrasi: Wikimedia Commons
26 April 2026 09.05 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [26.04.2026] Salah satu kekhawatiran para ilmuwan iklim dunia adalah sistem arus laut global dikarenakan peran besar dalam mengatur iklim Bumi. Salah satu sistem paling penting adalah Atlantic Meridional Overturning Circulation (AMOC), yang berfungsi seperti sabuk konveyor raksasa yang mengalirkan air hangat dan dingin di Samudra Atlantik. Banyak penelitian menunjukkan bahwa sistem ini semakin melemah akibat perubahan iklim. Jika sistem ini runtuh, dampaknya dapat mengubah pola cuaca global secara drastis, terutama di Eropa, Afrika, dan Amerika.
Dalam upaya mencari solusi, para peneliti mulai mengeksplorasi pendekatan yang tidak biasa, termasuk rekayasa skala besar terhadap sistem laut. Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Science Advances mengusulkan ide ekstrem: membangun bendungan raksasa di Selat Bering, yang menghubungkan Alaska dan Rusia, untuk memutus aliran antara Samudra Pasifik dan Arktik. Gagasan ini dinilai berpotensi memperlambat atau bahkan mencegah keruntuhan AMOC dalam kondisi tertentu.
AMOC sendiri bekerja dengan membawa air hangat dan asin dari wilayah tropis ke arah utara. Air tersebut kemudian mendingin, menjadi lebih padat, dan tenggelam sebelum mengalir kembali ke selatan sebagai arus dingin. Proses ini membantu menjaga iklim Eropa tetap relatif hangat meskipun berada di lintang tinggi. Akan tetapi pemanasan global dapat mengganggu mekanisme ini karena suhu naik yang menghangatkan air sehingga sulit tenggelam, atau dengan menambahkan air tawar dari pencairan es yang mengurangi kadar garam.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa AMOC berpotensi melemah hingga 43% hingga 59% pada tahun 2100, angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan prediksi sebelumnya. Jelle Soons dari Utrecht University menjelaskan bahwa bukti yang ada mengarah pada kemungkinan keruntuhan, meskipun tingkat ketidakpastian masih cukup besar. Kondisi ini mendorong para ilmuwan untuk mempertimbangkan solusi yang sebelumnya dianggap tidak realistis.
Dalam studi tersebut, Soons bersama Henk Dijkstra memodelkan dampak jika Selat Bering ditutup. Untuk menutup jalur selebar 82 kilometer tersebut, diperlukan tiga bendungan besar karena adanya dua pulau di tengah selat. Bendungan terpanjang diperkirakan mencapai panjang sekitar 38 kilometer.
Hasil simulasi menunjukkan bahwa dalam kondisi tertentu, terutama ketika emisi karbon dioksida masih relatif rendah dan pelemahan AMOC belum terlalu parah, penutupan Selat Bering dapat memperkuat sistem arus tersebut. Dengan demikian, AMOC dapat tetap berfungsi meskipun tekanan akibat perubahan iklim terus meningkat.
Hasil penelitian juga menunjukkan sisi sebaliknya. Jika AMOC sudah berada dalam kondisi sangat lemah, penutupan Selat Bering justru dapat mempercepat keruntuhannya. Jonathan Baker dari UK Met Office menilai bahwa solusi ini tidak bersifat sederhana dan hanya efektif dalam kondisi tertentu. Aixue Hu dari National Center for Atmospheric Research juga menekankan bahwa efeknya sangat bergantung pada kondisi awal sistem dan tingkat emisi karbon dioksida.
Dari sisi teknis, pembangunan bendungan ini dianggap memungkinkan karena ukuran dan kedalamannya tidak jauh berbeda dengan proyek bendungan besar yang sudah ada, seperti Afsluitdijk di Belanda atau Saemangeum Seawall di Korea Selatan. Namun, lokasi Selat Bering jauh lebih menantang karena kondisi lingkungan yang ekstrem, arus laut yang kuat, serta keberadaan es laut.
Selain tantangan teknis, dampak ekologis dan sosial juga menjadi perhatian besar. Penutupan Selat Bering dapat mengganggu pertukaran air, panas, nutrisi, dan organisme laut antara Samudra Pasifik dan Arktik. Perubahan ini berpotensi merusak ekosistem laut, memengaruhi industri perikanan, jalur pelayaran, serta kehidupan masyarakat adat yang bergantung pada wilayah tersebut. Jonathan Baker menjelaskan bahwa intervensi skala besar seperti ini dapat menimbulkan konsekuensi yang belum sepenuhnya dipahami.
Para peneliti sepakat bahwa studi lanjutan masih diperlukan untuk memahami dampak jangka panjang dari skenario ini. Meskipun ide pembangunan bendungan terdengar menarik sebagai solusi darurat, pendekatan ini tidak mengatasi akar masalah utama, yaitu peningkatan emisi gas rumah kaca. Jonathan Baker menegaskan bahwa cara paling efektif untuk mengurangi risiko keruntuhan AMOC tetap dengan menurunkan emisi secara global.
Penelitian ini menunjukkan bahwa pembangunan bendungan di Selat Bering berpotensi memperlambat keruntuhan AMOC dalam kondisi tertentu, tetapi juga dapat memperburuk situasi jika sistem sudah terlalu lemah. Selain menghadapi tantangan teknis yang besar, proyek ini juga membawa risiko serius terhadap ekosistem dan masyarakat di sekitarnya, sehingga pengurangan emisi gas rumah kaca tetap menjadi solusi paling andal dalam menjaga stabilitas iklim global.
Diolah dari artikel:
“Building a massive dam between Alaska and Russia could prevent AMOC collapse, scientists say” oleh Chris Simms. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.