Laki-Laki Lebih Sering Menambahkan Garam pada Makanan Mereka?

Sumber ilustrasi: Unsplash
05 Juni 2026 12.55 WIB – Sains & Technology
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [05.06.2026] Siapa yang tidak mengenal garam? Garam telah digunakan manusia selama ribuan tahun sebagai penyedap sekaligus pengawet makanan. Meskipun menjadi bagian penting dari pola makan di berbagai belahan dunia, konsumsi garam berlebihan diketahui dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, penyakit jantung, penyakit ginjal, bahkan mempercepat penurunan fungsi kognitif. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan agar orang dewasa tidak mengonsumsi lebih dari lima gram garam per hari untuk mengurangi berbagai risiko kesehatan tersebut.

Sebagian besar asupan garam manusia berasal dari makanan olahan dan makanan siap saji. Akan tetapi, kebiasaan menambahkan garam langsung di meja makan masih menyumbang sekitar 6 hingga 20 persen dari total konsumsi garam harian. Para ilmuwan telah mengetahui bahwa kebiasaan tersebut berbeda pada berbagai kelompok masyarakat, namun faktor-faktor yang memengaruhinya dalam berbagai konteks budaya masih belum sepenuhnya dipahami.

Dalam sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di Frontiers in Public Health, para peneliti mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan mempelajari kelompok lansia di Brasil. Penelitian melibatkan lebih dari 8.300 orang berusia 60 tahun ke atas untuk mengetahui siapa yang paling sering menambahkan garam ekstra pada makanan mereka.

Penulis pertama penelitian, Dr. Flávia Brito dari Rio de Janeiro State University, menjelaskan bahwa kebiasaan menambahkan garam di meja makan masih cukup umum ditemukan pada lansia Brasil dan lebih sering dilakukan oleh laki-laki dibandingkan perempuan. Rekan penulis Dr. Débora Santos dari universitas yang sama menambahkan bahwa perilaku perempuan dalam menambahkan garam berkaitan dengan lebih banyak karakteristik sosial dan pola makan dibandingkan laki-laki.

Para peneliti menganalisis data survei yang dikumpulkan antara tahun 2016 hingga 2017. Para peserta melaporkan seluruh makanan dan minuman yang dikonsumsi selama 24 jam sebelumnya serta menjawab apakah mereka secara rutin menambahkan garam pada makanan saat berada di meja makan.

Selain itu, para peneliti juga mengevaluasi berbagai faktor yang berpotensi memengaruhi kebiasaan tersebut. Faktor-faktor yang ditinjau meliputi jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, pendapatan rumah tangga, kondisi tempat tinggal, lokasi tempat tinggal di wilayah perkotaan atau pedesaan, serta kebiasaan mengonsumsi buah, sayuran, dan makanan ultra-proses.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 12,7 persen laki-laki melaporkan kebiasaan menambahkan garam ekstra pada makanan mereka. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan perempuan yang hanya mencapai 9,4 persen. Meskipun demikian, faktor yang berkaitan dengan perilaku tersebut ternyata berbeda secara nyata antara laki-laki dan perempuan.

Dr. Flávia Brito mengungkapkan bahwa hanya sedikit variabel yang berkaitan dengan kebiasaan menambahkan garam pada kelompok laki-laki. Temuan tersebut menunjukkan bahwa perilaku tersebut kemungkinan tidak terlalu berhubungan dengan pola makan tertentu.

Sebaliknya, Dr. Débora Santos menjelaskan bahwa perilaku perempuan dalam menambahkan garam tampak lebih erat berkaitan dengan pola makan secara keseluruhan dan berbagai karakteristik lingkungan di sekitarnya.

Pada kelompok laki-laki, hanya dua faktor yang memiliki hubungan signifikan dengan kebiasaan tersebut. Laki-laki yang menjalani diet khusus untuk mengendalikan tekanan darah tinggi memiliki kemungkinan kurang dari separuh untuk menambahkan garam dibandingkan mereka yang tidak menjalani diet serupa. Sementara itu, laki-laki yang tinggal sendiri memiliki kemungkinan 62 persen lebih tinggi untuk menambahkan garam dibandingkan mereka yang tinggal bersama orang lain.

Pola yang lebih kompleks ditemukan pada kelompok perempuan. Perempuan yang tidak menjalani diet untuk mengontrol tekanan darah tinggi memiliki peluang 68 persen lebih besar untuk menambahkan garam ekstra. Perempuan yang tinggal di wilayah perkotaan memiliki kemungkinan dua kali lebih tinggi untuk melakukan kebiasaan tersebut. Peningkatan serupa juga ditemukan pada perempuan yang sering mengonsumsi makanan ultra-proses.

Sebaliknya, perempuan yang rutin mengonsumsi buah-buahan memiliki kemungkinan 81 persen lebih rendah untuk menambahkan garam pada makanan. Sementara itu, perempuan yang terbiasa mengonsumsi sayuran memiliki kemungkinan 40 persen lebih rendah untuk melakukan kebiasaan serupa. Para peneliti menilai bahwa temuan tersebut mungkin mencerminkan perhatian yang lebih besar terhadap kualitas pola makan secara keseluruhan, termasuk upaya membatasi konsumsi garam.

Penelitian tersebut tidak dirancang untuk membuktikan hubungan sebab-akibat. Para peneliti mengingatkan bahwa seluruh informasi diperoleh melalui laporan dari para peserta sehingga kemungkinan terdapat ketidakakuratan pada sebagian jawaban. Selain itu, pola penggunaan garam dapat saja berubah sejak survei dilakukan beberapa tahun lalu.

Menurut tim peneliti, preferensi terhadap rasa dan kebiasaan yang telah berlangsung lama kemungkinan menjadi pendorong utama seseorang menambahkan garam. Konsumsi makanan dengan kandungan natrium tinggi secara terus-menerus dapat mengurangi sensitivitas terhadap rasa asin sehingga sebagian orang lebih menyukai makanan dengan tingkat keasinan yang lebih kuat. Dalam banyak kasus, kebiasaan tersebut juga dapat muncul hanya karena rutinitas sehari-hari.

Para peneliti menekankan bahwa upaya mengurangi konsumsi garam secara keseluruhan memerlukan langkah yang lebih luas daripada sekadar perubahan perilaku individu. Penurunan kadar natrium pada makanan industri dan makanan ultra-proses dinilai penting karena kedua jenis makanan tersebut menjadi penyumbang utama konsumsi garam berlebihan.

Para peneliti juga menilai bahwa kampanye kesehatan masyarakat sebaiknya disesuaikan dengan karakteristik kelompok tertentu, termasuk perbedaan jenis kelamin dan gaya hidup. Pendekatan yang lebih spesifik dinilai dapat meningkatkan efektivitas upaya pengurangan konsumsi garam.

Dr. Débora Santos menjelaskan bahwa penggunaan rempah-rempah dan bumbu alami sebagai pengganti garam, maupun teknik memasak yang memanfaatkan keasaman buah sitrus, dapat membantu mengurangi penggunaan garam tambahan tanpa mengurangi cita rasa makanan. Dr. Débora Santos juga menambahkan bahwa langkah sederhana seperti tidak meletakkan wadah garam secara rutin di atas meja makan dapat membantu mengurangi kebiasaan tersebut.

Temuan terbaru menunjukkan bahwa kebiasaan menambahkan garam di meja makan masih cukup umum di kalangan lansia Brasil dan lebih sering dilakukan oleh laki-laki. Penelitian juga mengungkap bahwa faktor yang memengaruhi kebiasaan tersebut berbeda antara laki-laki dan perempuan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa upaya mengurangi konsumsi garam berlebihan dapat dilakukan melalui pendekatan yang lebih spesifik sesuai karakteristik masing-masing kelompok masyarakat.

Diolah dari artikel:
“A study of 8,300 older adults revealed a surprising salt habit” oleh Frontiers. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/06/260604044304.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *