Sumber ilustrasi: Pixabay
16 April 2026 16.55 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [16.04.2026] Bumi secara alami terus melepaskan panas melalui atmosfer menuju luar angkasa. Proses pelepasan ini diamati melalui berbagai sumber tersebar di seluruh dunia. Namun demikian, dikarenakan berubahan iklim yang disebabkan berbagai bentuk tindakan manusia, proses pelepasan panas ini mengalami gangguan sedemikian sehingga bumi kini mengalami kenaikan suhu yang cukup drastis.
Kondisi ini menyebabkan perlu adanya pemahaman mekanisme alami yang digunakan makhluk hidup, dalam hal ini burung, dalam mengatur suhu tubuhnya. Dalam penelitian terbaru di bidang termodinamika burung mengungkap bahwa bulu burung tidak hanya berfungsi untuk terbang atau melindungi tubuh, tetapi juga berperan dalam mengatur suhu. Terry McGlynn, seorang ahli biologi dari California State University, Dominguez Hills yang turut menjadi penulis studi, menjelaskan bahwa bulu burung kemungkinan telah berevolusi untuk membantu membuang panas sebagai respons terhadap tekanan lingkungan.
Proses pelepasan panas ini terjadi melalui radiasi inframerah yang dapat menembus sebagian atmosfer, bukan melalui perpindahan langsung ke ruang angkasa. Mekanisme tersebut menjadi salah satu cara burung menjaga kestabilan suhu tubuh di berbagai kondisi iklim.
Penelitian yang dipublikasi di Integrative Organismal Biology ini dilakukan dengan menggunakan spesimen museum dari lima spesies burung yang berasal dari berbagai wilayah iklim di Amerika Utara. Sampel tersebut berasal dari Natural History Museum of Los Angeles County, tempat Allison Shultz bekerja sebagai kurator ornitologi sekaligus menjadi salah satu penulis penelitian. Setiap spesies diwakili oleh beberapa subspesies yang hidup di lingkungan berbeda, sehingga memberikan gambaran luas tentang adaptasi terhadap suhu.
Pengukuran dilakukan menggunakan spektrofotometer UV-Vis untuk mengetahui tingkat penyerapan cahaya pada spektrum ultraviolet hingga cahaya tampak. Dalam kajian ornitologi, warna pada spektrum ini berperan penting dalam kamuflase, komunikasi, serta pengaturan suhu. Akan tetapi radiasi panas berada pada spektrum inframerah yang tidak terlihat, sehingga memerlukan metode tambahan untuk dianalisis.
Para peneliti kemudian menggunakan teknik serupa yang biasa digunakan dalam astronomi untuk mengamati panjang gelombang inframerah. Penggunaan alat ini menghadapi tantangan tersendiri karena keterbatasan akses serta sensitivitas perangkat terhadap bahan biologis. Kolaborasi lintas disiplin menjadi kunci untuk mengatasi hambatan tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa burung yang hidup di daerah beriklim hangat cenderung memiliki tingkat penyerapan radiasi yang lebih rendah, terutama pada spektrum ultraviolet dan inframerah dekat. Adaptasi ini membantu mengurangi tekanan panas yang berlebihan. Selain itu, burung yang hidup di area terbuka seperti padang rumput memiliki kemampuan lebih baik dalam melepaskan panas dibandingkan burung yang hidup di hutan.
Burung puyuh bobwhite yang hidup di padang rumput tercatat memiliki tingkat emisi radiasi inframerah menengah yang tinggi. Kondisi lingkungan terbuka membuat burung tersebut lebih sering terpapar langit, sehingga pelepasan panas ke arah atmosfer menjadi lebih efektif. Lingkungan tanpa penutup seperti pepohonan menciptakan tekanan seleksi yang mendorong kemampuan pendinginan alami.
Temuan lain menunjukkan bahwa burung hantu memiliki karakteristik berbeda dibanding burung aktif di siang hari. Burung nokturnal tersebut menyerap lebih sedikit radiasi dan menunjukkan variasi reflektansi yang lebih besar. Kondisi ini diduga berkaitan dengan tekanan seleksi yang lebih longgar karena aktivitas malam hari.
Di sisi lain, gagak yang hidup di daerah hangat justru menunjukkan tingkat penyerapan radiasi yang lebih tinggi, meskipun sering berada di area terbuka. Warna bulu yang gelap menyerap lebih banyak energi matahari, tetapi panas tersebut cenderung tetap berada di permukaan bulu sehingga lebih mudah dilepaskan kembali ke lingkungan. Karakteristik ini juga dinilai menguntungkan bagi burung yang sering melakukan penerbangan cepat.
Beberapa spesies seperti bobwhite menunjukkan kombinasi adaptasi yang menarik. Burung tersebut mampu mempertahankan kamuflase dalam cahaya tampak sekaligus mengelola panas melalui pengaturan radiasi inframerah. Strategi ini memperlihatkan keseimbangan antara kebutuhan perlindungan visual dan efisiensi termal.
Temuan dalam penelitian ini juga memberikan wawasan penting bagi bidang rekayasa. Para insinyur melihat potensi besar dalam meniru mekanisme alami tersebut untuk menciptakan sistem pendinginan pasif yang lebih efisien. Adaptasi alami pada burung dianggap sebagai contoh optimal dari desain multifungsi yang berkembang melalui evolusi.
Penelitian ini menunjukkan bahwa bulu burung memiliki fungsi termal yang kompleks dan berperan dalam membantu pelepasan panas melalui radiasi inframerah. Adaptasi tersebut bervariasi tergantung lingkungan hidup dan memberikan keuntungan dalam menjaga kestabilan suhu tubuh. Temuan memperkaya pemahaman tentang biologi burung dan juga membuka peluang inovasi teknologi berbasis prinsip alami.
Diolah dari artikel:
“Bird Feathers May Shed Heat Into Space, Engineers Explain” oleh Ivan Farkas. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencealert.com/bird-feathers-may-shed-heat-into-space-engineers-explain