Kerusakan Hati Bisa Diketahui Melalui Tes Darah?

Sumber ilustrasi: Unsplash
23 April 2026 13.55 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [23.04.2026] Terdapat suatu tantangan yang sejak lama tengah dihadapi para ahli: bagaimana cara mendeteksi penyakit hati pada tahap awal? Pertanyaan ini menjadi penting dikarenakan gejala penyakit hati sering tidak terlihat hingga kondisinya sudah berkembang menjadi parah. Fibrosis hati, yang merupakan tahap awal pembentukan jaringan parut, diketahui dapat berkembang menjadi sirosis dan akhirnya kanker jika tidak ditangani. Metode yang ada saat ini, seperti tes fibrosis-4 (FIB-4), masih memiliki keterbatasan karena sulit mendeteksi kondisi pada tahap awal.

Dalam penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Science Translational Medicine, tim peneliti mengembangkan pendekatan baru berbasis tes darah untuk mengidentifikasi tanda-tanda awal fibrosis. Penelitian ini dipimpin oleh Dr. Victor Velculescu dari Johns Hopkins Kimmel Cancer Center, yang menekankan bahwa pendekatan terbaik untuk menangani kanker hati adalah dengan mendeteksi penyakit hati sejak dini, bukan menunggu hingga kanker terbentuk.

Penelitian tersebut memanfaatkan teknologi pembelajaran mesin untuk menganalisis DNA bebas sel yang beredar dalam darah. DNA ini merupakan fragmen kecil materi genetik yang dilepaskan saat sel mengalami regenerasi atau kematian. Dengan menganalisis pola dalam jutaan fragmen DNA tersebut, para peneliti menemukan penanda yang dapat membedakan individu dengan fibrosis tahap awal dari yang tidak memiliki penyakit hati.

Berbeda dengan metode sebelumnya yang berfokus pada mutasi spesifik, pendekatan ini menilai pola luas di seluruh genom. Akshaya Annapragada sebagai penulis utama studi menjelaskan bahwa metode ini memungkinkan deteksi perubahan yang terjadi di seluruh genom, sehingga peluang menemukan indikator penyakit menjadi lebih besar. Pendekatan tersebut juga dinilai lebih efisien karena hanya membutuhkan pengurutan genom satu hingga dua kali dibandingkan metode lama yang memerlukan proses berulang.

Dalam analisis terhadap ratusan sampel darah, peneliti mengidentifikasi beberapa indikator penting seperti panjang fragmen DNA, frekuensi pelepasan urutan DNA berulang, serta perubahan epigenetik yang memengaruhi aktivitas gen tanpa mengubah struktur dasar DNA. Berdasarkan temuan tersebut, tim kemudian mengembangkan model tes yang mampu mengenali pola-pola ini dalam darah.

Pengujian lanjutan pada 221 peserta menunjukkan bahwa tes ini mampu mendeteksi sekitar 50 persen kasus fibrosis tahap awal dan 78 persen kasus penyakit hati lanjut. Selain itu, tes tersebut berhasil mengidentifikasi individu tanpa penyakit dalam 83 persen kasus, meskipun masih terdapat kemungkinan hasil positif palsu.

Alain Thierry dari INSERM menilai bahwa penggunaan pembelajaran mesin dalam penelitian ini memberikan keunggulan karena memungkinkan analisis miliaran fragmen DNA secara bersamaan. Pendekatan tersebut membuka peluang baru dalam pengembangan metode diagnostik yang lebih cepat, murah, dan akurat dibandingkan teknik sebelumnya.

Meskipun hasil awal menunjukkan potensi besar, penelitian ini masih memerlukan uji klinis lebih lanjut untuk memastikan keakuratan dan keandalannya dalam mendeteksi fibrosis pada populasi yang lebih luas. Dr. Victor Velculescu juga menegaskan bahwa pengembangan metode ini bertujuan untuk menciptakan sistem skrining noninvasif yang dapat digunakan secara luas dalam mendeteksi berbagai penyakit sejak dini.

Kemajuan ini memberikan sebuah arah baru dalam dunia medis, di mana satu tes darah berpotensi digunakan untuk mendeteksi berbagai kondisi sebelum berkembang menjadi penyakit kronis atau tidak dapat disembuhkan.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa tes darah berbasis pembelajaran mesin memiliki potensi untuk mendeteksi fibrosis hati pada tahap awal melalui analisis DNA bebas sel, dengan tingkat akurasi yang cukup menjanjikan meskipun masih memerlukan validasi lebih lanjut. Pendekatan ini menawarkan peluang untuk diagnosis lebih dini, pengobatan lebih efektif, serta pencegahan perkembangan penyakit hati menjadi kanker melalui metode yang lebih efisien dan noninvasif.

Diolah dari artikel:
“New blood test aims to spot liver scarring before it paves the way to cancer” oleh Hanan Hammad. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.livescience.com/health/medicine-drugs/new-blood-test-aims-to-spot-liver-scarring-before-it-paves-the-way-to-cancer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *