Stres dan Makan Larut Malam Picu Gangguan Usus?

Sumber ilustrasi: Pixabay
2 Mei 2026 10.35 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [02.05.2026] Stres kronis diketahui dapat mengganggu sistem pencernaan serta memicu gejala seperti diare dan sembelit. Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian ilmiah juga mulai tertuju pada waktu makan sebagai faktor penting dalam kesehatan metabolik dan pencernaan. Konsep yang dikenal sebagai chrononutrition menekankan bahwa bukan hanya apa yang dimakan, tetapi juga kapan makanan dikonsumsi dapat memengaruhi fungsi tubuh. Terdapat sebuah penelitian terbaru mencoba mengungkap bagaimana kombinasi stres dan kebiasaan makan larut malam memengaruhi kesehatan usus.

Studi yang akan dipresentasikan dalam Digestive Disease Week (DDW) 2026 menunjukkan bahwa kombinasi stres tinggi dan konsumsi makanan pada malam hari dapat memperburuk gangguan pencernaan. Harika Dadigiri dari New York Medical College menjelaskan bahwa waktu makan memiliki peran penting dalam kondisi stres, dan kombinasi keduanya dapat memberikan tekanan ganda terhadap kesehatan usus.

Para peneliti menganalisis data dari lebih dari 11.000 peserta dalam National Health and Nutrition Examination Survey. Penelitian ini mengevaluasi keterkaitan antara stres kronis, kebiasaan makan larut malam, serta gangguan buang air besar. Hasilnya menunjukkan bahwa individu dengan tingkat stres tinggi lebih rentan mengalami masalah pencernaan dibandingkan dengan mereka yang memiliki tingkat stres lebih rendah.

Selain itu, individu yang mengonsumsi lebih dari 25% kalori harian setelah pukul 21.00 memiliki risiko 1,7 kali lebih tinggi mengalami sembelit atau diare. Risiko tersebut meningkat ketika stres kronis juga hadir, menunjukkan adanya interaksi antara faktor psikologis dan pola makan dalam memengaruhi kesehatan pencernaan.

Analisis lanjutan menggunakan data dari lebih dari 4.000 peserta dalam American Gut Project memperkuat temuan tersebut. Individu dengan kombinasi stres tinggi dan kebiasaan makan larut malam memiliki kemungkinan 2,5 kali lebih besar mengalami gangguan pencernaan. Selain itu, kelompok ini menunjukkan penurunan keberagaman mikrobioma usus, yang merupakan indikator penting kesehatan sistem pencernaan.

Penurunan keberagaman mikrobioma ini mengindikasikan adanya gangguan pada sumbu usus-otak, yaitu jaringan kompleks yang menghubungkan otak, hormon, sistem saraf, dan mikroorganisme di usus. Dalam kondisi tertentu, stres dan pola makan yang tidak teratur dapat mengganggu keseimbangan sistem ini, sehingga memengaruhi fungsi pencernaan secara keseluruhan.

Meskipun penelitian ini bersifat observasional dan belum dapat memastikan hubungan sebab-akibat, hasilnya memperkuat peran chrononutrition dalam ilmu kesehatan. Para peneliti menilai bahwa waktu makan merupakan variabel penting yang perlu diperhitungkan dalam memahami interaksi antara gaya hidup dan kesehatan usus.

Harika Dadigiri juga menyoroti bahwa kebiasaan makan larut malam sering terjadi, terutama setelah hari yang panjang dan penuh tekanan. Menurut penjelasan Dadigiri, menjaga pola makan yang lebih teratur dan konsisten dapat membantu memperbaiki ritme biologis tubuh serta mendukung fungsi pencernaan dalam jangka panjang.

Penelitian ini menunjukkan bahwa kesehatan usus tidak hanya dipengaruhi oleh jenis makanan atau tingkat stres secara terpisah, tetapi juga oleh interaksi keduanya dengan waktu makan. Kombinasi stres kronis dan kebiasaan makan larut malam berpotensi meningkatkan risiko gangguan pencernaan sekaligus mengurangi keberagaman mikrobioma usus. Temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan yang lebih holistik dalam menjaga kesehatan, dengan memperhatikan pola makan, waktu konsumsi, dan kondisi psikologis secara bersamaan.

Diolah dari artikel:
“Your gut takes a “double hit” from stress and late-night eating” oleh Digestive Disease Week. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/04/260429102026.htm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *