Apakah Cara Mengolah Kentang Memengaruhi Risiko Diabetes?

Sumber ilustrasi: Pixabay
05 Juni 2026 15.55 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [05.06.2026] Kentang telah lama menjadi salah satu bahan pangan pokok yang dikonsumsi di berbagai belahan dunia. Selain mengandung karbohidrat, kentang juga menyediakan sejumlah nutrisi penting seperti serat, vitamin C, dan magnesium. Meskipun demikian, kandungan pati yang tinggi serta indeks glikemik yang relatif besar membuat kentang kerap dikaitkan dengan peningkatan kadar gula darah dan risiko diabetes tipe 2. Berbagai penelitian sebelumnya telah menemukan hubungan antara konsumsi kentang dan diabetes, tetapi hasil yang diperoleh tidak selalu konsisten. Sebagian penelitian menemukan adanya peningkatan risiko, sementara penelitian lainnya tidak menemukan hubungan yang kuat. Perbedaan tersebut mendorong para peneliti untuk melihat lebih jauh apakah cara pengolahan kentang dan jenis makanan penggantinya turut memengaruhi dampaknya terhadap kesehatan.

Dalam studi terbaru yang dipublikasikan di The BMJ, para peneliti mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan membedakan berbagai jenis olahan kentang. Penelitian juga mengevaluasi bagaimana perubahan pola makan, khususnya penggantian kentang dengan sumber karbohidrat lain seperti biji-bijian utuh atau nasi putih, memengaruhi risiko diabetes tipe 2.

Penelitian tersebut memanfaatkan data lebih dari 205.000 tenaga kesehatan di Amerika Serikat yang berpartisipasi dalam tiga studi jangka panjang antara tahun 1984 hingga 2021. Pada awal penelitian, seluruh peserta tidak memiliki riwayat diabetes, penyakit jantung, maupun kanker. Para peserta mengisi kuesioner pola makan secara rinci setiap empat tahun, sehingga para peneliti dapat mengikuti perubahan kebiasaan makan dalam jangka panjang.

Selama hampir empat dekade masa pengamatan, sebanyak 22.299 peserta mengalami diabetes tipe 2. Setelah memperhitungkan berbagai faktor gaya hidup dan pola makan yang dapat memengaruhi risiko penyakit tersebut, para peneliti menemukan bahwa setiap tambahan tiga porsi kentang per minggu secara keseluruhan dikaitkan dengan peningkatan angka kejadian diabetes tipe 2 sebesar 5 persen.

Hubungan yang paling mencolok ditemukan pada kentang goreng. Konsumsi tiga porsi kentang goreng setiap minggu dikaitkan dengan peningkatan angka kejadian diabetes tipe 2 sebesar 20 persen. Sebaliknya, konsumsi kentang yang direbus, dipanggang, atau dihaluskan dalam jumlah yang sama tidak menunjukkan peningkatan risiko yang signifikan secara statistik.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa cara pengolahan kentang memiliki pengaruh yang besar terhadap hubungan antara konsumsi kentang dan diabetes. Kentang goreng tampaknya memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan olahan kentang lainnya, sehingga tidak tepat jika seluruh jenis olahan kentang diperlakukan sebagai satu kategori yang sama.

Para peneliti juga menganalisis dampak dari mengganti kentang dengan makanan lain. Ketika tiga porsi kentang per minggu digantikan dengan biji-bijian utuh, angka kejadian diabetes tipe 2 ditemukan lebih rendah sebesar 8 persen. Penggantian kentang rebus, panggang, atau tumbuk dengan biji-bijian utuh dikaitkan dengan penurunan sebesar 4 persen.

Hasil yang lebih besar terlihat pada kentang goreng. Menggantikan tiga porsi kentang goreng per minggu dengan biji-bijian utuh dikaitkan dengan penurunan angka kejadian diabetes tipe 2 sebesar 19 persen. Temuan tersebut menunjukkan bahwa bukan hanya makanan yang dikurangi yang penting, tetapi juga makanan apa yang digunakan sebagai penggantinya.

Sebaliknya, hasil yang berbeda ditemukan ketika kentang digantikan dengan nasi putih. Mengganti konsumsi kentang secara keseluruhan maupun kentang rebus, panggang, dan tumbuk dengan nasi putih justru dikaitkan dengan angka kejadian diabetes tipe 2 yang lebih tinggi.

Para peneliti menekankan bahwa penelitian ini bersifat observasional sehingga tidak dapat membuktikan bahwa kentang goreng secara langsung menyebabkan diabetes. Faktor-faktor lain yang tidak diukur dalam penelitian kemungkinan juga turut berkontribusi terhadap hasil yang diperoleh.

Karakteristik peserta penelitian juga menjadi salah satu keterbatasan. Sebagian besar peserta merupakan tenaga kesehatan keturunan Eropa, sehingga hasil penelitian mungkin tidak dapat diterapkan secara sama pada seluruh populasi dunia yang memiliki latar belakang genetik dan kebiasaan makan yang berbeda.

Dalam laporan penelitian, para peneliti menjelaskan bahwa hubungan antara konsumsi kentang dan risiko diabetes tipe 2 sangat bergantung pada jenis makanan yang digunakan sebagai penggantinya. Para peneliti juga menyatakan bahwa hasil tersebut sejalan dengan rekomendasi pola makan saat ini yang mendorong konsumsi biji-bijian utuh sebagai bagian dari pola makan sehat untuk mencegah diabetes tipe 2.

Sebuah editorial yang menyertai publikasi penelitian tersebut juga menyoroti pentingnya membedakan berbagai jenis olahan kentang. Para penulis editorial berpendapat bahwa metode pengolahan dan pilihan makanan pengganti merupakan faktor penting yang harus diperhatikan dalam menyusun rekomendasi gizi maupun kebijakan kesehatan masyarakat.

Menurut para penulis editorial, kentang rebus, panggang, dan tumbuk masih dapat menjadi bagian dari pola makan yang sehat dan berkelanjutan karena nilai gizinya yang baik serta dampak lingkungan yang relatif rendah. Meskipun demikian, biji-bijian utuh tetap dianggap sebagai pilihan yang lebih diutamakan dalam upaya mengurangi risiko diabetes tipe 2.

Para penulis editorial juga menyerukan perlunya penelitian lanjutan yang melibatkan populasi yang lebih beragam. Penelitian di masa depan diharapkan dapat terus mengevaluasi pengaruh metode memasak serta dampak penggantian jenis makanan terhadap kesehatan.

Temuan terbaru menunjukkan bahwa hubungan antara kentang dan diabetes tipe 2 tidak hanya bergantung pada jumlah kentang yang dikonsumsi, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh cara pengolahannya dan jenis makanan yang menggantikannya. Kentang goreng menunjukkan hubungan yang lebih kuat dengan peningkatan risiko diabetes, sedangkan kentang yang direbus, dipanggang, atau dihaluskan tidak menunjukkan peningkatan risiko yang signifikan. Penggantian kentang dengan biji-bijian utuh juga dikaitkan dengan penurunan risiko diabetes tipe 2, sehingga kualitas keseluruhan pola makan tampaknya memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan metabolik.

Diolah dari artikel:
“Scientists discovered something surprising about french fries and diabetes” oleh BMJ Group. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/06/260603015218.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *